• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia

Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia


Foto: sumber: Bambang Muryanto
Noor Sudiyati, pemuka penghayat kepercayaan Hardo Pusoro sedang berdoa dalam ritual sujud agung penghayat kepercayaan yg jadi puncak acara Nutup Suro (menutup bulan suro) yg diadakan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (MLKI DIY), di Pantai Bugel, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (17/9).

Independen--- Ketika mentari sudah tenggelam & gelap mulai menyelimuti Pantai
Bugel di Kabupaten Kulon Progo, Noor Sudiyati bersama para penganut penghayat kepercayaan berdiam diri dalam hening untuk memanjatkan doa. Mereka menjalankan ritual sujud agung penghayat kepercayaan, puncak acara Nutup Suro (menutup Bulan Suro) yg diadakan Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (MLKI DIY), Kamis (17/9).

Noor Sudiyati, Ketua Pegawas Yayasan Warga Hardo Pusoro yg duduk selonjor itu memejamkan mata & dua belah tangannya ditangkupkan di depan dada. Semilir angin pantai membelai mereka yg khusuk berdoa kepada Tuhan, ada yg duduk bersila atau memilih berdiri supaya dapat menjalankan protokol kesehatan Covid-19, menjaga jarak.

Bau harum dupa yg dibakar segera hilang tak tersisa ditiup angin laut. Suasana hening, cuma gemuruh debur ombak laut selatan yg terdengar.

Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia



Upacara Nutup Suro dilakukan karena para penghayat kepercayaan berpendapat Bulan Suro adalah bulan suci, awal kehidupan manusia. Pada masa pandemi Covid-19, upacara ini juga jadi doa bersama tolak bala supaya virus yg muncul di Wuhan, Cina akhir tahun 2019 dapat segera berlalu.

Selama Bulan Suro, orang Jawa menjalankan tirakat (laku spiritual) supaya hidupnya tenteram. Apalagi saat ini sedang masa tanggap darurat Covid-19, semoga dapat cepat selesai, ujar Ketua Presidium MLKI DIY, Bambang Purnomo saat memberikan sambutan dalam ritual itu.

Setelah sujud agung usai, saya menemui Noor yg malam itu berkebaya, menciptakan janji berjumpa untuk menggali pendapatnya tentang pandemi Covid-19. Penganut agama leluhur Hardo Pusoro & dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini memiliki pandangan berbeda kepada Covid-19, tidak seperti kebanyakan orang yg menganggapnya sebagai
musuh, dibenci & harus dimusnahkan.

Dalam Forum Kamisan Daring bertema Agama Leluhur Menyikapi Covid-19 yg diselenggarakan Yayasan Satu Nama & Center for Religious and Cross-Cultural Studies Universitas Gadjah Mada (CRCS UGM), Kamis(7/5), anggota Komnas Perempuan, Dewi Kanti memberikan apresiasi kepada pandangan Noor.

Pendekatan Bu Noor itu humanis & feminis. Ini berguna bagi Indonesia yg sudah kehilangan arah, ujarnya.

Pandangan Kelompok Penghayat Kepercayaan (ada yg menyebut agama leluhur, agama asli, agama nusantara atau agama lokal) kepada pandemi Covid-19 memang jarang didengar masyarakat. Media massa & pemerintah cuma menyuarakan pandangan tokoh-tokoh dari enam agama yg diakui secara resmi oleh negara & ulama yg jadi selebriti.

Sejak jaman kemerdekaan hingga saat ini para penganut agama leluhur yg terdiri penghayat kepercayaan & masyarakat adat masih mengalami diskriminasi dari negara. Sumbernya adalah kebijakan negara yg mengpakai definisi agama versi agama-agama dunia yg mensyaratkan antara lain harus ada nabi & kitab suci sehingga tidak dapat memasukkan agama leluhur sebagai suatu agama.


Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia


Dalam buku berjudul Pasang Surut Rekognisi Agama Leluhur dalam Politik Agama di Indonesia (2017), Samsul Maarif menulis penganut agama leluhur ini dicap sebagai penganut animisme, budaya, dituduh pendukung komunis & harus pindah ke agama resmi. Samsul adalah peneliti agama leluhur & mengajar pada CRCS UGM.

Para penganut agama leluhur adalah kelompok minoritas di Indonesia. Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Mahaesa mencatat ada 182 organisasi agama leluhur di tingkat nasional & ribuan cabang di daerah, tetapi mereka dianggap tidak ada sehingga negara tidak melayani hak-hak dasar mereka.

