• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Dia yg Menangisi Pernikahanku

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Dia yg Menangisi Pernikahanku

Sc: Pinterest
Edited by TS


Pernikahan
****

Napas bahagia menyeruak di dada. Berlomba dengan detak jantung untuk menggema. Sapuan make-up serupa sentuhan bidadari yg menenangkan. Bibir tak lepas senyum kala menatap pantulan diri. Gaun putih susu, jilbab syar'i, & pernak pernik lainnya menciptakan sempurna. Ya, saya akan menikah. Melepas masa lajang yg selama jadi dilema & bahan candaan.

Siapa yg menyangka kalau saya akan menikah secepat ini. Proses yg cepat dengan keharuan yg singkat.

Dia duduk di sana, tersenyum menatapku yg tersipu di depan cermin. Ah, apakah benar ini aku? Apakah saya cantik? Sepertinya iya. Buktinya dia tak lepas tersenyum.

Menunggu acara sakral itu, detakku tak jua melambat. Semakin berpacu dengan genderang bahagia. Aku akan menikah. Ya, sebentar lagi saya akan jadi bagian dari hidup orang lain.

Mataku semakin buram kala kakak dari ayahku mengucap kalimat surga itu. Dengan mantap dijawab lelaki yg seminggu lalu melamarku. Dadaku sesak. Antara buncah bahagia yg akan meledak & benih kesedihan yg dengan cepat tumbuh membesar. Ya, harusnya ayah yg ada di sana. Menjabat tangan lelaki yg memintaku baik-baik pada ibu.

Tangisku pecah. Air mata itu nyatanya tak sanggup lagi bertahan. Meluncur begitu saja setelah saya resmi jadi seorang istri. Harusnya ayah menyaksikan ini.

Semua berlalu begitu saja. Hingga mataku menangkap sebuah luka. Dia berdiri di sana, sendirian. Setelah menerima ucapan selamat dari orang-orang. Wajahnya sendu dengan mata berkaca-kaca.

"Rasanya baru kemarin saya memarahimu karena tidak mau memasak, tetapi kini anda sudah menikah. Kamu sudah besar."

Mungkin begitu kalimat yg akan dikatakan olehnya andai saya menghampiri & memeluknya. Namun ... ah, saya terlalu lemah. Aku tak harap meruntuhkan pertahanannya yg sudah rapuh. Aku tak harap dia semakin menangis di depan banyak orang.

Semua acara berlalu. Biasa saja. Namun, dia tetap tidak biasa. Sendunya tak hilang. Tak banyak bicara cuma sesekali menatapku sekilas.

Tiba saatnya saya pulang. Bukan ke rumahnya, tetapi ke rumah keluarga baru. Menjadi bagian dari orang baru. Dia semakin sendu. Apakah sesedih itu?

Tak ada yg istimewa hingga acara saya diserahkan selesai. Namun, saya memergoki kerapuhannya ketika dia hendak pulang. Gejolak kesedihan yg ditahan sejak kemarin, akhirnya terungkap. Dia memelukku erat. Menciumiku berkali-kali.

"Sering-sering pulang, ya. Jenguk mamak!"

Tuhan! Hatiku patah. Bukan! Hatiku remuk mendengarnya. Apakah dia sangat kehilangan aku?

Baturaja, 04032020
Catatan akad 21042020

Baca cerita lainnya
Cinderella Ngojek

Covid 19 Masuk Desa Hari ini 00:52
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.