Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dalam merencanakan digital campaign, tentu kita membutuhkan data pendukung untuk pengambilan keputusan, data itu dapat berupa data lampau, hingga data yg masih baru & tahap perkiraan analisis, sehingga beberapa keahlian berperan didalamnya, mari kita bahas.
Analisa Data
Pertama-tama lakukan data mining di domo, monkeylearn & brightdata, hasil yg saya peroleh adalah beberapa hal ini, untuk tahap datamining dapat konsultasikan dulu terhadap,provider penyedia SAAS tersebut, berapakah harga layanin untuk monitoring media social atau capturing data tentang behavior user internet untuk setiap negara.
Atau dapat juga dengan menciptakan tools data mining mengpakai tensorflow python, scikit learn & mengerjakan visualisasi data mengpakai pandas & numpy lalu menganalisanya, tentu hal ini membutuhkan resource & skill mengenai pemrograman python, ilmu data (statistik, aljaba linear, probabilistik dll), juga konfigurasi cloud server.
Pada process capturing, biasanya akan berbeda-beda hasilnya dari waktu ke waktu, contoh yg saya capture ini pada Kamis, 7 April 2022, karena biasanya beda perilaku, beda trend & juga peningkatan minat kepada platform dari masing-masing media sosial, untuk ini sampel saya adalah : Twitter, Linkedin, Facebook, Instagram & Tiktok, kita langsung ke data visualisasi aja ya...
Sekali lagi, dataset yg dipakai adalah pada 7 April 2022
Data Visualisasi
Didapati Major Intersection Berupa aktivitas biasa netizen +62 yg sering ada di 5 platform :
Pro-kontra pemerintahan
Darurat membaca
Buat polling
Reshare kasus viral (info kasus kehilangan kasus penipuan, kasus pelecehan seksual, kasus kekerasan).
Promo usaha
Tutorial
Hoax
Word Cloud
Beberapa kalimat popular yg sering tercapture warganet +62
di 5 platform :
Tiktok
Twitter
Facebook
Linkedin
Instagram
Analisa Data TEXT Spreading
Sebaran viral berupa text seringkali terjadi di Twitter & Facebook. User di ke-2 platform ini seringkali mengerjakan repost & saling mengomentari. Disusul pengguna Linkedin, warga +62 yg biasanya ceplas ceplos di twitter, ig & Facebook.
Seringkali mengpakai materi berupa teks yg di repost & memberikan pandangannya yg berkaitan dengan karir & petuah bijak. Sedangkan di Instagram & Tiktok, dikarenakan tipe postnya berupa video atau image, maka sebaran text jarang langsung dipost, lebih sering di repost lalu dikomentari melalui aksi-aksi yg divideokan.
Analisa Data Video Spreading
Sebaran viral berupa Video paling banyak terjadi di tiktok, karena memang konten utamanya berupa video, di susul instagram. Kedua platform ini sering mengkampanyekan suatu produk disertai gerakan-gerakan komunikasi tubuh yg divideokan dengan backsound yg dire-arrange & dari sana juga backsound lagu-lagu lama yg arrangement jadi viral.
Tipe campaign berupa storytelling sangat efektif di tiktok, terlebih kalau dikemas sesuai fenomena yg sedang viral.
Analisa Data Image / Screenshot Spreading
Sebaran viral berupa image & screenshot cukup kompetitif & tidak terlalu banyak diminati. Sering terjadi di twitter & Facebook yg umumnya adalah status atau twit yg dikomentari.
Begitupun di instagram, karena banyaknya quote baik itu dari pemikiran sendiri, dari googling, dari twitter atau Facebook di repost dengan ilustrasi yg menarik lalu di post ulang di akun ig seseorang.
Sedangkan di Linkedin, sebaran yg berupa image atau screenshot seringkali dijadikan komentar atau bahan motivasi yg berkaitan tentang karir, sosial & hubungan personal.
