Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Photo: Wikipedia
Kehadiran platform pengolah gambar asal Australia, Canva, memang bikin banyak graphic designer kepalanya pusing.
Gimana engga, banyak orang yg udah "gak butuh" jasa graphic design konvensional untuk menangani masalah perdesignan duniawi, baik itukelas ukm hingga corporate sekali pun.
Pengalaman ts sebagai graphic designer yg udah menjajahi dunia design selama lebih dari lima tahun, memang Canva adalah bentuk epic comeback dari orang-orang suka nawar harga design dengan harga keluarga kandung.
Bayangin aja, di era sebelum Canva menyerang, untuk bikin logo kelas UKM aja seorang graphic designer dapat mendapatkan Rp100 ribu (termurah) hingga 1 juta rupiah.
Bikin Instagram post, dapat mengantongi Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per postingannya.
Angka yg lumayan bukan?
Tentu!
Tapi sayangnya, value itu bagai awan yg tertiup angin, bagai air jatuh ke tanah, & bagai garem nyemplung ke sayur sop.
Hilang begitu aja...
Yang jadi pertanyaan adalah, apakah designer Canva dapat menggantikan graphic designer konvensional?
Photo: Memezila
Menurut ts, hal ini masih jauh dari mengatakan 'dapat'. Kenapa demikian? Memang Canva menyediakan jutaan aset yg keren & gampang untuk dipakai, bahkan bagi mereka yg gak punya skill desain sama sekali.
Tapi bukan itu yg jadi andalan untuk dapat menciptakan sebuah desain yg apik.
Untuk menciptakan sebuah desain yg masuk dalam golongan 'layak tayang', diperlukan banyak faktor, salah satunya adalah taste design dari seorang graphic designer.
Kamu pernah liat design dengan kombinasi warna yg bikin mata anda sakit?
Atau design dengan komposisi demo 98 alias berantakan banget?
Itu adalah citra bagaimana seseorang men-design tanpa adanya feeling & taste dalam mendesign.
Selain itu, faktor software pun juga berpengaruh besar. Ketika seorang graphic designer konvensional mendesign secara manual dengan Photoshop atau Illustrator, mereka bebas menciptakan apapun tanpa batas (tergantu kebutuhan & kemampuan).
Tapi memang bener-bener TANPA BATAS.
Berbeda dengan desainer Canva yg cenderung bergantung pada aset yg tersedia di Canva, sisanya sih ya tinggal kreatifitasnya aja yg dikembangkan supaya designnya lebih variatif.
Dua faktor itu lah yg menurut ts gak dapat digantikan oleh Canva.
Pastinya buat GanSis yg juga menggeluti dunia design konvensional pastinya setuju akan hal ini, bukan?
Terus kalau anda bertanya, "Berarti Canva jelek dong?"
Jawabannya, engga sama sekali!
Canva platform yg menurut ts sangat amat menolong banyak orang dalam tentang design graphic.
Khususnya, bagi mereka yg butuh design tetapi gak dapat membeli jasa graphic design konvensional. Baik untuk keperluan pribadi maupun komersil.
Bahkan, saat ini banyak banget konten-konten di Instagram yg dibuat dengan bermodalkan design di Canva.
Postingan jualan, akun informatif hingga akun receh pun banyak yg mengpakai Canva untuk konten mereka. Terlebih lagi, akun yg membutuhkan template Instagram untuk akunnya.
Anyway, ts pernah bikin tutorial bikin template Instagram di Canva yg mungkin anda dapat cobain!
Linknya di sini ya!
Kesimpulannya, meski dua-duanya ada di ranah yg sama, yaitu design, kedua desainer yg beda platform ini tetap akan punya marketnya masing-masing.
Seorang graphic designer konvensional, gak mungkin nurunin harga ke harga keluarga kandung. So, anda dapat sikat projek yg memang "Ada harga, ada kualitas".
Seorang desainer Canva, anda dapat memanfaatkan Canva yg dapat anda nikmati secara cuma-cuma, gak perlu deh nawar-nawar graphic designer konvensional dengan harga keluarga kandung.
Is it fair enough? Hari ini 14:03