Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Demokrasi : Sebuah Tatanan Yang Masih Sekedar Utopia
Perhelatan pemilihan biasa untuk memilih presiden/wakil presiden & anggota parlemen masih dua tahun lagi tetapi riak-riaknya nampaknya sudah mulai terasa. Di sana-sini, banyak orang membicarakan sejumlah tokoh yg digadang-gadang akan mewarnai perhelatan lima tahunan itu. Jagat media massa tak henti-hentinya mempublikasikan prestasi & sebaliknya juga kontroversi & berbagai nama, yg di proyeksikan bakal jadi opsi untuk dipilih bagi merepresentasekan kehendak & kedaulatan rakyat.
Jajaran nama-nama populer semisal Anies Rasyid Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Prabowo Subianto (Menteri Pertahanan RI), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), Muhaimin Iskandar (Ketum Partai Kebangkitan Bangsa & Waketum DPR RI), Agus Harimurti Yudhoyono (Ketum Partai Demokrat), Jenderal Andika Perkasa (Panglima TNI), Puan Maharani (Ketua DPR RI) hingga nama-nama lain yg juga mencuat seperti Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian & Ketum Partai Golongan Karya), Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmatyo, Ekonom senior Rizal Ramli hingga Menko Polhukam Mahfud MD jadi langganan para lembaga survey untuk dipajang.
Di sisi lain, gelombang penolakan presidensial treshold (ambang batas pencalonan presiden) yg saat ini dipasang sebesar 20% juga semakin menguat. Salah satu tokoh penggagasnya adalah Filsuf & Pengamat Politik Rocky Gerung. Tidak tanggung-tanggung dia bahkan menyerukan untuk memboikot pemilu 2024 kalau MK tidak mengambulkan gugatan presidesial treshold jadi 0% yg dia & beberapa tokoh lainnya ajukan. Bahkan meski dianggap sinisme bagi beberapa pihak namun Rocky menginisiasi pembentukan Liga Boikot Pemilu (LBP) yg agendanya adanya membatalkan presidensial treshold melalui kekuatan rakyat.
Beberapa fenomena diatas kalau dicermati secara mendalam adalah gejala yg menunjukan bahwa demokrasi bukanlah sebuah tatanan ideal bagi sistem pemerintahan & kenegaraan kita. Tidak banyak hal yg berubah jadi lebih baik bagi bangsa ini sejak gelombang reformasi tahun 1998 yg menggulingkan pemerintahan Soeharto dengan dalih menentang otoritarianisme & korupsi.
Keadaan setelah 20 tahun lebih demokrasi & kebebasan sipil ini dijalankan belum menunjukan tanda-tanda yg signifikan membaik. Meski keran demokrasi sudah selebar-lebarnya dibuka yg ditandai dengan meningkatnya partisipasi publik di segala bidang termasuk juga politik & pemerintahan, namun carut-marut masih saja terjadi. Kedaulatan yg katanya ada ditangan rakyat & sering dieluk-elukan itu ternyata adalah utopia semata. Hasil pembangunan meski secara fisik sudah begitu nampak terpampang namun tidak memiliki akibat yg sama masifnya dengan pertumbuhan ekonomi & pendapatan masyarakat. Pada gilirannya, semua hal ini tidak memberikan feedback yg cukup untuk kesejahteraan rakyat pada umumnya.
Yang jadi pertanyaan kita saat ini adalah apakah demokrasi sudah memberikan pengaruh yg banyak bagi kemakmuran, keadilan & kesejahteraan rakyat yg katanya punya kedaulatan tertinggi atas negara ini? Apakah demokrasi menciptakan makin banyak rakyat jelata yg yang tertidur pulas tanpa berpikir besok mau makan apa? Apakah demokrasi ini menciptakan para pemuda di usia produktif tidak galau lagi mencari lapangan pekerjaan? Dan apakah-apakah yg lainnya yg mungkin saja demokrasi tidak memberi akibat apa-apa.
Demokrasi dapat saja hanyalah sebuah teori yg utopis. Keharapan-keharap yg membayangi pikiran-pikiran kita tentang dunia yg menyerupai surga, tetapi rupanya kita sedang tertidur oleh buaian itu & saat terbangun kita menyadari realita yg sebenarnya.
