yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Pengerahan massa dalam demonstrasi tidak selamanya mengandalkan anggota organisasi atau pihak-pihak yang berkepentingan secara langsung dengan isu yang hendak disuarakan. Sering terjadi kebanyakan demonstran yang hadir justru tidak tahu-menahu mengenai masalah dan tujuan unjuk rasa tersebut.
Wajah-wajah lama massa bayaran ini siap hadir dalam isu apapun yang ditawarkan. Hal itu diakui Pc, salah seorang yang sering berperan sebagai koordinator pengumpul massa di Manggarai, Jakarta Selatan, saat ditemui Kompas.com, Rabu (5/12/2012).
"Masalahnya apa nanti mereka yang berdiri di depan yang ngomong. Kita tinggal terima spanduk dan arahan singkat di tempat kumpul," ujar Pc enteng.
Orderan demo bisa datang tiap saat dari pihak yang berbeda-beda. Isu yang diusung pun bisa berubah-ubah dalam setiap demo. Alhasil, bila hari ini mereka berunjuk rasa untuk kasus korupsi tententu mengatasnamakan LSM tertentu di depan gedung KPK, keesokan harinya mereka bisa hadir di depan Istana Kepresidenan dengan isu dan organisasi yang jauh berbeda.
"Orang-orangnya yang itu-itu juga, orang-orang yang sudah biasa saya kumpulin. Nanti sebelum jalan tinggal diabsen lagi untuk mastiin. Kalau enggak hadir ya saya coret," ungkap Pc.
Menurut pria yang sehari-hari bekerja sebagai pengojek di Jalan Manggarai Utara itu, masalah yang hendak disampaikan bukan menjadi urusan mereka. Selain karena mereka rata-rata berlatar belakang orang-orang sederhana, isu-isu yang hendak disampaikan sering kali tidak untuk dikonsumsi publik atau bersifat nasional.
"Kalau soal Century, Hambalang, Lapindo, kita sedikit-sedikit tahulah. Tapi kalau soal kasus bupati di Kalimantan atau Sumatera sana atau kasus orang tertentu di pengadilan, mana kita tahu. Tinggal tunggu arahan aja," kata pria yang memiliki warung kopi di dekat Stasiun Manggarai itu.
Main Keras atau Lembut?
Pengunjuk rasa bayaran ini bisa dikelompokkan atas dua. Kebanyakan dari mereka hanya siap untuk demonstrasi biasa yang tidak memiliki risiko fisik. Tapi, ada juga kelompok yang dipakai untuk melakukan unjuk rasa yang berbau kekerasan dan tindak pengrusakan.
"Kalau orang-orang saya hanya untuk demo yang standar-standar aja, main lembut aja. Kalau yang bisa main keras ada juga, itu kelompoknya Bang Ty," ungkap Pc.
Ty yang ditemui di sebuah warung di dekat Jalan Tambak, Jakarta Pusat, sebagaimana Pc, juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia seorang spesialis pengumpul massa, baik untuk unjuk rasa maupun kebutuhan lain, seperti penagihan maupun pengamanan.
"Bayaran kami enggak bisa disamain sama yang demo-demo biasa aja. Kita minta lebih gede karena ada risikonya," ujar Ty.
Ia menjelaskan, mereka bisa saja dibayar untuk hadir bersama pengunjuk rasa lainnya. Bisa juga mereka datang sebagai kelompok khusus pengunjuk rasa yang terdiri dari orang-orang siap melakukan pengrusakan atau bahkan terlibat bentrok dengan petugas keamanan. Mengingat risiko diciduk, Ty pun meminta bayaran lebih.
"Tapi kalau ada koordinator aksi yang ngomong kalau bayaran kami sampai gopek (Rp 500.000), itu berlebihan. Enggak sampai segitu kok. Mungkin mereka yang dikasih segitu," terang Ty.
Untuk urusan massa, bisnis yang dikembangkan Ty tidak main-main. Anggota-anggotanya bisa disediakan seragam sesuai kebutuhan. Alhasil, mereka bisa muncul dalam berbagai kegiatan dengan penampilan berbeda.
"Tinggal sebut saja mau pakai pakaian biasa, safari, batik, atau loreng-loreng (ormas), semuanya sudah disiapkan. Pokoknya sudah terorganisir," tutur Ty.
Sebagai pemain lama di bidang jasa massa bayaran, keuntungan yang dipetik Ty tidak sedikit. Selain uang jasa yang diterimanya sebagai koordinator, ia masih bisa mengutip bayaran untuk anggotanya hingga lebih dari Rp 50.000 per kepala. Selain itu, jumlah peserta/massa yang hadir pun kerap kali tidak dihitung secara teliti.
"Misalnya, diminta 500 orang dengan 10 metromini. Pokoknya metromininya terisi aja kan sudah beres," pungkas Ty.