Analisa Data Berupa Link Spreading atau tautan
Data yg di grab untuk spreading berupa link tidak dapat di capture dengan baik, dikarenakan terlalu banyak hal acak terjadi. Seperti link yg di share di suatu sosmed, dimana postingan seringkali berupa clickbait, ditambah lagi komentar dari netizen yg tidak match dengan isi berita, maka tidak heran juga kalau terdapat capture behavior (perhatikan gambar wordcloud & behavior) yaitu "Darurat Membaca".
Sehingga sebaran viral berupa link, tidak dapat disimpulkan dengan normal.
Analisa Data Pengguna platform TIKTOK & Instagram
Ke 5 platform ini memiliki keunggulan & karakteristik masing-masing, dari pengamatan ini didapatkan bahwa :
Tiktok seringkali cocok & efektif dipakai untuk promo usaha, usaha disini yg dimaksudkan adalah UMKM bagi pengguna internet itu sendiri. Instagram, paling banyak dipakai untuk Endorse, meskipun di tiktok demikian, namun Instagram lebih merata, terkadang user dengan follower sedikitpun tetap mengerjakan endorse baik cuma dengan pembayaran nominal kecil atau menolong promosi rekanannya atau user lain.
Analisa Data Pengguna platform Twitter
Twitter adalah platform yg paling banyak dipakai untuk membentuk persepsi & jadi corong bagi sebuah pergerakan baik pergerakan ormas, LSM atau kalangan grass root Di Indonesia, kasus yg berkaitan memperjuangkan hak & keadilan sangatlah efektif.
Bahkan di skala International, pergerakan BlackLiveMatter berhasil mendapat hati netizen twitter diseluruh dunia. Jika belajar dari kasus movement BlackLiveMatter, produk kecantikan Loreal Paris yg pernah mensponsori pergerakan ini.
Dalam hitungan kurang dari 10 hari, produk tersebut mendapat tempat dihati para SJW. Dengan perasaan & semangat dukungan, para SJW ini, mereka ramai-ramai membeli produk L'oreal Paris.
Analisa Data Pengguna platform Facebook
Group di Facebook, jadi tempat diskusi & membangun komunitas, meskipun tidak melahirkan suatu pergerakan yg kompak, namun kalau mengiklankan suatu produk yg menyasar group atau komunitas di Facebook, yg sesuai profil bisnis, akan mudah mendapatkan calon pembeli, terdapat sentimen 'gengsi' & pembelian berantai diantara komunitas yg sering mengadakan acara kopi darat.
Analisa Data Pengguna platform Linkedin
Linkedin sangatlah efektif untuk membentuk personal branding & branding perusahaan, untuk mengkampanyekan suatu Brand di Linkedin akan lebih efektif dimulai dengan branding CEO, CTO atau COO nya.
Yang selanjutnya disusul dengan informasi webinar atau workshop online yg diadakan suatu company secara gratis. Dan mulai dengan iklan lowongan pekerjaan yg massive, termasuk cara menciptakan CV bagi para jobseeker
Konklusi :
Untuk menjalankan campaign kilat, dimana campaign ini bersifat mengejutkan & menciptakan effect FOMO, namun juga efektif untuk brand awareness dapat mengikuti marketing funnel melalui lintas 5 platform ini, yg caranya...
1. Membuka lowongan pekerjaan dengan promote di Linkedin untuk eksistensi & bukti diri perusahaan, mau dilanjut di glints atau kalibrr juga boleh banget.
2. Gunakan Daily Vlog beberapa seleb tiktok yg berjumpa CEO suatu perusahaan dengan narasi yg mengagumkan (Branding CEO perusahaan sangatlah dianjurkan, berkaca pada Elon Musk-Tesla, William Tanuwidjaya - Tokopedia, Ahmad Zaki - ex CEO Bukalapak dll) daily vlog ini dapat juga untuk materi di tiktok ads atau sekedar, posting di beberapa akun seleb tiktok secara hampir bersamaan dengan narasi yg saling membangun satu sama lain.
