Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Maaf masih medali perak
Kata-kata yg keluar dari mulu Eko Yuli Irawan saat mengerjakan video call bersama Menteri Pemuda Olahraga Indonesia, Zainudin Amali. Padahal, Eko Yuli baru saja mengibarkan bendera Merah Putih bersanding dengan bendera negara lain di Olimpiade! Sekali lagi, Olimpiade! Bukan kejuaraan antar negara di ASEAN atau Asia, tetapi dunia!
Atlet angkat besi andalan Indonesia tersebut harus puas berada di posisi kedua, di bawah atlet Tiongkok, Li Fabin. Eko Yuli mengerjakan total angkatan seberat 302 kg (137 Snatch & 165 Clean & Jerk). Sementara Li Fabin berhasil mengerjakan total angkatan seberat 313 kg, yg sekaligus jadi rekor Olimpiade di nomor 61 kg putra.
Saat melihat video Eko Yuli meminta maaf karena hanya mendapat medali perak, yg perdana kali saya rasakan adalah bingung. Ya, bingung! Untuk dapat tampil di Olimpiade saja, harus melewati perjuangan yg luar biasa. Apalagi dapat hingga meraih medali. Wajar rasanya, kalau kebingungan itu bukan cuma saya yg merasakannya.
Akan tetapi, mungkin ada satu pandangan yg berbeda dari sisi Eko Yuli. Tokyo 2020 merupakan penampilan keempatnya di ajang Olimpiade. Prestasinya tidak main-main, Eko Yuli sering mendapat medali! Dimulai pada Beijing 2008, dengan raihan medali perunggu di kelas 56 kg. Empat tahun berselang, Eko Yuli tampil di kelas 62 kg pada Olimpiade London 2012 dengan hasil medali perunggu.
Rio De Janeiro 2016, Eko Yuli memperbaiki prestasinya dengan raihan medali perak. Bukankah medali emas akan jadi penutup karier yg bagus? Mengingat, usia Eko Yuli tak lagi muda. Mungkin, inilah yg menciptakan Eko Yuli masih meminta maaf karena gagal menyabet medali emas. Tapi tetap saja, raihan medali perak Olimpiade adalah hal yg sangat membanggakan!
Lantas apa yg dapat kita pelajari dari sosok Eko Yuli? Konsistensi & tak muda puas dengan apa yg sudah didapat harus kita contoh. Andai Eko Yuli tidak konsisten berlatih & tak lagi punya ambisi untuk berprestasi, mungkin dia tak akan dapat mencetak sejarah dengan jadi satu-satunya atlet Indonesia yg punya empat medali Olimpiade!
Bahkan Eko Yuli tak keberatan untuk mengeluarkan uang pribadi demi berlatih & menjaga kondisi saat pemusatan latihan tidak digelar. Untuk latihan, konsumsi vitamin, & juga keperluan lain tak sedikit uang yg diperlukan. Untungnya, pemerintah mulai menerapkan pemusatan latihan jangka panjang sejak 2016.
Pelajaran lain yg dapat kita ambil dari sosok Eko Yuli adalah kerendahan hati. Maaf masih medali perak. Mungkin kalimat tersebut tidak akan keluar dari seorang Eko Yuli andai lifter asal Lampung ini tak punya kerendahan hati. Bayangkan, dapat meraih medali di Olimpiade (bahkan hingga empat kali) Eko Yuli masih meminta maaf karena belum dapat mengumandangkan Indonesia Raya! Saya rasa, tak semua orang akan berani mengerjakan apa yg dilakukan seorang Eko Yuli.
Terakhir, Eko Yuli mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh. Maksud saya, jangan pedulikan pandangan orang tentang apa yg kita lakukan, selama itu tidak melanggar. Angkat Besi bukanlah olahraga favorit nan populer di Indonesia. Angkat Besi masih kalah jauh dari bulu tangkis atau sepak bola. Tapi Eko Yuli yg mulai berlatih angkat besi sejak usia sekolah sanggup membuktikan, kesungguh-sungguhan pasti memberikan hasil yg tidak mengecewakan.
Lewat angkat besi, Eko Yuli sanggup mengangkat derajat martabat bangsa Indonesia. Lewat angkat besi, Eko Yuli berhasil mengangkat taraf hidup keluarganya. Maka itu, jangan meminta maaf, Eko Yuli. Sebaliknya, kami, bangsa Indonesia yg harus berterima kasih.
