Kambing_JantaN
IndoForum Newbie C
- No. Urut
- 16878
- Sejak
- 8 Jun 2007
- Pesan
- 170
- Nilai reaksi
- 3
- Poin
- 18
Duduk disana,terdiam seribu bahasa,hanya mampu menutup kedua belah bibir tanpa harus berkata-kata. Buat apa aku berkoar-koar jika dunia ini tak lagi mau dan mampu mendengarkan keluh kesah hati ku, mereka ? mereka hanya mau mendekatiku saat mereka dalam kesusahan,dan kembali meninggalkan ku saat mereka kembali dalam kesenangan, aku adalah bangku taman, diduduki, ditiduri lalu di tinggal pergi, terdiam oleh dinginnya malam, dan panasnya siang, puas dijajah hujan dan ditelanjangi sinar mentari tanpa ada seorang pun yang mau berbelas kasihan kepada ku.
Adakah yang peduli kepada ku? Inilah hidup, kompetesi dan seleksi sedang berjalan didalamnya, dan termasuk aku satu didalamnya, inikah dunia yang mereka janjikan indah? Inikah arti sebuah sahabat? Inikah cinta yang selalu mereka puja? Inikah kasih sayang yang selalu mereka timang-timang? Inikah dan inikah ? bagiku ini semua semu, semua nya pudar dan tak nyata, ini hanya sandiwara dimana setiap orang berlakon melakukan sebuah peran yang sesuai dengan skrip yang telah ditentukan seorang sutradara, kadang ada yang patuh pada dialog namun banyak juga yang berusaha memanipulasi kata didalamnya, lalu aku dimana? Aku tidak ada dimana-mana, aku disini masih dan menulis dialog tersebut, hmmm,……
Aku rindu masa lalu ku, penuh kasih sayang, penuh tawa canda, penuh perhatian, penuh rasa, iba,bahagia,luka,cemburu,tertawa,senyum,duka,nangis, terlihat disana, apakah mungkin aku bisa kembali kesana? Ntah lah, ketidakyakinanku masih merajai hati, lalu dimana aku ? siapa aku ? dan untuk apa aku disini ? sebagai pelengkap? Bukan juga kurasa, lalu sebagai apa ? ntah lah,…
Tulisan terakhir yang ada di diriku adalah, sampai saat ini, setua ini, aku belum juga mampu menemukan jati diri ku, belum juga mampu menemukan karakter hidup ku, belum juga menemukan standart hidup ku, bukan kah segala sesuatu harus mempunyai standard? Apa ? tidak semua ? itu adalah jawaban yang paling munafik yang pernah kudengar, kawan, kemarilah, datang padaku,peluk aku, dan remas kedua belah jemariku, aku rindu sentuhan kasih sayang mu, dan rindu kata-kata mesra kalian, perhatian kalian, dan segalanya, sekarang hanya semu yang kudapati, mendekatlah padaku, kenapa kalian pergi ? teriak ku lalu kemudian aku kembali terdiam di bangku taman tepat di tengah malam,
Adakah yang peduli kepada ku? Inilah hidup, kompetesi dan seleksi sedang berjalan didalamnya, dan termasuk aku satu didalamnya, inikah dunia yang mereka janjikan indah? Inikah arti sebuah sahabat? Inikah cinta yang selalu mereka puja? Inikah kasih sayang yang selalu mereka timang-timang? Inikah dan inikah ? bagiku ini semua semu, semua nya pudar dan tak nyata, ini hanya sandiwara dimana setiap orang berlakon melakukan sebuah peran yang sesuai dengan skrip yang telah ditentukan seorang sutradara, kadang ada yang patuh pada dialog namun banyak juga yang berusaha memanipulasi kata didalamnya, lalu aku dimana? Aku tidak ada dimana-mana, aku disini masih dan menulis dialog tersebut, hmmm,……
Aku rindu masa lalu ku, penuh kasih sayang, penuh tawa canda, penuh perhatian, penuh rasa, iba,bahagia,luka,cemburu,tertawa,senyum,duka,nangis, terlihat disana, apakah mungkin aku bisa kembali kesana? Ntah lah, ketidakyakinanku masih merajai hati, lalu dimana aku ? siapa aku ? dan untuk apa aku disini ? sebagai pelengkap? Bukan juga kurasa, lalu sebagai apa ? ntah lah,…
Tulisan terakhir yang ada di diriku adalah, sampai saat ini, setua ini, aku belum juga mampu menemukan jati diri ku, belum juga mampu menemukan karakter hidup ku, belum juga menemukan standart hidup ku, bukan kah segala sesuatu harus mempunyai standard? Apa ? tidak semua ? itu adalah jawaban yang paling munafik yang pernah kudengar, kawan, kemarilah, datang padaku,peluk aku, dan remas kedua belah jemariku, aku rindu sentuhan kasih sayang mu, dan rindu kata-kata mesra kalian, perhatian kalian, dan segalanya, sekarang hanya semu yang kudapati, mendekatlah padaku, kenapa kalian pergi ? teriak ku lalu kemudian aku kembali terdiam di bangku taman tepat di tengah malam,