Jangan lupakan juga ads di tiktok dengan konsep storytelling tentang produk kamu, contoh kalau produkmu adalah suplemen kesehatan, buatkan iklan storytelling tentang betapa pentingnya, suplemen buat tubuh kamu, akan lebih menarik kalau dengan animasi, atau konsep iklan yg komedi dramatik.
3. Lakukan Endorsement product di influencer IG yg sesuai dengan karakteristik pasar produkmu, contoh : Joe Taslim untuk produk olahraga atau suplemen kesehatan, tentunya jalankan IG Ads dari panel Facebook.com/adsmanager
4. Endorse juga komunitas/group di FB yg sesuai dengan pasar produkmu, contoh : komunitas gym atau beladiri kalau produkmu suplemen kesehatan, tentunya FB Ads juga harus dijalankan (Khusus FB & IG Ads, akan lebih menguntungkan apabila diintegrasikan dengan CPAS, untuk konversi penjualan ke Marketplace)
Dari semua kesimpulan diatas, rencana yg paling cocok diterapkan adalah, memakai jasa buzzer termasuk buzzer (tidak disarankan memakai jasa buzzer pemerintah) menurut pengamatan, sesuatu yg BUZZ di twitter selama kurang dari 15 menit akan tetap mendapat sentimen netral bagi Netizen di twitter.
Selama itu pula lakukan Advertorial, Daily Vlog tiktok, Endorse influencer IG, komunitas di Facebook & eksistensi company di Linkedin harus bersamaan "merajalela", karena saat netizen yg terkena akibat BUZZ di twitter, mereka akan mengerjakan cross check by googling ataupun ke platform lain.
Yang perlahan akan membentuk sentimen positif bagi setiap penggunanya.
Supaya lebih valid, lakukan Advertorial berupa liputan kepada suatu product, dengan tipe review, press release hingga survey tipe product yg dikemas dengan model pemberitaan di situs media online, seperti :
Thejakartapost,wartaekonomi,tempo untuk interview CEO perusahaan
Katadata & bisnis.com untuk survey & data jurnalistik
Detik health & kompas health sebagai contoh, apabila produkmu menjual suplemen kesehatan
Techinasia & dailysocial apabila model bisnismu startup kesehatan
Karena dengan advertorial akan jadi jawaban yg mendukung, saat netizen mencari jawaban dengan google search dengan mengatakan kunci (nama brand, nama produk, nama CEO) ketika netizen ragu tentang BUZZ atau kejadian yg viral atas suatu produk, suatu badan usaha bahkan mulai terkenalnya seorang pendiri perusahaan, metode buzz di twitter ini pernah dipakai salah satunya oleh BUKALAPAK saat perdana kali IPO.
Dimana effect FOMO benar-benar terjadi, bahkan banyak netizen hingga terkesan buru-buru beli sahamnya, hingga kini saat artikel ini ditulis ramai tagar #SkinCarenyaLunaMaya di twitter yg mengkampanyekan bahwa cantik itu tidak harus putih karena cantik itu #CerahBukanPutih & dengan #SkinCarenyaLunaMaya menghadirkan solusi kecantikan buat kamu, artikel ini juga tidak di sponsori luna ya hahaha, cuma saja memperkuat hasil analisa saya, bahwa buzz memang akan efektif, namun tetap saja dibutuhkan.
Elemen-elemen pendukung campaignnya seperti :
Advertorial, Endorse atau paid promote, Vlog, ads, storytelling & akan lebih baik kalau didukung dengan informasi di Wikipedia
Penutup
Ini hanyalah aktivitas TS sebagaiDigital Marketing, SEO Specialist,Digital Strategiest, Online research & Jasa pembuatan software yg mengerjakan rencana Digital Campaign dengan data-data pendukung dari hasil data mining & pengamatan fenomena viral yg pernah terjadi.
Jika bagi pembaca cukup menarik, boleh diadaptasi & kalau punya ide lebih menarik, silahkan di improve & di modifikasi, semoga berhasil !!
