Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
SEBAGIAN wilayah Indonesia mengalami kekeringan tahunan yg cukup parah. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, & Geofisika (BMKG) menyatakan beberapa daerah memiliki curah hujan sangat sedikit.
Sebagai gambaran, pantauan BMKG hingga akhir Agustus 2021 menyebutkan beberapa daerah memiliki hari tanpa hujan begitu panjang.
Sebagai kriteria, hari tanpa hujan kategori sangat panjang adalah 31-60 hari tanpa hujan. Sedangkan hari tanpa hujan ekstrem panjang berlangsung lebih dari 60 hari berturut-turut.
Contoh daerah yg mengalami hari tanpa hujan dengan kategori yg sangat panjang & ekstrim panjang adalah Nusa Tenggara Barat (NTB) & Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain NTB & NTT, daerah lain juga mengalami hari tanpa hujan cukup panjang termasuk berapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, & Bali.
Di daerah yg sedikit hujan, masyarakat harus membeli air dengan harga mahal. Misalnya ratusan warga Desa Teka Iku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), rutin mengalami krisis air bersih.
Sebanyak 432 Kepala Keluarga (KK) yg terdiri dari 1.288 jiwa, warga Desa Teka Iku, mengandalkan air tangki 5.000 liter untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena air langka, masyarakat harus iuran membayar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per tangki yg berisi lima ribu liter.
Bagi warga setempat, kekurangan air sudah rutin dirasakan. Biasanya, air jarang ditemukan mulai bulan Juli hingga November. Pada bulan-bulan lainnya mereka mengandalkan air hujan yg ditampung dalam sebuah bak.
Dengan kondisi ini, warga yg berada di daerah dengan curah hujan rendah sangat membutuhkan solusi untuk penyediaan air bersih.
Ketika melihat kondisi warga mengalami kesulitan, masyarakat luas tergerak untuk membantu. Dengan semangat jiwa gotong royong, berbagai lembaga sosial, instansi pemerintah, perusahaan, maupun inisiatif perseorangan bahu membahu menolong masyarakat yg mengalami kekurangan air.
Gerakan untuk menolong masyarakat yg kekurangan air bersifat masif & melibatkan begitu banyak pihak.
Sumur Wakaf
Salah satu cara menolong masyarakat yg kekurangan air adalah dengan program sumur wakaf. Biaya untuk membangun sumur berasal dari dana wakaf yg dikumpulkan dari masyarakat.
Wakaf sendiri berasal dari bahasa Arab yaitu Waqafa yg berarti menahan, berhenti, atau diam di tempat. Secara hukum, wakaf berarti menyerahkan hak milik atas sesuatu yg tahan lama kepada penjaga wakaf atau nadzir.
Penjaga wakaf boleh perorangan ataupun sebuah lembaga, & akan jadi pihak yg bertanggung jawab untuk mengelola harta atau benda yg diwakafkan.
Wakaf berbeda dengan infak maupun zakat. Wakaf memiliki pemanfaatan yg tahan lama atau bahkan bertahan selamanya.
Infak memiliki jangka waktu singkat karena akan habis dalam satu kali pakai. Misalnya infak memberi makan orang kurang sanggup & sebagainya.
Sementara zakat mempunyai aturan spesifik sesuai dengan jumlah harta yg dimiliki. Pihak yg akan menerima zakat juga sudah diatur, disebut mustahiq & biasanya bersifat perorangan.
Karena sifatnya yg jangka panjang, dana wakaf cocok untuk dipakai membangun sumur. Selama ini wakaf cenderung dipakai untuk membangun infrastruktur fisik seperti masjid, pesantren, atau sarana biasa lainnya. Dengan adanya perkembangan sumur wakaf ini maka banyak masyarakat yg menikmati air hasil pengumpulan dana ini.
Peran Lembaga Sosial
Inovasi di bidang wakaf tersebut jadi tren di banyak lembaga sosial. Banyak masyarakat yg tergerak untuk turut serta dalam program sumur wakaf ini.
Rumah Sosial Kutub melaksanakan pembangunan sumur wakaf yg dilakukan sejak tahun ini.
