roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
suarasurabaya.net| Darah transfusi dari PMI Surabaya tercemar virus HIV (human immunodeficiency virus), cikal bakal penyakit AIDS yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Temuan ini berdasarkan laporan HERMIN SUTRIMARTINI (46) warga Karangan Jaya I/16 yang membeli 4 bag darah dari PMI JL. Embong Ploso untuk ibunya, Ny MASLINAH (82) yang dirawat di Graha Amerta RSU dr Soetomo.
Pada suarasurabaya.net, HERMIN menceritakan, pada Senin (13/10) lalu setelah ibunya masuk RS dengan keluhan penyakit anemia, dokter menyarankan HERMIN untuk membeli 5 bag darah karena Hb darah ibunya hanya 5,8.
Karena di PMI Jl. Embong Ploso hanya tersedia 4 bag darah golongan O, akhirnya HERMIN hanya mendapatkan 4 dari 5 yang dibutuhkan. Oleh dokter yang memeriksa Ny MASLINAH, HERMIN ditawarkan untuk melakukan pemeriksaan ulang di laboratorium Graha Amerta.
Ternyata dari pemeriksaan laboratorium yang dibiayai sendiri oleh HERMIN, 1 dari 4 bag darah yang diperiksa mengandung virus HIV lemah. “Setelah pemeriksaan imonologi dan serologi anti HIV, hasilnya reaktif. Artinya mengandung virus HIV lemah,” ujar dia.
Yang membingungkannya, setelah komplain ke PMI Jl. Embong Ploso, harga darah yang dibelinya di Graha Amerta senilai Rp250 ribu/bag turun menjadi hanya Rp180/bag.
“Lalu untuk apa kita membayar Rp250 ribu/bag kalau dalam pemeriksaan ulang di rumah sakit ternyata masih ada bag darah yang lolos HIV. Saya terpaksa harus bayar ongkos pemeriksaan darah di Graha Amerta Rp280 ribu/bag lagi. Berarti untuk pembelian dan pemeriksaan ulang 4 bag darah, sekurang-kurangnya saya harus keluar uang lebih dari Rp1 juta,” ujarnya.
Menurut HERMIN, insiden ini sangat fatal. Jika PMI Surabaya punya standar pengamanan untuk pencemaran darah, seharusnya tidak ada darah yang keluar dari bunk darah PMI mengandung virus berbahaya. “Kalau orang yang tidak punya uang untuk pemeriksaan ulang di rumah sakit, pasti sudah tertular HIV. Ini bagaimana?” ujarnya.(edy)