Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dalam pencarian tongkat pembalik waktu, saya terbang tanpa henti di lautan bintang & nebula. Kapalku bergerak melalui ruang & waktu yg terasa semakin asing, semakin tak masuk akal. Perjalanan ini mulai berubah, tak sekadar berburu artefak, tetapi juga pertemuan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial yg menusuk ke dalam inti keberadaanku. Sering kali, saya bertanya: Siapa saya sebenarnya? Apakah saya lebih dari sekadar sosok yg mengharapkan pembalikan kesalahan?
Waktu di luar sana tidak lagi berjalan linier. Di satu sisi kapal, saya melihat hari-hari terulur jadi ribuan tahun, sementara di sisi lainnya, waktu hancur dalam sekejap. Aku tersesat, bukan cuma dalam ruang, tetapi dalam pikiranku sendiri. Mengapa saya mengerjakan semua ini?
Aku teringat akan Bapak & Ibu. Aku harap menyelamatkan mereka. Tapi, seiring waktuatau apa pun konsep aneh dari waktu yg kuterima sekarangaku mulai meragukan apakah itu benar-benar tujuanku, atau sekadar alasan untuk tidak menghadapi kekosongan yg ada di dalam diriku. Jika saya berhasil menemukan tongkat pembalik waktu, apakah semuanya akan kembali seperti semula? Apakah saya cuma akan mengulang penderitaan yg sama? Atau... mungkinkah tidak ada "kembali"?
Di tengah kebingungan ini, saya berjumpa dengan makhluk-makhluk aneh di sebuah planet yg tak bernama. Mereka berbicara dengan bahasa yg tak kumengerti, namun setiap mengatakan yg keluar dari mulut mereka seakan-akan terukir dalam batinku. Mereka tidak memberi jawaban, tetapi cuma menanyakan lebih banyak hal. Salah satu dari mereka, makhluk tanpa paras dengan tubuh transparan, mendekatiku & bertanya: Jika semua dapat diulang, apakah kau masih akan jadi dirimu yg sama?
Aku terdiam. Apa maksudnya? Apakah saya masih akan jadi "aku" yg sama kalau saya mengulang waktu? Mungkinkah dengan membalik waktu, saya malah menghancurkan diriku yg sekarang? Apa yg terjadi dengan semua perasaan, pengalaman, & penyesalan ini? Apakah semua ini sia-sia, cuma untuk diratakan oleh tongkat itu?
Aku mengabaikan pertanyaan itu, tetapi perasaan aneh terus menghantuiku. Ketika saya kembali ke kapal, sesuatu terasa berbeda. Jendela-jendela kapal memperlihatkan refleksi yg sepertinya... bukan aku. Atau mungkin, itu aku, tetapi dalam versi yg belum pernah kukenal sebelumnya. Aku merasa terpecah, terbelah dalam banyak bagian, di antara ruang & waktu yg berlomba mengejarku.
Mendekati sebuah nebula yg disebut **Nebula Nihil**, saya dihentikan oleh entitas yg tidak memiliki bentuk, tidak memiliki suara, tetapi entah bagaimana menguasai seluruh keberadaanku. Ia berbicara di dalam pikiranku, kata-katanya berbisik pelan, tetapi menusuk ke dalam: "Mengapa kau begitu terobsesi dengan waktu? Waktu hanyalah ilusi. Siapa dirimu tanpa waktu?"
Aku tak dapat menjawab. Sebelumnya, tujuanku jelas: menemukan tongkat itu & membalikkan semua kesalahan. Tapi semakin jauh saya melangkah, semakin terasa absurditas di balik semuanya. Apa yg sebenarnya kumaksudkan dengan "membalik waktu"? Apakah saya harap mengubah takdir, atau cuma bersembunyi dari kenyataan bahwa saya tak sanggup menghadapi akibat dari tindakanku sendiri?
Di tengah perjalanan, saya terjebak dalam pusaran waktu yg aneh. Di sini, saya menyaksikan berbagai versi diriku, masing-masing berjalan di jalan yg berbeda. Ada saya yg tak pernah meninggalkan rumah, yg menerima bahwa motor Aerox bukanlah hal yg penting. Ada saya yg tidak pernah menemukan batu filsuf, tidak belajar sihir, & cuma hidup sederhana sebagai anak punk di jalanan. Ada saya yg sudah menyerah sepenuhnya, cuma terombang-ambing dalam kehampaan antarbintang, tanpa tujuan atau arah.
Pertanyaan yg menggelayut di pikiranku semakin jelas: Jika waktu dapat diubah, apakah semua versi diri kita jadi tak berarti? Bagaimana dengan kesalahan, penyesalan, & keputusan yg sudah kita buat? Apakah membalik waktu adalah cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab kita?
Akhirnya, saya tiba di sebuah planet tua yg sunyi, di mana Tongkat Pembalik Waktu konon tersembunyi. Namun, saat saya melangkah menuju gua yg menyimpan tongkat itu, pertanyaan terakhir muncul dalam benakku: Apa yg sebenarnya kucari? Apakah benar saya harap membalik waktu, atau apakah saya cuma harap kabur dari kenyataan bahwa hidup ini penuh dengan kekeliruan?
Aku berdiri di depan tongkat itu. Begitu dekat. Hanya dengan satu sentuhan, saya dapat mengulang semuanya, menyelamatkan Bapak & Ibu. Tapi, di saat yg sama, saya sadar bahwa tak ada jaminan. Apakah saya siap untuk menghadapi kehidupan tanpa kesalahan, tanpa pelajaran yg didapat dari penyesalan? Apakah diriku yg baru akan lebih baik, ataukah justru terperangkap dalam lingkaran penyesalan yg lebih dalam?