Note : Artikel ini tidak disponsori oleh produk-produk yg disebutkan dalam konten ini.
Hari ini 16:53
Analisa Data
Pertama-tama lakukan data mining di domo, monkeylearn & brightdata, hasil yg saya peroleh adalah beberapa hal ini, untuk tahap datamining dapat konsultasikan dulu terhadap,provider penyedia SAAS tersebut, berapakah harga layanin untuk monitoring media social atau capturing data tentang behavior user internet untuk setiap negara.
Atau dapat juga dengan menciptakan tools data mining mengpakai tensorflow python, scikit learn & mengerjakan visualisasi data mengpakai pandas & numpy lalu menganalisanya, tentu hal ini membutuhkan resource & skill mengenai pemrograman python, ilmu data (statistik, aljaba linear, probabilistik dll), juga konfigurasi cloud server.
Pada process capturing, biasanya akan berbeda-beda hasilnya dari waktu ke waktu, contoh yg saya capture ini pada Kamis, 7 April 2022, karena biasanya beda perilaku, beda trend & juga peningkatan minat kepada platform dari masing-masing media sosial, untuk ini sampel saya adalah : Twitter, Linkedin, Facebook, Instagram & Tiktok, kita langsung ke data visualisasi aja ya...
Sekali lagi, dataset yg dipakai adalah pada 7 April 2022
Data Visualisasi
Didapati Major Intersection Berupa aktivitas biasa netizen +62 yg sering ada di 5 platform :
Pro-kontra pemerintahan
Darurat membaca
Buat polling
Reshare kasus viral (info kasus kehilangan kasus penipuan, kasus pelecehan seksual, kasus kekerasan).
Promo usaha
Tutorial
Hoax
Word Cloud
Beberapa kalimat popular yg sering tercapture warganet +62
di 5 platform :
Tiktok
Analisa Data TEXT Spreading
Sebaran viral berupa text seringkali terjadi di Twitter & Facebook. User di ke-2 platform ini seringkali mengerjakan repost & saling mengomentari. Disusul pengguna Linkedin, warga +62 yg biasanya ceplas ceplos di twitter, ig & Facebook.
Seringkali mengpakai materi berupa teks yg di repost & memberikan pandangannya yg berkaitan dengan karir & petuah bijak. Sedangkan di Instagram & Tiktok, dikarenakan tipe postnya berupa video atau image, maka sebaran text jarang langsung dipost, lebih sering di repost lalu dikomentari melalui aksi-aksi yg divideokan.
Analisa Data Video Spreading
Sebaran viral berupa Video paling banyak terjadi di tiktok, karena memang konten utamanya berupa video, di susul instagram. Kedua platform ini sering mengkampanyekan suatu produk disertai gerakan-gerakan komunikasi tubuh yg divideokan dengan backsound yg dire-arrange & dari sana juga backsound lagu-lagu lama yg arrangement jadi viral.
Tipe campaign berupa storytelling sangat efektif di tiktok, terlebih kalau dikemas sesuai fenomena yg sedang viral.
Analisa Data Image / Screenshot Spreading
Sebaran viral berupa image & screenshot cukup kompetitif & tidak terlalu banyak diminati. Sering terjadi di twitter & Facebook yg umumnya adalah status atau twit yg dikomentari.
Begitupun di instagram, karena banyaknya quote baik itu dari pemikiran sendiri, dari googling, dari twitter atau Facebook di repost dengan ilustrasi yg menarik lalu di post ulang di akun ig seseorang.
Sedangkan di Linkedin, sebaran yg berupa image atau screenshot seringkali dijadikan komentar atau bahan motivasi yg berkaitan tentang karir, sosial & hubungan personal.
