• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Di SMP, Munir Pernah Ranking 180 dari 200 Siswa

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
hLK0.jpg
Hingga akhir hayatnya, Munir dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia yang berani, gigih, dan pantang menyerah. Tapi siapa sangka Munir kecil tak begitu menonjol di bangku sekolahnya terutama soal prestasi akademis.

Bahkan saat ia belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Batu (SMPN 1) Malang, nilai rapornya berada di bawah teman-temannya. Hal ini diungkapkan Alimah, guru Munir di SMPN 1 Batu dalam film dokumenter tentang Munir yang berjudul Kiri Hijau Kanan Merah, produksi Watchdoc dan KASUM.

"Rankingnya 180 dari 200 siswa," kata Alimah menunjuk rapor Munir sambil tersenyum.

Munir juga tak cakap dalam pelajaran bahasa Inggris. Nilainya sangat "standar" malah bisa dikatakan jelek. "Nilai bahasa Inggrisnya 6, 6, 6, 5, 5, dan 6. Di bawah rata-rata," kata Alimah dalam film pendek yang disutradarai jurnalis muda Dandhy D. Laksono.

Ratna, salah seorang guru bahasa Inggris yang masih mengajar di sekolah tersebut mengakui kemajuan Munir dalam mempraktekkan bahasa asing. "Dia sudah pandai di KontraS itu. Bahasa Inggrisnya sudah lancar, sering ke luar negeri," kata dia bangga.

Soal kemajuan Munir berkomunikasi dalam bahasa Inggris ini rupanya juga dirasakan oleh mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bakti. Menurut dia, Munir sempat memilih menggunakan bahasa Indonesia ketimbang Inggris saat mengikuti sebuah konferensi di Australia.

Tapi, dua tahun kemudian saat menghadiri konferensi internasional di Universitas Parahyangan, Bandung, ia sudah berani berpidato dalam bahasa Inggris. "Wah, kemajuan bahasa Inggrisnya pesat sekali dalam dua tahun, walau kadang-kadang masih patah-patah juga," kata dia.
 
tidak disangka tidak diduga dari seorang yang biasa-biasa menjadi penuh makna
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.