weblinkcenter
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 49981
- Sejak
- 12 Agt 2008
- Pesan
- 31
- Nilai reaksi
- 4
- Poin
- 8
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa
mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa
membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran
uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup". Seketika
si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya.
Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh,
dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir
sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi
penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun
emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya
petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata
cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata
"cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya
belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa
pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang
perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang
tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa
berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan
kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak
perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti
berusaha dan berkarya. "Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg
dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita
terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia
membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada
pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata "Cukup"
mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa
membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran
uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata "cukup". Seketika
si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya.
Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh,
dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir
sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi
penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun
emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya
petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata
cukup. Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata
"cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya
belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa
pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang
perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang
tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa
berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan
kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak
perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti
berusaha dan berkarya. "Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg
dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita
terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia
membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada
pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata "Cukup"