"Sumur wakaf ini dipakai oleh pesantren & masyarakat umum. Siapa saja boleh mengpakainya," mengatakan Sepriyanto, Kepala Divisi Program & Pemberdayaan Rumah Sosial Kutub kepada penulis.
Untuk membangun sumur wakaf beserta fasilitasnya diperlukan dana sekitar Rp 80 juta untuk satu sumur.
Sebagai gambaran, Rumah Sosial Kutub membangun wakaf sumur di Desa Pisan, Kampung Toi'o, Kec Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum pembangunan sumur di Desa Pisan ini, lembaga yg berkantor pusat di Jakarta ini juga mengerjakan hal yg sama Kampung Tanoe, NTT, pada Juni 2021.
"Apa yg kami lakukan ini tidak lain merupakan perjuangan untuk menghadirkan sumber air yg bersih, layak, sehat, bagi masyarakat yg membutuhkan," mengatakan Sepriyanto.
Lembaga sosial lain, Dompet Dhuafa (DD) Tekno memiliki program 1.000 Wakaf Sumur Air Bor Masjid di seluruh Indonesia.
Antara lain sumur wakaf dibangun di Pondok Pesantren Nurul Falah Haromaen 2 yg berlokasi di Cinangka, Serang, Banten.
Di daerah Cinangka ini mayoritas masyarakat sulit mendapatkan air. Untuk mendapatkan air, mereka harus menggali sumur begitu dalam dengan biaya puluhan juta.
Dengan adanya bantuan sumber wakaf mereka sekarang sudah mendapatkan air secara memadai.
Keterlibatan Perusahaan & Instansi
Perhatian masyarakat untuk membangun sumur wakaf terlihat antusias karyawan perusahaan & instansi pemerintah.
Karyawan perusahaan clothing Yasmeera asal Kota Depok, Jawa Barat turut menyumbang dana untuk membangun sumur di salah satu pesantren di NTT.
Wakaf sumur diberikan kepada sekolah Alquran di Nusa Tenggara Timur, yakni TPQ Ar-Rahman, Lewa, Sumba Timur. TPQ ini tidak memiliki sarana bersuci & sanitasi yg memadai, sehingga menyulitkan mereka berwudhu.
Untuk mengatasi kesulitan air, Yasmeera bersama Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) membangun sumur wakaf & sarana MCK untuk santri di pesantren tersebut. Meski begitu sumur tersebut dapat dipakai untuk masyarakat umum.
Kebetulan, TPQ Ar-Rahman berada di tengah-tengah komunitas non muslim. Mereka hidup berdampingan secara serasi & saling tolong menolong dalam kehidupan bermasyarakat.
Contoh lain, Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Purwokerto membangun sumur wakaf untuk warga Desa Suro, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada April 2021.
Pembangunan sumur wakaf tersebut juga didukung oleh donatur lainnya.
Untuk pengelolaan sumur wakaf tersebut, nantinya warga akan membentuk kepanitiaan yg bertugas menangani perawatan sumur & sebagainya.
Sementara itu, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Boyolali, Jawa Tengah membangun sumur wakaf bekerja sama dengan Solopeduli. Keduanya sudah tanda-tangan MoU pada 4 Oktober 2021.Hasil bantuan dari pegawai sudah terkumpul Rp45 juta.
Kegiatan ini direncanakan pada 30 Oktober 2021 dalam rangka peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) ke-75.
Sumur wakaf akan dibangun di Kecamatan Wono Samudro, Jawa Tengah.
Pembangunan sumur wakaf ini juga berlangsung di banyak daerah yang mengalami kesulitan air. Tidak cuma di NTT, beberapa wilayah lain juga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Terbukti, banyak masalah yg dapat diselesaikan dengan cara bekerjasama melibatkan masyarakat luas. Seperti halnya masalah kekurangan air yg terjadi di banyak wilayah. Biasanya mereka sangat tergantung dari pengiriman air bersih dari daerah lain yg bersifat sementara. Dengan adanya pembangunan sumur wakaf maka mereka akan mendapatkan air secara kontinyu.
Semangat untuk saling menolong ini ini jadi bagian dari revolusi mental yg sedang digalakkan oleh pemerintah. Masalah seberat apapun akan jadi mudah kalau diselesaikan secara bersama-sama.***
Penulis: Rihad Wiranto
Kemarin 22:12