*===*
Kendari, 7 Juni 2021
Written by Ali Marwan
Founder, Positive Vibes91
Sumber Pendukung :
id.m.wikipedia.org
https://www.cnnindonesia.com/nasiona...-disingkat-lbp Hari ini 19:51
Perhelatan pemilihan biasa untuk memilih presiden/wakil presiden & anggota parlemen masih dua tahun lagi tetapi riak-riaknya nampaknya sudah mulai terasa. Di sana-sini, banyak orang membicarakan sejumlah tokoh yg digadang-gadang akan mewarnai perhelatan lima tahunan itu. Jagat media massa tak henti-hentinya mempublikasikan prestasi & sebaliknya juga kontroversi & berbagai nama, yg di proyeksikan bakal jadi opsi untuk dipilih bagi merepresentasekan kehendak & kedaulatan rakyat.
Jajaran nama-nama populer semisal Anies Rasyid Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Prabowo Subianto (Menteri Pertahanan RI), Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), Muhaimin Iskandar (Ketum Partai Kebangkitan Bangsa & Waketum DPR RI), Agus Harimurti Yudhoyono (Ketum Partai Demokrat), Jenderal Andika Perkasa (Panglima TNI), Puan Maharani (Ketua DPR RI) hingga nama-nama lain yg juga mencuat seperti Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian & Ketum Partai Golongan Karya), Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmatyo, Ekonom senior Rizal Ramli hingga Menko Polhukam Mahfud MD jadi langganan para lembaga survey untuk dipajang.
Di sisi lain, gelombang penolakan presidensial treshold (ambang batas pencalonan presiden) yg saat ini dipasang sebesar 20% juga semakin menguat. Salah satu tokoh penggagasnya adalah Filsuf & Pengamat Politik Rocky Gerung. Tidak tanggung-tanggung dia bahkan menyerukan untuk memboikot pemilu 2024 kalau MK tidak mengambulkan gugatan presidesial treshold jadi 0% yg dia & beberapa tokoh lainnya ajukan. Bahkan meski dianggap sinisme bagi beberapa pihak namun Rocky menginisiasi pembentukan Liga Boikot Pemilu (LBP) yg agendanya adanya membatalkan presidensial treshold melalui kekuatan rakyat.
Beberapa fenomena diatas kalau dicermati secara mendalam adalah gejala yg menunjukan bahwa demokrasi bukanlah sebuah tatanan ideal bagi sistem pemerintahan & kenegaraan kita. Tidak banyak hal yg berubah jadi lebih baik bagi bangsa ini sejak gelombang reformasi tahun 1998 yg menggulingkan pemerintahan Soeharto dengan dalih menentang otoritarianisme & korupsi.
Keadaan setelah 20 tahun lebih demokrasi & kebebasan sipil ini dijalankan belum menunjukan tanda-tanda yg signifikan membaik. Meski keran demokrasi sudah selebar-lebarnya dibuka yg ditandai dengan meningkatnya partisipasi publik di segala bidang termasuk juga politik & pemerintahan, namun carut-marut masih saja terjadi. Kedaulatan yg katanya ada ditangan rakyat & sering dieluk-elukan itu ternyata adalah utopia semata. Hasil pembangunan meski secara fisik sudah begitu nampak terpampang namun tidak memiliki akibat yg sama masifnya dengan pertumbuhan ekonomi & pendapatan masyarakat. Pada gilirannya, semua hal ini tidak memberikan feedback yg cukup untuk kesejahteraan rakyat pada umumnya.
Yang jadi pertanyaan kita saat ini adalah apakah demokrasi sudah memberikan pengaruh yg banyak bagi kemakmuran, keadilan & kesejahteraan rakyat yg katanya punya kedaulatan tertinggi atas negara ini? Apakah demokrasi menciptakan makin banyak rakyat jelata yg yang tertidur pulas tanpa berpikir besok mau makan apa? Apakah demokrasi ini menciptakan para pemuda di usia produktif tidak galau lagi mencari lapangan pekerjaan? Dan apakah-apakah yg lainnya yg mungkin saja demokrasi tidak memberi akibat apa-apa.
Demokrasi dapat saja hanyalah sebuah teori yg utopis. Keharapan-keharap yg membayangi pikiran-pikiran kita tentang dunia yg menyerupai surga, tetapi rupanya kita sedang tertidur oleh buaian itu & saat terbangun kita menyadari realita yg sebenarnya.
*===*
Kendari, 7 Juni 2021
Written by Ali Marwan
Founder, Positive Vibes91
Sumber Pendukung :
Distopia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
https://www.cnnindonesia.com/nasiona...-disingkat-lbp Hari ini 19:51