Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pengamat keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, memberikan sejumlah saran bagi masyarakat sebagai pengguna (user) yg memberikan datanya kepada sejumlah pengelola seperti layanin telekomunikasi, layanin pesan-antar, hingga perbankan.
Menurut Alfons, kini masyarakat harus memiliki anggapan bahwa data yg diberikan ke berbagai layanin yg dipakai "sudah bocor".
"Orang Indonesia perlu punya anggapan bahwa datanya 'sudah bocor'. Sehingga, jangan lakukan hal-hal penting dengan pakai data-data yg sudah bocor ini," mengatakan Alfons, diberitakan Antara pada Minggu.
"Misalnya, kalau kita buat username & password, hindari pakai data-data yg sudah bocor. Seperti misalnya KTP sudah bocor, jadi nama, NIK, tempat & tanggal lahir (juga bocor). Maka, jangan bikin pin pakai data lahir kita karena nanti mudah tertebak. Jangan bikin password dari tempat & tanggal lahir, itu mudah ditebak karena datanya sudah bocor," ujarnya menambahkan.
Alfons menambahkan, semoga data yg diduga bocor tersebut tidak disalahpakai, & penting bagi pengelola data untuk mengerti & sadar bahwa data merupakan amanah, bukan berkah, untuk malah diperjualbelikan secara tidak bertanggung jawab.
Antisipasi & tanggung jawab bersama
Lebih lanjut, pakar lulusan Universitas Indonesia & I.A.E. Grenoble Universite Pierre Mendes Prancis tersebut mengingatkan bahwa keamanan siber bukan cuma tanggung jawab masyarakat, namun tanggung jawab bersama.
"Ini bukan cuma soal masyarakat & pemerintah, namun pengelola data lain seperti unicorn, layanin telekomunikasi, hingga bunk, yg mengelola ratusan juta data masyarakat. Diperlukan keterampilan & satu standar pengelolaan data yg baik," mengatakan Alfons.
Ketika disinggung mengenai antisipasi yg dilakukan oleh pemerintah sebagai regulator saat ini, yaitu dengan mengerjakan pemblokiran ke sejumlah laman web yg diduga menyebarkan data, Alfons menilai langkah tersebut kurang tepat.
"Jika diibaratkan pepatah, 'buruk muka cermin dibelah'. Pemblokiran (menurut saya) tidak memecahkan masalah. Orang lain dapat saja mengpakai VPN & mengaksesnya dari (VPN) negara lain," mengatakan dia.
Ada pun untuk BPJS, yg datanya diduga bocor, Alfons berharap kasus ini dapat segera diinvestigasi.
"Saya harapkan segera diinvestigasi. Kalau memang ada kesalahan & itu datanya, sportif saja mengakui, daripada berkata 'mengelola data kompleks'. Data yg kompleks itu malah menciptakan khawatir, karena makin susah dikelola & mengandung potensi kelemahan. Justru harus lebih hati-hati," mengatakan dia.
"Semoga BPJS dapat cepat mencari tahu masalahnya, diidentifikasi, & segera diperbaiki segera," pungkasnya.
SUMBER
Hari ini 10:24