Ajido-Marujido
IndoForum VIP: The Special One
- No. Urut
- 10016
- Sejak
- 31 Des 2006
- Pesan
- 4.815
- Nilai reaksi
- 147
- Poin
- 63
Seorang tuan menanam pohon bambu dan merawatnya dengan baik sehingga pohon tersebut bertumbuh dengan baik. Pohon ini sangat bersyukur atas kebaikan tuannya dan berjanji untuk membalas budinya. Pada suatu hari, tuannya berkata kepadanya, “Bambu yang kusayangi, sungguh indah engkau. Tidak sia-sia aku memeliharamu. Sekarang aku bermaksud memakaimu. Apakah engkau rela?” Dengan cepat pohon ini berkata, “Dengan senang hati Tuan! Pakailah aku.” Tapi tuannya berkata, “Kalau kamu mau kupakai, terlebih dahulu aku harus menebangmu!” Betapa terkejutnya pohon itu dan berkata, “Oh Tuan! Janganlah saya ditebang. Lihat diantara pohon-pohon, bukankah saya harus rebah di tanah, dan kedudukan saya menjadi lebih rendah dari pohon-pohon lainnya?” Tuannya menjawab, “Jika kamu tidak mau ditebang, maka aku tidak dapat memakai kamu.” Demi untuk membalas budi, dengan menahan sakit, ia membiarkan dirinya ditebang.
*
Pada keesokan harinya, tuannya datang dan berkata, “Bambu yang kusayangi, aku harus membersihkan daunmu, agar aku dapat memakai kamu.” Dengan uring-uringan pohon itu berkata, “Oh tuan! Engkau sungguh kejam sekali, aku sudah rela ditebang dan rebah di tanah, aku tidak dapat memegahkan diri seperti dulu lagi. Apa yang sekarang dapat saya banggakan, adalah daun-daun hijau yang indah indah ini. Jika engkau membersihkannya, maka habislah saya! Oh, tuan! Saya mohon, janganlah daun-daun ini dibersihkan.” Tuannya berkata, “Jika daun-daunmu tidak dibersihkan, maka aku tidak dapat memakaimu.” Dengan menahan air mata, bambu itu membiarkan dirinya dibersihkan.
*
Pada hari kedua, tuannya datang lagi dan berkata, “Bambuku, sekarang aku harus membuang carang-carangmu, agar aku dapat memakaimu.” Dengan hampir menjerit, bambu ini berkata,”Jika engkau membuang carang-carangku maka wajahku akan menyerupai apa? Kasihanilah saya, jangan membuang carang-carang itu.” Tuannya berkata,”Jika carangmu tidak dibuang, maka aku tidak dapat memakaimu.” Dengan perasaan sedih, ia membiarkan carang-carangnya dibuang.
*
Hari berikutnya, tuannya datang dan menghampirinya. Dengan suara berbisik ia berkata, “Bambuku, sekarang permintaanku yang terakhir, aku akan melobangi hatimu, agar aku dapat memakaimu.” Tanpa tertahan lagi, menangislah bambu* itu dan berkata, “Tuan, akarku sudah ditebang, daunku sudah dibersihkan, carangku sudah dibuang dan sekarang engkau mau melobangi hatiku! Apakah ini tidak keterlaluan tuan? Mengapa engkau tidak memilih pohon yang lain? Mengapa hanya saya yang dipilih dan disiksa?” Dengan lembut tuannya menjawab, ”Meskipun di kebun ini banyak pohon, tetapi aku hanya mau engkau untuk kupakai agar berkatku dibagikan kepada orang lain.” Dengan menahan sakit, ia membiarkan hatinya dilubangi.
*
Setelah melubangi hati bambu ini, tuannya lalu membawanya ke sumber air. Ujung atas bambu ditaruh dalam sumber air dan ujung lainnya, ditaruh di ladang. Melalui pohon bambu ini, air disalurkan ke ladang, sehingga ladang mendapat pengairan yang cukup, tanah menjadi subur dan pak tani bersuka-ria karena mendapat hasil yang banyak.