Analisa Data Berupa Link Spreading atau tautan
Data yg di grab untuk spreading berupa link tidak dapat di capture dengan baik, dikarenakan terlalu banyak hal acak terjadi. Seperti link yg di share di suatu sosmed, dimana postingan seringkali berupa clickbait, ditambah lagi komentar dari netizen yg tidak match dengan isi berita, maka tidak heran juga kalau terdapat capture behavior (perhatikan gambar wordcloud & behavior) yaitu "Darurat Membaca".
Sehingga sebaran viral berupa link, tidak dapat disimpulkan dengan normal.
Analisa Data Pengguna platform TIKTOK & Instagram
Ke 5 platform ini memiliki keunggulan & karakteristik masing-masing, dari pengamatan ini didapatkan bahwa :
Tiktok seringkali cocok & efektif dipakai untuk promo usaha, usaha disini yg dimaksudkan adalah UMKM bagi pengguna internet itu sendiri. Instagram, paling banyak dipakai untuk Endorse, meskipun di tiktok demikian, namun Instagram lebih merata, terkadang user dengan follower sedikitpun tetap mengerjakan endorse baik cuma dengan pembayaran nominal kecil atau menolong promosi rekanannya atau user lain.
Analisa Data Pengguna platform Twitter
Twitter adalah platform yg paling banyak dipakai untuk membentuk persepsi & jadi corong bagi sebuah pergerakan baik pergerakan ormas, LSM atau kalangan grass root Di Indonesia, kasus yg berkaitan memperjuangkan hak & keadilan sangatlah efektif.
Bahkan di skala International, pergerakan BlackLiveMatter berhasil mendapat hati netizen twitter diseluruh dunia. Jika belajar dari kasus movement BlackLiveMatter, produk kecantikan Loreal Paris yg pernah mensponsori pergerakan ini.
Dalam hitungan kurang dari 10 hari, produk tersebut mendapat tempat dihati para SJW. Dengan perasaan & semangat dukungan, para SJW ini, mereka ramai-ramai membeli produk L'oreal Paris.
Analisa Data Pengguna platform Facebook
Group di Facebook, jadi tempat diskusi & membangun komunitas, meskipun tidak melahirkan suatu pergerakan yg kompak, namun kalau mengiklankan suatu produk yg menyasar group atau komunitas di Facebook, yg sesuai profil bisnis, akan mudah mendapatkan calon pembeli, terdapat sentimen 'gengsi' & pembelian berantai diantara komunitas yg sering mengadakan acara kopi darat.
Analisa Data Pengguna platform Linkedin
Linkedin sangatlah efektif untuk membentuk personal branding & branding perusahaan, untuk mengkampanyekan suatu Brand di Linkedin akan lebih efektif dimulai dengan branding CEO, CTO atau COO nya.
Yang selanjutnya disusul dengan informasi webinar atau workshop online yg diadakan suatu company secara gratis. Dan mulai dengan iklan lowongan pekerjaan yg massive, termasuk cara menciptakan CV bagi para jobseeker
Konklusi :
Untuk menjalankan campaign kilat, dimana campaign ini bersifat mengejutkan & menciptakan effect FOMO, namun juga efektif untuk brand awareness dapat mengikuti marketing funnel melalui lintas 5 platform ini, yg caranya...
1. Membuka lowongan pekerjaan dengan promote di Linkedin untuk eksistensi & bukti diri perusahaan, mau dilanjut di glints atau kalibrr juga boleh banget.
2. Gunakan Daily Vlog beberapa seleb tiktok yg berjumpa CEO suatu perusahaan dengan narasi yg mengagumkan (Branding CEO perusahaan sangatlah dianjurkan, berkaca pada Elon Musk-Tesla, William Tanuwidjaya - Tokopedia, Ahmad Zaki - ex CEO Bukalapak dll) daily vlog ini dapat juga untuk materi di tiktok ads atau sekedar, posting di beberapa akun seleb tiktok secara hampir bersamaan dengan narasi yg saling membangun satu sama lain.
Jangan lupakan juga ads di tiktok dengan konsep storytelling tentang produk kamu, contoh kalau produkmu adalah suplemen kesehatan, buatkan iklan storytelling tentang betapa pentingnya, suplemen buat tubuh kamu, akan lebih menarik kalau dengan animasi, atau konsep iklan yg komedi dramatik.