Terima Kasih, Eko Yuli! Hari ini 09:09
Kata-kata yg keluar dari mulu Eko Yuli Irawan saat mengerjakan video call bersama Menteri Pemuda Olahraga Indonesia, Zainudin Amali. Padahal, Eko Yuli baru saja mengibarkan bendera Merah Putih bersanding dengan bendera negara lain di Olimpiade! Sekali lagi, Olimpiade! Bukan kejuaraan antar negara di ASEAN atau Asia, tetapi dunia!
Atlet angkat besi andalan Indonesia tersebut harus puas berada di posisi kedua, di bawah atlet Tiongkok, Li Fabin. Eko Yuli mengerjakan total angkatan seberat 302 kg (137 Snatch & 165 Clean & Jerk). Sementara Li Fabin berhasil mengerjakan total angkatan seberat 313 kg, yg sekaligus jadi rekor Olimpiade di nomor 61 kg putra.
Saat melihat video Eko Yuli meminta maaf karena hanya mendapat medali perak, yg perdana kali saya rasakan adalah bingung. Ya, bingung! Untuk dapat tampil di Olimpiade saja, harus melewati perjuangan yg luar biasa. Apalagi dapat hingga meraih medali. Wajar rasanya, kalau kebingungan itu bukan cuma saya yg merasakannya.
Akan tetapi, mungkin ada satu pandangan yg berbeda dari sisi Eko Yuli. Tokyo 2020 merupakan penampilan keempatnya di ajang Olimpiade. Prestasinya tidak main-main, Eko Yuli sering mendapat medali! Dimulai pada Beijing 2008, dengan raihan medali perunggu di kelas 56 kg. Empat tahun berselang, Eko Yuli tampil di kelas 62 kg pada Olimpiade London 2012 dengan hasil medali perunggu.
Rio De Janeiro 2016, Eko Yuli memperbaiki prestasinya dengan raihan medali perak. Bukankah medali emas akan jadi penutup karier yg bagus? Mengingat, usia Eko Yuli tak lagi muda. Mungkin, inilah yg menciptakan Eko Yuli masih meminta maaf karena gagal menyabet medali emas. Tapi tetap saja, raihan medali perak Olimpiade adalah hal yg sangat membanggakan!
Lantas apa yg dapat kita pelajari dari sosok Eko Yuli? Konsistensi & tak muda puas dengan apa yg sudah didapat harus kita contoh. Andai Eko Yuli tidak konsisten berlatih & tak lagi punya ambisi untuk berprestasi, mungkin dia tak akan dapat mencetak sejarah dengan jadi satu-satunya atlet Indonesia yg punya empat medali Olimpiade!
Bahkan Eko Yuli tak keberatan untuk mengeluarkan uang pribadi demi berlatih & menjaga kondisi saat pemusatan latihan tidak digelar. Untuk latihan, konsumsi vitamin, & juga keperluan lain tak sedikit uang yg diperlukan. Untungnya, pemerintah mulai menerapkan pemusatan latihan jangka panjang sejak 2016.
Pelajaran lain yg dapat kita ambil dari sosok Eko Yuli adalah kerendahan hati. Maaf masih medali perak. Mungkin kalimat tersebut tidak akan keluar dari seorang Eko Yuli andai lifter asal Lampung ini tak punya kerendahan hati. Bayangkan, dapat meraih medali di Olimpiade (bahkan hingga empat kali) Eko Yuli masih meminta maaf karena belum dapat mengumandangkan Indonesia Raya! Saya rasa, tak semua orang akan berani mengerjakan apa yg dilakukan seorang Eko Yuli.
Terakhir, Eko Yuli mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh. Maksud saya, jangan pedulikan pandangan orang tentang apa yg kita lakukan, selama itu tidak melanggar. Angkat Besi bukanlah olahraga favorit nan populer di Indonesia. Angkat Besi masih kalah jauh dari bulu tangkis atau sepak bola. Tapi Eko Yuli yg mulai berlatih angkat besi sejak usia sekolah sanggup membuktikan, kesungguh-sungguhan pasti memberikan hasil yg tidak mengecewakan.
Lewat angkat besi, Eko Yuli sanggup mengangkat derajat martabat bangsa Indonesia. Lewat angkat besi, Eko Yuli berhasil mengangkat taraf hidup keluarganya. Maka itu, jangan meminta maaf, Eko Yuli. Sebaliknya, kami, bangsa Indonesia yg harus berterima kasih.
Terima Kasih, Eko Yuli! Hari ini 09:09