• Saat ini anda mengakses IndoForum sebagai tamu dimana anda tidak mempunyai akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya diperuntukkan bagi anggota IndoForum. Dengan bergabung maka anda akan memiliki akses penuh untuk melakukan tanya-jawab, mengirim pesan teks, mengikuti polling dan menggunakan feature-feature lainnya. Proses registrasi sangatlah cepat, mudah dan gratis.
    Silahkan daftar dan validasi email anda untuk dapat mengakses forum ini sepenuhnya sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang benar dan cek email anda setelah daftar untuk validasi.
  • Tips kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19:
    • Cuci tangan kamu sesering mungkin;
    • Jaga jarak dengan orang lain minimal 2 meter;
    • Minimalkan kegiatan di luar ruangan.
    Stay safe in your bubble!

Dari Mahasiswa Dropout hingga jadi Aktor Terkenal

Angela

IndoForum Activist A
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
22.340
Nilai reaksi
5
Poin
0
Dari Mahasiswa Dropout hingga jadi Aktor Terkenal


Nama Richard Gere tentu tak asing bagi pensayang film Hollywood di era 1980-an & 1990-an. Pasalnya, pada periode ini, Gere tampil sebagai pemeran utama di berbagai film box office. Tak heran, aktor yg kini berusia 72 tahun itu jadi idola pensayang film.

Adapun sejumlah film yg melambungkan namanya adalah Days of Heaven (1978), American Gigolo (1980), An Officer and a Gentleman (1982), Pretty Woman (1990), Sommersby (1993), Primal Fear (1996), Red Corner (1997), Runaway Bride (1999), Chicago (2002), I'm Not There (2007), Arbitrage (2012), & Norman: The Moderate Rise and Tragic Fall of a New York Fixer (2016).

Film-film tersebut juga mengantarkan Gere sebagai peraih sejumlah penghargaan bergengsi. Sebut saja, Best Foreign Actor di ajang David di Donatello Award (1979) untuk film Days of Heaven, Freedom of Expression Award pada National Board of Review (1997) untuk film Red Corner. Puncaknya, Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Comedy or Musical pada ajang Golden Globe (2003) untuk film Chicago.

Gere mengaku, perjalanan karier di dunia akting tidak datang begitu saja. Awalnya, ia menekuni bidang gimnastik di bangku kuliah karena tidak terlalu menonjol soal akademik.

Berkat gimnastik, Gere mendapatkan beasiswa di Universitas Massachusetts. Di kampus itu, ia memilih jurusan filsafat. Namun, saat kuliah, ia memutuskan berhenti menekuni gimnastik. Pasalnya, ia melihat bahwa kampusnya memiliki banyak pesenam berbakat yg lebih hebat darinya. Pada saat bersamaan, ia juga merasa jenuh dengan kehidupan kampus. Akhirnya, Gere memutuskan keluar dari kampus. Ia banting stir dengan menekuni dunia akting di sebuah sekolah drama. Saya memilih jadi aktor karena akting merupakan storytelling yg dapat membawa saya mengeksplorasi berbagai bidang lain, seperti psikologi, filsafat, metafisika, serta profesi lain, ujar Gere saat jadi bintang tamu Mola Living Live, Kamis (14/1/2022).

Gere mengawali karier profesional sebagai aktor di Seattle Repertory Theater & Provincetown Playhouse di Cape Cod pada 1969. Namun, ia baru mendapatkan peran sebagai tokoh utama pada 1973. Gere dipercaya memerankan Daniel "Danny" Zuko dalam teater musikal Grease yg dipertunjukkan di New London Theatre.


Dari bintang teater menuju film

Berkat memerankan Daniel "Danny" Zuko, Gere mulai mendapatkan pentas di dunia film Hollywood. Debut aktingnya dimulai pada film Report to the Commissioner (1975). Saat itu, ia mendapatkan peran pembantu, Billy. Selanjutnya, pada periode 1976-1979, ia membintangi lima film, yakni Baby Blue Marine, Looking for Mr. Goodbar, Bloodbrothers, Days of Heaven, serta Yanks.

Namanya mulai diketahui luas oleh publik Amerika Serikat (AS) saat ia berperan sebagai Julian Kay, tokoh utama dalam film American Gigolo (1980). Julian merupakan seorang gigolo yg kerap melayani perempuan kelas atas demi menunjang gaya hidupnya yg hedonis & materialistis. Kesuksesan film tersebut menjadikan Gere sebagai aktor terkemuka & simbol seks pada masa itu. Film itu juga jadi batu loncatan dalam kariernya.

Kepada Dino Patti Djalal, Gere bercerita, ia mendapatkan peran tersebut dua pekan sebelum proses syuting dilakukan. Mulanya, peran Julian Kay hendak diberikan kepada John Travolta. Namun, Travolta mengundurkan diri. Sang sutradara, Paul Schrader, pun datang menghampirinya untuk menawarkan peran tersebut. Saya menyukai tabiat Julian & cerita pada film American Gigolo. Pada saat itu, Paul juga seorang penulis naskah top di Amerika. Setelah menerima tawaran itu, saya mulai mengerjakan pendalaman karakter, mulai dari mendatangi klub gay hingga berinteraksi dengan para pekerja seks komersial untuk merasakan atmosfer di dunia tersebut, mengatakan Gere.