Dan di sanalah saya berdiri, di antara tongkat yg berkilauan dengan kekuatan luar biasa, & pertanyaan eksistensial yg terus bergema dalam pikiranku: Apakah hidup tanpa penyesalan adalah hidup yg layak dijalani?
Waktu di luar sana tidak lagi berjalan linier. Di satu sisi kapal, saya melihat hari-hari terulur jadi ribuan tahun, sementara di sisi lainnya, waktu hancur dalam sekejap. Aku tersesat, bukan cuma dalam ruang, tetapi dalam pikiranku sendiri. Mengapa saya mengerjakan semua ini?
Aku teringat akan Bapak & Ibu. Aku harap menyelamatkan mereka. Tapi, seiring waktuatau apa pun konsep aneh dari waktu yg kuterima sekarangaku mulai meragukan apakah itu benar-benar tujuanku, atau sekadar alasan untuk tidak menghadapi kekosongan yg ada di dalam diriku. Jika saya berhasil menemukan tongkat pembalik waktu, apakah semuanya akan kembali seperti semula? Apakah saya cuma akan mengulang penderitaan yg sama? Atau... mungkinkah tidak ada "kembali"?
Di tengah kebingungan ini, saya berjumpa dengan makhluk-makhluk aneh di sebuah planet yg tak bernama. Mereka berbicara dengan bahasa yg tak kumengerti, namun setiap mengatakan yg keluar dari mulut mereka seakan-akan terukir dalam batinku. Mereka tidak memberi jawaban, tetapi cuma menanyakan lebih banyak hal. Salah satu dari mereka, makhluk tanpa paras dengan tubuh transparan, mendekatiku & bertanya: Jika semua dapat diulang, apakah kau masih akan jadi dirimu yg sama?
Aku terdiam. Apa maksudnya? Apakah saya masih akan jadi "aku" yg sama kalau saya mengulang waktu? Mungkinkah dengan membalik waktu, saya malah menghancurkan diriku yg sekarang? Apa yg terjadi dengan semua perasaan, pengalaman, & penyesalan ini? Apakah semua ini sia-sia, cuma untuk diratakan oleh tongkat itu?
Aku mengabaikan pertanyaan itu, tetapi perasaan aneh terus menghantuiku. Ketika saya kembali ke kapal, sesuatu terasa berbeda. Jendela-jendela kapal memperlihatkan refleksi yg sepertinya... bukan aku. Atau mungkin, itu aku, tetapi dalam versi yg belum pernah kukenal sebelumnya. Aku merasa terpecah, terbelah dalam banyak bagian, di antara ruang & waktu yg berlomba mengejarku.
Mendekati sebuah nebula yg disebut **Nebula Nihil**, saya dihentikan oleh entitas yg tidak memiliki bentuk, tidak memiliki suara, tetapi entah bagaimana menguasai seluruh keberadaanku. Ia berbicara di dalam pikiranku, kata-katanya berbisik pelan, tetapi menusuk ke dalam: "Mengapa kau begitu terobsesi dengan waktu? Waktu hanyalah ilusi. Siapa dirimu tanpa waktu?"
Aku tak dapat menjawab. Sebelumnya, tujuanku jelas: menemukan tongkat itu & membalikkan semua kesalahan. Tapi semakin jauh saya melangkah, semakin terasa absurditas di balik semuanya. Apa yg sebenarnya kumaksudkan dengan "membalik waktu"? Apakah saya harap mengubah takdir, atau cuma bersembunyi dari kenyataan bahwa saya tak sanggup menghadapi akibat dari tindakanku sendiri?
Di tengah perjalanan, saya terjebak dalam pusaran waktu yg aneh. Di sini, saya menyaksikan berbagai versi diriku, masing-masing berjalan di jalan yg berbeda. Ada saya yg tak pernah meninggalkan rumah, yg menerima bahwa motor Aerox bukanlah hal yg penting. Ada saya yg tidak pernah menemukan batu filsuf, tidak belajar sihir, & cuma hidup sederhana sebagai anak punk di jalanan. Ada saya yg sudah menyerah sepenuhnya, cuma terombang-ambing dalam kehampaan antarbintang, tanpa tujuan atau arah.
Pertanyaan yg menggelayut di pikiranku semakin jelas: Jika waktu dapat diubah, apakah semua versi diri kita jadi tak berarti? Bagaimana dengan kesalahan, penyesalan, & keputusan yg sudah kita buat? Apakah membalik waktu adalah cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab kita?
Akhirnya, saya tiba di sebuah planet tua yg sunyi, di mana Tongkat Pembalik Waktu konon tersembunyi. Namun, saat saya melangkah menuju gua yg menyimpan tongkat itu, pertanyaan terakhir muncul dalam benakku: Apa yg sebenarnya kucari? Apakah benar saya harap membalik waktu, atau apakah saya cuma harap kabur dari kenyataan bahwa hidup ini penuh dengan kekeliruan?
Aku berdiri di depan tongkat itu. Begitu dekat. Hanya dengan satu sentuhan, saya dapat mengulang semuanya, menyelamatkan Bapak & Ibu. Tapi, di saat yg sama, saya sadar bahwa tak ada jaminan. Apakah saya siap untuk menghadapi kehidupan tanpa kesalahan, tanpa pelajaran yg didapat dari penyesalan? Apakah diriku yg baru akan lebih baik, ataukah justru terperangkap dalam lingkaran penyesalan yg lebih dalam?
Dan di sanalah saya berdiri, di antara tongkat yg berkilauan dengan kekuatan luar biasa, & pertanyaan eksistensial yg terus bergema dalam pikiranku: Apakah hidup tanpa penyesalan adalah hidup yg layak dijalani?