roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Kamis, 4 Desember 2008 | 15:16 WIB
JAKARTA, KAMIS — Meskipun Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (4/12), diancam bom, mantan Presiden Abdurrahman Wahid menolak untuk dievakuasi. Wahid memilih untuk tetap di ruangannya untuk beristirahat.
Permintaan untuk mengosongkan Gedung PBNU datang dari petugas keamanan gedung sekitar pukul 14.00. Semua penghuni gedung pun keluar, bahkan di antaranya lari dengan terburu-buru. Saat ada pemberitahuan untuk keluar gedung, mantan Presiden Abdurrahman Wahid sedang berada di ruang kerjanya di lantai 1.
Petugas Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) yang biasa mendampingi Wahid pun menawarkan Wahid untuk dievakuasi juga keluar gedung. Namun, Wahid justru tak memedulikannya. "Jarke wae (biarkan saja)," tiru asisten media Wahid, Bambang Susanto.
Kini, Wahid memilih tidur di ruang kerjanya. Sementara itu, petugas Paspampres yang biasa mengawalnya juga turut mendampingi Wahid di dalam Gedung PBNU.
Gedung PBNU Diancam Bom
Kamis, 4 Desember 2008 | 14:40 WIB
Laporan Waratawan M Zaid Wahyudi
JAKARTA, KAMIS — Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (4/12), diancam bom. Ancaman datang melalui telepon di Kantor Lembaga Pelayanan Kesehatan (LPK) PBNU di lantai tujuh. Ancaman peledakan itu datang melalui seorang penelepon laki-laki sekitar pukul 13.30. Telpon diterima oleh dr Rahmi yang saat itu sedang bertugas.
Menurut Abdul Latif, anggota Tim Tanggap Darurat PBNU yang berada di Kantor LPK PBNU, semula penelepon mencari nama seorang perempuan. Karena tidak ada, ia mengancam akan meledakkan Gedung PBNU dengan bom. Penelepon tidak menyebutkan bom ada di mana, tetapi ia mengatakan, bom akan meledak 15 menit kemudian.
Karena khawatir, seluruh petugas yang ada di LPK PBNU, termasuk dokter dan perawat yang ada, langsung turun dan melapor kepada pihak keamanan gedung. Saat itu kebetulan tidak ada pasien yang datang berobat.
Sesaat sebelum ancaman datang, mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang berkantor di lantai 1 Gedung PBNU baru saja menerima kunjungan utusan Jimmy Carter Center. Mereka datang untuk berdiskusi tentang demokrasi dan pemilu di Indonesia.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pada pukul 14.00 semua pegawai dan orang yang ada di Gedung PBNU diminta untuk keluar dan berkumpul di halaman depan gedung.
Satpam gedung juga menyisir seluruh ruangan di gedung dengan delapan lantai itu untuk memastikan gedung benar-benar kosong. Hingga kini seluruh pegawai dan pengurus berbagai lembaga NU serta beberapa perusahaan yang berkantor di Gedung PBNU masih berkumpul di halaman depan. Petugas dari kepolisian juga mulai berdatangan untuk mengamankan gedung.
JAKARTA, KAMIS — Meskipun Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (4/12), diancam bom, mantan Presiden Abdurrahman Wahid menolak untuk dievakuasi. Wahid memilih untuk tetap di ruangannya untuk beristirahat.
Permintaan untuk mengosongkan Gedung PBNU datang dari petugas keamanan gedung sekitar pukul 14.00. Semua penghuni gedung pun keluar, bahkan di antaranya lari dengan terburu-buru. Saat ada pemberitahuan untuk keluar gedung, mantan Presiden Abdurrahman Wahid sedang berada di ruang kerjanya di lantai 1.
Petugas Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres) yang biasa mendampingi Wahid pun menawarkan Wahid untuk dievakuasi juga keluar gedung. Namun, Wahid justru tak memedulikannya. "Jarke wae (biarkan saja)," tiru asisten media Wahid, Bambang Susanto.
Kini, Wahid memilih tidur di ruang kerjanya. Sementara itu, petugas Paspampres yang biasa mengawalnya juga turut mendampingi Wahid di dalam Gedung PBNU.
Gedung PBNU Diancam Bom
Kamis, 4 Desember 2008 | 14:40 WIB
Laporan Waratawan M Zaid Wahyudi
JAKARTA, KAMIS — Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Kamis (4/12), diancam bom. Ancaman datang melalui telepon di Kantor Lembaga Pelayanan Kesehatan (LPK) PBNU di lantai tujuh. Ancaman peledakan itu datang melalui seorang penelepon laki-laki sekitar pukul 13.30. Telpon diterima oleh dr Rahmi yang saat itu sedang bertugas.
Menurut Abdul Latif, anggota Tim Tanggap Darurat PBNU yang berada di Kantor LPK PBNU, semula penelepon mencari nama seorang perempuan. Karena tidak ada, ia mengancam akan meledakkan Gedung PBNU dengan bom. Penelepon tidak menyebutkan bom ada di mana, tetapi ia mengatakan, bom akan meledak 15 menit kemudian.
Karena khawatir, seluruh petugas yang ada di LPK PBNU, termasuk dokter dan perawat yang ada, langsung turun dan melapor kepada pihak keamanan gedung. Saat itu kebetulan tidak ada pasien yang datang berobat.
Sesaat sebelum ancaman datang, mantan Presiden Abdurrahman Wahid yang berkantor di lantai 1 Gedung PBNU baru saja menerima kunjungan utusan Jimmy Carter Center. Mereka datang untuk berdiskusi tentang demokrasi dan pemilu di Indonesia.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pada pukul 14.00 semua pegawai dan orang yang ada di Gedung PBNU diminta untuk keluar dan berkumpul di halaman depan gedung.
Satpam gedung juga menyisir seluruh ruangan di gedung dengan delapan lantai itu untuk memastikan gedung benar-benar kosong. Hingga kini seluruh pegawai dan pengurus berbagai lembaga NU serta beberapa perusahaan yang berkantor di Gedung PBNU masih berkumpul di halaman depan. Petugas dari kepolisian juga mulai berdatangan untuk mengamankan gedung.