Kesuksesan Gere berlanjut saat ia membintangi film An Officer and a Gentleman. Pada film ini, Gere yg berperan sebagai Zack Mayo, kandidat Aviation Officer, beradu akting dengan Debra Winger & David Keith. Kepiawaian akting Gere pada film tersebut menciptakannya masuk nominasi Best Actor-Motion Picture Drama pada ajang Golden Globe Award 1983.

Delapan tahun berselang, pria kelahiran 31 Agustus 1949 itu membuktikan bahwa kariernya masih bersinar. Ia kembali masuk nominasi Golden Globe Award untuk kategori Best Actor-Motion Picture Musical or Comedy untuk perannya sebagai Edward Lewis pada film Pretty Woman.

Dari Mahasiswa Dropout hingga jadi Aktor Terkenal


Gere mengaku bahwa selama menjalani karier sebagai aktor, Julia Roberts merupakan lawan main yg paling mudah baginya untuk membangun chemistry selama proses syuting. Sekalipun Roberts baru perdana kali berperan di film, keduanya terlihat tidak canggung. Bahkan, Roberts berhasil mengimbangi akting Gere & menampilkan pesona wanita muda yg genit pada film itu.

Pretty Woman, lanjut Gere, mulanya merupakan film drama bernuansa gelap. Pasalnya, film yg menceritakan hubungan timpang antara seorang miliuner, Edward, & pekerja seks komersial, Vivian, ini diakhiri dengan kematian Vivian karena overdosis narkoba. Gere melanjutkan bahwa pihak Disney Studio tidak sepakat dengan naskah tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan untuk merombak naskah Pretty Woman supaya jadi kisah komedi romantis & jadi dongeng sayang modern seperti yg diketahui sekarang.

Aktingnya yg apik bersama Julia Roberts menciptakan film tersebut sukses membukukan pendapatan sebesar 463.406.268 dollar AS. Pretty Woman pun masuk dalam daftar film terlaris keempat di AS & nomor tiga di dunia pada tahun itu. Pretty Woman merupakan contoh sukses film dengan bujet kecil yg sanggup menghasilkan keuntungan besar. Semua pihak yg terlibat sanggup menampilkan kinerja terbaik & merasa enjoy selama proses syuting. Kesuksesan film ini yg sanggup jadi ikonik mengejutkan semua orang, tuturnya.


Meditasi sebagai sumber ketenangan

Sebagai selebritas Hollywood, Gere tidak terlepas dengan sorotan media ataupun publik. Popularitas tersebut dapat jadi bumerang bagi seorang aktor. Untuk menyeimbangkan kondisi mentalnya, Gere mempraktikkan meditasi. Sebenarnya, praktik ini sudah ia lakukan sejak berusia 20-an, yakni saat ia mulai memeluk agama Buddha.

Dari Mahasiswa Dropout hingga jadi Aktor Terkenal


Suami dari Alejandra Mara Silva Garca-Baquero ini bercerita, meditasi sanggup menciptakan dirinya berkonsentrasi menghubungkan otak, pikiran, & tubuh untuk mengubah emosi negatif jadi positif. Menurutnya, meditasi yg sejati dilakukan seolah sedang tidak mengerjakan meditasi & konsentrasi yg baik tidak membatasi ruang gerak pikiran.

Tujuan akhir dari meditasi, kita jadi mengetahui bahwa semuanya serbamungkin. Kamu tidak membatasi pikiran & emosi karena keduanya dapat bergerak bebas ke mana pun. Meski demikian, anda tidak terdistraksi karena memiliki pencerahan akan kehadiranmu saat ini, mengatakan Gere.

Aktor yg pernah mengunjungi Candi Borobudur pada 2011 itu mengaku bahwa jadi pemeluk agama Buddha merupakan titik balik dalam hidupnya. Saat berusia muda, ia mengalami disonansi kognitif. Kondisi ini ditandai dengan konflik mental antara keyakinan, sikap, & perilaku seseorang yg tidak selaras. Hal tersebut memicunya untuk mencari tahu melalui berbagai jalan spiritual. Ia pun menambatkan hatinya pada Buddha aliran Zen.

Gere mengaku, jadi pemeluk agama Buddha & praktik meditasi menolong dirinya menangkal berbagai akibat negatif yg muncul dari industri perfilman & orang-orang di Hollywood.

Menurutnya, meski memiliki kekayaan & ketenaran, orang-orang yg berkecimpung di dunia hiburan memiliki hasrat tak terbatas sehingga menciptakan mereka rentan mengalami gangguan emosi. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yg kompleks.

Bagi saya, semua hal yg datang dari luar tidak akan sanggup memengaruhi diri saya selama memiliki benteng yg kuat. Termasuk berbagai akibat negatif di dunia perfilman Hollywood, ujarnya.



Sumber :

- https://www.kompas.com/hype/read/202...gere-ceritakan

- https://mola.tv/watch?py_id=LivingLi...e&v=vd41866600

Hari ini 13:45
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Atas.