Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Ada hal yg saya bayangkan sejak usia 12 tahun. Urusan uang kembalian, kupikir yg ada di video game akan jadi kenyataan. Uang yg cuma angka-angka di layar saja. Ternyata seakrang membawa kerugian juga. Apalagi kalau tidak ada sinyal internet & listrik.
Spoiler for Duit:
Setelah uang logam tersingkirkan oleh keberadaan uang kertas yg nilainya semu, kini muncul yg namanya uang digital atau uang elektronik, kita sebut saja uang maya. Mata uang yg tidak akan pernah ada dalam genggaman tangan, yg tampak cuma angka-angka di layar, tidak ada bedanya dengan angka-angka di saldo tabungan. Saldo yg dapat berpindah tangan tanpa harus mengpakai mesin ATM. Cukup dengan mengpakai ponsel, dapat beli apa saja selama masih ada saldo, ditambah lagi dengan tawaran potongan harga yg cukup menggiurkan. Tidak seperti kartu ATM yg harus mengpakai mesin gesek, uang digital di ponsel cuma butuh sebuah gambar menyerupai rajah, pengguna cukup mengarahkan ponselnya ke gambar itu.
Namun, kelemahan keduanya bergantung kepada keberadaan listrik & jaringan internet. Ketika listrik & internet padam, uang maya itu sama sekali tidak dapat dipakai. Mengingatkan kembali pada peristiwa padam listrik di Jawa Barat. Sebagian penduduk di kota-kota seperti Bandung & Jakarta mengalami penderitaan karena tidak memegang uang tunai. Tidak dapat membelanjakan uangnya karena ketiadaan listrik & internet. Orang yg kelaparan cuma sanggup menahan lapar karena uang simpanan mereka tidak dapat ditukar dengan apapun. Pedagang pun tidak dapat menerima pembayaran dengan uang maya. Nilai uang kertas yg semu & uang elektronik yg maya suatu ketika akan runtuh & tidak berlaku lagi. Lain halnya dengan logam mulia, uang ini tidak lekang dimakan zaman, berlaku di dunia manusia & dunia gaib.
Sesungguhnya uang digital adalah alat untuk mempermudah belanja online di internet & sebagai pengganti kartu debit, tidak lebih dari itu. Beruntunglah penggunaannya masih dibatasi. Saldo setiap orang dalam uang digital dibatasi, setiap merk membatasi dengan jumlah berbeda-beda. Keuntungan uang digital ini mempermudah pembayaran untuk berbelanja, keamanan lebih terjamin, membatasi pengeluaran, & mendapat potongan harga.
Yang berbahaya adalah ketika orang-orang sudah sangat ketergantungan dengan uang digital. Pernah ada istilah Cashless Society yg digaungkan oleh sebuah bunk. Mereka mengajak orang-orang untuk meninggalkan uang kertas & uang logam supaya beralih ke uang maya. Menurut mereka ini akan memudahkan orang untuk mengerjakan perdagangan. Namun, ada udang di balik batu. Usaha mereka mengalami kegagalan di tahun 2014, ketika itu ada bunk yg jadi sponsor di sebuah acara akbar yg berujung drama di Jakarta. bunk tersebut mengharapkan semua lapak pedagang memberlakukan uang digital untuk pembayaran dagangannya. Setiap pembeli diharuskan untuk menukarkan uangnya ke uang digital. Jika tidak, mereka tidak dapat berbelanja. Di hari itu, rencana bunk digagalkan oleh para pedagang & pembeli. Jual beli tetap mengpakai uang kertas & uang logam.
Aku ingat kejadian waktu padam listrik di Jawa Barat. Banyak orang yg kesusahan gara-gara uang digital.
Jangankan sekarang, dulu 100 Rupiah saja saya dapat dapat sepotong tahu isi. kalau bayar 200 Rupiah dapat yg besar.
sumber Hari ini 10:01
Spoiler for Duit:
Setelah uang logam tersingkirkan oleh keberadaan uang kertas yg nilainya semu, kini muncul yg namanya uang digital atau uang elektronik, kita sebut saja uang maya. Mata uang yg tidak akan pernah ada dalam genggaman tangan, yg tampak cuma angka-angka di layar, tidak ada bedanya dengan angka-angka di saldo tabungan. Saldo yg dapat berpindah tangan tanpa harus mengpakai mesin ATM. Cukup dengan mengpakai ponsel, dapat beli apa saja selama masih ada saldo, ditambah lagi dengan tawaran potongan harga yg cukup menggiurkan. Tidak seperti kartu ATM yg harus mengpakai mesin gesek, uang digital di ponsel cuma butuh sebuah gambar menyerupai rajah, pengguna cukup mengarahkan ponselnya ke gambar itu.
Namun, kelemahan keduanya bergantung kepada keberadaan listrik & jaringan internet. Ketika listrik & internet padam, uang maya itu sama sekali tidak dapat dipakai. Mengingatkan kembali pada peristiwa padam listrik di Jawa Barat. Sebagian penduduk di kota-kota seperti Bandung & Jakarta mengalami penderitaan karena tidak memegang uang tunai. Tidak dapat membelanjakan uangnya karena ketiadaan listrik & internet. Orang yg kelaparan cuma sanggup menahan lapar karena uang simpanan mereka tidak dapat ditukar dengan apapun. Pedagang pun tidak dapat menerima pembayaran dengan uang maya. Nilai uang kertas yg semu & uang elektronik yg maya suatu ketika akan runtuh & tidak berlaku lagi. Lain halnya dengan logam mulia, uang ini tidak lekang dimakan zaman, berlaku di dunia manusia & dunia gaib.
Sesungguhnya uang digital adalah alat untuk mempermudah belanja online di internet & sebagai pengganti kartu debit, tidak lebih dari itu. Beruntunglah penggunaannya masih dibatasi. Saldo setiap orang dalam uang digital dibatasi, setiap merk membatasi dengan jumlah berbeda-beda. Keuntungan uang digital ini mempermudah pembayaran untuk berbelanja, keamanan lebih terjamin, membatasi pengeluaran, & mendapat potongan harga.
Yang berbahaya adalah ketika orang-orang sudah sangat ketergantungan dengan uang digital. Pernah ada istilah Cashless Society yg digaungkan oleh sebuah bunk. Mereka mengajak orang-orang untuk meninggalkan uang kertas & uang logam supaya beralih ke uang maya. Menurut mereka ini akan memudahkan orang untuk mengerjakan perdagangan. Namun, ada udang di balik batu. Usaha mereka mengalami kegagalan di tahun 2014, ketika itu ada bunk yg jadi sponsor di sebuah acara akbar yg berujung drama di Jakarta. bunk tersebut mengharapkan semua lapak pedagang memberlakukan uang digital untuk pembayaran dagangannya. Setiap pembeli diharuskan untuk menukarkan uangnya ke uang digital. Jika tidak, mereka tidak dapat berbelanja. Di hari itu, rencana bunk digagalkan oleh para pedagang & pembeli. Jual beli tetap mengpakai uang kertas & uang logam.
Aku ingat kejadian waktu padam listrik di Jawa Barat. Banyak orang yg kesusahan gara-gara uang digital.
Jangankan sekarang, dulu 100 Rupiah saja saya dapat dapat sepotong tahu isi. kalau bayar 200 Rupiah dapat yg besar.
sumber Hari ini 10:01