yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Ketua Komisi B Ketua Komisi B DPRD Jabar Selly Andriany Gantina mengkhawatirkan adanya ulah oknum nakal yang memanfaatkan kelangkaan daging sapi yang terjadi akhir-akhir ini di Jawa Barat.
“Saya belum mendapatkan informasi dari masyarakat. Saya tidak tau di Jabar apakah ada atau tidak daging celeng, tapi kalau ini terus terjadi sangat memungkinkan adanya oknum itu,” kata Selly di Bandung, Kamis (24/1/2013).
Dia menilai, hal tersebut sangat memungkin terjadi karena beberapa produsen harus menjaga keberlangsungan produksi. Dengan kelangkaan tersebut, bukan tidak mungkin para produsen akan bertindak ‘nakal’.
Untuk itu, dia beraharap fungsi pengawasan tidak dianggap sepele oleh berbagai pihak, kalau diperlukan menggunakan labelisasi halal.
“Jadi kita harus bekerjasama dengan pihak Kepolisian dan pihak terkait. Dan yang paling terpenting pemerintah di Kabupaten/Kota sejauh mana mereka bisa mengatasi hal itu,” tuturnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan menjalin koordinasi dengan pihak Kepolisian untuk melakukan pengawasan terhadap kelangkaan daging di pasaran dan perkembangan perekonomian di Jabar.
Senada dengan Selly, Sekjen Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Jabar, Yayat Sumirat, juga mengkhawatirkan hal serupa. “Kekhawatiran tentu saja ada mengingat daging sapi langka dan pedangan mogok berjualan,” katanya.
Yayat mengkhawatirkan, kecurangan terjadi pada produk turunan daging sapi seperti baso dan sosis. Pasalnya, sejauh ini ada beberapa kasus pedagang yang mencampur daging sapi dengan daging babi.
Namun, hingga kini pihaknya belum menerima laporan mengenai adanya kecurangan tersebut. “Kami jamin di Jabar belum ada, tapi tidak tahu kalau di wilayah lain ada,” paparnya.
“Saya belum mendapatkan informasi dari masyarakat. Saya tidak tau di Jabar apakah ada atau tidak daging celeng, tapi kalau ini terus terjadi sangat memungkinkan adanya oknum itu,” kata Selly di Bandung, Kamis (24/1/2013).
Dia menilai, hal tersebut sangat memungkin terjadi karena beberapa produsen harus menjaga keberlangsungan produksi. Dengan kelangkaan tersebut, bukan tidak mungkin para produsen akan bertindak ‘nakal’.
Untuk itu, dia beraharap fungsi pengawasan tidak dianggap sepele oleh berbagai pihak, kalau diperlukan menggunakan labelisasi halal.
“Jadi kita harus bekerjasama dengan pihak Kepolisian dan pihak terkait. Dan yang paling terpenting pemerintah di Kabupaten/Kota sejauh mana mereka bisa mengatasi hal itu,” tuturnya.
Dalam waktu dekat, pihaknya akan menjalin koordinasi dengan pihak Kepolisian untuk melakukan pengawasan terhadap kelangkaan daging di pasaran dan perkembangan perekonomian di Jabar.
Senada dengan Selly, Sekjen Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Jabar, Yayat Sumirat, juga mengkhawatirkan hal serupa. “Kekhawatiran tentu saja ada mengingat daging sapi langka dan pedangan mogok berjualan,” katanya.
Yayat mengkhawatirkan, kecurangan terjadi pada produk turunan daging sapi seperti baso dan sosis. Pasalnya, sejauh ini ada beberapa kasus pedagang yang mencampur daging sapi dengan daging babi.
Namun, hingga kini pihaknya belum menerima laporan mengenai adanya kecurangan tersebut. “Kami jamin di Jabar belum ada, tapi tidak tahu kalau di wilayah lain ada,” paparnya.