*
Keindahan pohon bambu yang hanya bisa dinikmati ketika mata memandang kepadanya, ternyata adalah sebuah kesia-siaan belaka jika dibandingkan dengan tersedianya air yang berlimpah-limpah yang dialirkan melalui sebuah batang bambu yang merelakan dirinya untuk dikorbankan demi mengairi berhektar-hektar sawah sehingga banyak orang bisa menikmati hasil panen yang berlimpah-limpah. Apakah masih ada hal-hal dari dalam diri kita yang kita pandang baik untuk kita simpan sendiri namun sebenarnya akan lebih berguna ketika kita serahkan ke dalam tangan Tuhan?
*
Pada keesokan harinya, tuannya datang dan berkata, “Bambu yang kusayangi, aku harus membersihkan daunmu, agar aku dapat memakai kamu.” Dengan uring-uringan pohon itu berkata, “Oh tuan! Engkau sungguh kejam sekali, aku sudah rela ditebang dan rebah di tanah, aku tidak dapat memegahkan diri seperti dulu lagi. Apa yang sekarang dapat saya banggakan, adalah daun-daun hijau yang indah indah ini. Jika engkau membersihkannya, maka habislah saya! Oh, tuan! Saya mohon, janganlah daun-daun ini dibersihkan.” Tuannya berkata, “Jika daun-daunmu tidak dibersihkan, maka aku tidak dapat memakaimu.” Dengan menahan air mata, bambu itu membiarkan dirinya dibersihkan.
*
Pada hari kedua, tuannya datang lagi dan berkata, “Bambuku, sekarang aku harus membuang carang-carangmu, agar aku dapat memakaimu.” Dengan hampir menjerit, bambu ini berkata,”Jika engkau membuang carang-carangku maka wajahku akan menyerupai apa? Kasihanilah saya, jangan membuang carang-carang itu.” Tuannya berkata,”Jika carangmu tidak dibuang, maka aku tidak dapat memakaimu.” Dengan perasaan sedih, ia membiarkan carang-carangnya dibuang.
*
Hari berikutnya, tuannya datang dan menghampirinya. Dengan suara berbisik ia berkata, “Bambuku, sekarang permintaanku yang terakhir, aku akan melobangi hatimu, agar aku dapat memakaimu.” Tanpa tertahan lagi, menangislah bambu* itu dan berkata, “Tuan, akarku sudah ditebang, daunku sudah dibersihkan, carangku sudah dibuang dan sekarang engkau mau melobangi hatiku! Apakah ini tidak keterlaluan tuan? Mengapa engkau tidak memilih pohon yang lain? Mengapa hanya saya yang dipilih dan disiksa?” Dengan lembut tuannya menjawab, ”Meskipun di kebun ini banyak pohon, tetapi aku hanya mau engkau untuk kupakai agar berkatku dibagikan kepada orang lain.” Dengan menahan sakit, ia membiarkan hatinya dilubangi.
*
Setelah melubangi hati bambu ini, tuannya lalu membawanya ke sumber air. Ujung atas bambu ditaruh dalam sumber air dan ujung lainnya, ditaruh di ladang. Melalui pohon bambu ini, air disalurkan ke ladang, sehingga ladang mendapat pengairan yang cukup, tanah menjadi subur dan pak tani bersuka-ria karena mendapat hasil yang banyak.
*
Keindahan pohon bambu yang hanya bisa dinikmati ketika mata memandang kepadanya, ternyata adalah sebuah kesia-siaan belaka jika dibandingkan dengan tersedianya air yang berlimpah-limpah yang dialirkan melalui sebuah batang bambu yang merelakan dirinya untuk dikorbankan demi mengairi berhektar-hektar sawah sehingga banyak orang bisa menikmati hasil panen yang berlimpah-limpah. Apakah masih ada hal-hal dari dalam diri kita yang kita pandang baik untuk kita simpan sendiri namun sebenarnya akan lebih berguna ketika kita serahkan ke dalam tangan Tuhan?