Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
(Roma 12:11)
Ketika saya pertama kali masuk sekolah teologi, test wawancara dilaksanakan pada hari pertama. Ada satu pertanyaan yang saya kira aneh pada waktu itu. Dosen yang mewawancarai, Rev. Neil Porch namanya, bertanya demikian, "mengapa kamu masuk sekolah teologi? Mengapa kamu tidak meneruskan kuliahmu di universitas sekuler -dia tahu kalau saya baru saja memutuskan keluar dari salah satu Perguruan Tinggi di Jogja saat itu".
Dengan penuh semangat saya menjawab, saya mau melayani Tuhan.
Melayani Tuhan? Lho, koq harus masuk sekolah teologi? Dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, dia lantas bertanya lagi. Untuk apa kamu melayani Tuhan? Dasarmu apa?
Dalam hati saya jengkel mendengar pertanyaan itu. Lalu, saya bilang demikian: "saya melayani Tuhan karena itulah panggilan hidup saya".
Sambil memukul meja, dia berkata silahkan angkat koper dan tidak usah mendaftar di sekolah ini. Pulang saja! Saya kecewa dengan kata-kata itu. Saya tahu dia orang barat yang pembawaannya kasar. Tetapi, kemudian dia tanggap dengan perubahan di wajah saya. Akhirnya, dengan lemah lembut dia menjelaskan, "bahwa pelayanan yang benar haruslah didasari karena mengasihi Tuhan, bukan yang lain".
Dia memberi contoh dirinya dan keluarganya. Rev. Niel adalah seorang misionaris asal Australia yang telah melayani diberbagai negara dibelahan dunia ini. Dan, ternyata pelayanan itu tidak segampang yang dibayangkan. Tantangan - persoalan hidup - ditolak - dicaci maki - taruhan nyawa dan seterusnya menjadi bagian dari mereka yang menyebut diri pelayan/hamba Tuhan.
Tetapi jika kita melayani karena mengasihi Tuhan, apapun yang terjadi tidaklah menjadi kendala untuk melayaniNya lebih berkobar lagi. Kesusahan, olokan, hinaan, penderitaan tidaklah menyebabkan kita undur sedikitpun.
Bagaimana dengan Anda ?


(Roma 12:11)
Ketika saya pertama kali masuk sekolah teologi, test wawancara dilaksanakan pada hari pertama. Ada satu pertanyaan yang saya kira aneh pada waktu itu. Dosen yang mewawancarai, Rev. Neil Porch namanya, bertanya demikian, "mengapa kamu masuk sekolah teologi? Mengapa kamu tidak meneruskan kuliahmu di universitas sekuler -dia tahu kalau saya baru saja memutuskan keluar dari salah satu Perguruan Tinggi di Jogja saat itu".
Dengan penuh semangat saya menjawab, saya mau melayani Tuhan.
Melayani Tuhan? Lho, koq harus masuk sekolah teologi? Dengan bahasa Indonesia yang pas-pasan, dia lantas bertanya lagi. Untuk apa kamu melayani Tuhan? Dasarmu apa?
Dalam hati saya jengkel mendengar pertanyaan itu. Lalu, saya bilang demikian: "saya melayani Tuhan karena itulah panggilan hidup saya".
Sambil memukul meja, dia berkata silahkan angkat koper dan tidak usah mendaftar di sekolah ini. Pulang saja! Saya kecewa dengan kata-kata itu. Saya tahu dia orang barat yang pembawaannya kasar. Tetapi, kemudian dia tanggap dengan perubahan di wajah saya. Akhirnya, dengan lemah lembut dia menjelaskan, "bahwa pelayanan yang benar haruslah didasari karena mengasihi Tuhan, bukan yang lain".
Dia memberi contoh dirinya dan keluarganya. Rev. Niel adalah seorang misionaris asal Australia yang telah melayani diberbagai negara dibelahan dunia ini. Dan, ternyata pelayanan itu tidak segampang yang dibayangkan. Tantangan - persoalan hidup - ditolak - dicaci maki - taruhan nyawa dan seterusnya menjadi bagian dari mereka yang menyebut diri pelayan/hamba Tuhan.
Tetapi jika kita melayani karena mengasihi Tuhan, apapun yang terjadi tidaklah menjadi kendala untuk melayaniNya lebih berkobar lagi. Kesusahan, olokan, hinaan, penderitaan tidaklah menyebabkan kita undur sedikitpun.
Bagaimana dengan Anda ?