3. Lakukan Endorsement product di influencer IG yg sesuai dengan karakteristik pasar produkmu, contoh : Joe Taslim untuk produk olahraga atau suplemen kesehatan, tentunya jalankan IG Ads dari panel Facebook.com/adsmanager
4. Endorse juga komunitas/group di FB yg sesuai dengan pasar produkmu, contoh : komunitas gym atau beladiri kalau produkmu suplemen kesehatan, tentunya FB Ads juga harus dijalankan (Khusus FB & IG Ads, akan lebih menguntungkan apabila diintegrasikan dengan CPAS, untuk konversi penjualan ke Marketplace)
Dari semua kesimpulan diatas, rencana yg paling cocok diterapkan adalah, memakai jasa buzzer termasuk buzzer (tidak disarankan memakai jasa buzzer pemerintah) menurut pengamatan, sesuatu yg BUZZ di twitter selama kurang dari 15 menit akan tetap mendapat sentimen netral bagi Netizen di twitter.
Selama itu pula lakukan Advertorial, Daily Vlog tiktok, Endorse influencer IG, komunitas di Facebook & eksistensi company di Linkedin harus bersamaan "merajalela", karena saat netizen yg terkena akibat BUZZ di twitter, mereka akan mengerjakan cross check by googling ataupun ke platform lain.
Yang perlahan akan membentuk sentimen positif bagi setiap penggunanya.
Supaya lebih valid, lakukan Advertorial berupa liputan kepada suatu product, dengan tipe review, press release hingga survey tipe product yg dikemas dengan model pemberitaan di situs media online, seperti :
Thejakartapost,wartaekonomi,tempo untuk interview CEO perusahaan
Katadata & bisnis.com untuk survey & data jurnalistik
Detik health & kompas health sebagai contoh, apabila produkmu menjual suplemen kesehatan
Techinasia & dailysocial apabila model bisnismu startup kesehatan
Karena dengan advertorial akan jadi jawaban yg mendukung, saat netizen mencari jawaban dengan google search dengan mengatakan kunci (nama brand, nama produk, nama CEO) ketika netizen ragu tentang BUZZ atau kejadian yg viral atas suatu produk, suatu badan usaha bahkan mulai terkenalnya seorang pendiri perusahaan, metode buzz di twitter ini pernah dipakai salah satunya oleh BUKALAPAK saat perdana kali IPO.
Dimana effect FOMO benar-benar terjadi, bahkan banyak netizen hingga terkesan buru-buru beli sahamnya, hingga kini saat artikel ini ditulis ramai tagar #SkinCarenyaLunaMaya di twitter yg mengkampanyekan bahwa cantik itu tidak harus putih karena cantik itu #CerahBukanPutih & dengan #SkinCarenyaLunaMaya menghadirkan solusi kecantikan buat kamu, artikel ini juga tidak di sponsori luna ya hahaha, cuma saja memperkuat hasil analisa saya, bahwa buzz memang akan efektif, namun tetap saja dibutuhkan.
Elemen-elemen pendukung campaignnya seperti :
Advertorial, Endorse atau paid promote, Vlog, ads, storytelling & akan lebih baik kalau didukung dengan informasi di Wikipedia
Penutup
Ini hanyalah aktivitas TS sebagaiDigital Marketing, SEO Specialist,Digital Strategiest, Online research & Jasa pembuatan software yg mengerjakan rencana Digital Campaign dengan data-data pendukung dari hasil data mining & pengamatan fenomena viral yg pernah terjadi.
Jika bagi pembaca cukup menarik, boleh diadaptasi & kalau punya ide lebih menarik, silahkan di improve & di modifikasi, semoga berhasil !!
Note : Artikel ini tidak disponsori oleh produk-produk yg disebutkan dalam konten ini.
Hari ini 16:53