Dalam webinar itu, Noor berpendapat manusia & seluruh makhluk hidup baik tanaman & fauna, termasuk coronavirus disease 19 (Covid-19) adalah tamu di bumi & harus hidup saling menghormati. Para penghayat kepercayaan meyakini apapun dapat terjadi di dunia ini & Covid-19 datang sebagai tamu istimewa di bumi untuk mengingatkan umat manusia
agar menjaga keseimbangan alam.

Para pakar sendiri menduga munculnya Covid-19 karena manusia merusak lingkungan. Aktivitas yg merusak habitat satwa liar, menangkap & memperdagangkan satwa liar menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran patogen di antara spesies yg semula tidak memiliki kontak langsung dengan virus ini.

Bumi sudah banyak mengalami kerusakan yg berdampak pada perubahan iklim. Semua kerusakan itu adalah virus bagi bumi, Covid-19 ini datang sebagai anti virus. Itu pandangan kami, ujar seniman keramik itu.

Di Indonesia, pembangunan yg mengejar keuntungan ekonomi sudah menyebabkan kerusakan lingkungan serius. Ambil contoh penambangan batu bara di Kalimantan Timur yg menurut Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yg hingga tahun 2019 menyisakan 1.735 lubang berukuran akbar tanpa direklamasi. Sebanyak 33 anak meninggal karena tenggelam dalam lubang akbar itu.

Covid-19 dapat jadi sinyal pencerahan supaya kita menata jagad, tambahnya.

Aktivitas ekonomi yg berhenti beberapa saat akibat Covid-19, dapat menciptakan bumi jadi segar lagi. Di perkotaan, udara jadi lebih bersih karena orang harus tinggal di rumah sehingga tidak mengpakai kendaraan bermotor.

Dalam diskusi itu, peserta juga mendengarkan wejangan dari Kus Wijoyo, pemuka dari Paguyuban Sumarah. Saya mengenal Pak Kus beberapa tahun lalu ketika ia mengawasi pemberian pelajaran agama kepada seorang murid pemeluk agama leluhur di suatu SMA negeri di Yogyakarta. Waktu itu proses belajar berlangsung di dalam sebuah aula akbar padahal cuma ada murid & satu guru penghayat kepercayaan.

Covid-19 ini adalah peringatan dari Tuhan supaya manusia mawas diri, menjaga hati & sadar untuk menjaga perilaku, ujarnya dalam webinar itu.

Pernyataan Kus Wijoyo ini sejalan dengan pendapat Noor. Manusia perlu menata perilakunya, termasuk kepada alam semesta. Sekali lagi saya menemukan unsur supaya menghormati alam dalam perspektif tentang Covid-19.

Rasa penasaran menuntun saya menemui penganut agama leluhur, Sumarah Probo. Saya baru mengenal agama leluhur ini saat hadir dalam upacara Nutup Sura di Pantai Bugel.

Waktu itu, seorang perempuan dari Sumarah Purbo menjelaskan tentang makna sesaji bernama Seratan Winadi yg dihadirkan dalam upacara itu. Ada air, api, aneka makanan jajanan pasar, daging ayam & buah-buahan yg menerbitkan air liur.

Covid-19, Tamu Istimewa untuk Ingatkan Manusia



Saya datang ke Kantor Desa Wijirejo, Bantul yg ternyata adalah bekas rumah administratur pabrik gula pada jaman kolonial itu untuk menemui Ketua Sumarah Praba tingkat nasional, Heri Sujoko. Perangkat Desa Wijirejo ini juga menjabat ketua MLKI Kabupaten Bantul.

Ia menjelaskan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia & alam yg tidak ideal lagi jadi penyebab munculnya Covid-19. Heri mengatakan manusia sudah banyak mengerjakan kerusakan kepada alam seperti perusakan hutan yg khususnya terjadi di luar Pulau Jawa.

Alam juga berhak marah juga, bentuknya tidak harus seperti banjir, ujarnya.

Yayasan Satu Nama menerbitkan buku berjudul Kepercayaan & Pandemi, Antologi Esai Penghayat Kepercayaan Menghadapi Covid-19 setebal 506 halaman yg diluncurkan di Kampung Mataraman, Bantul, Senin (21/9). Noor Sudiyati yg jadi salah satu pembahas berharap banyak orang dapat membacanya karena isinya dapat jadi vitamin dalam keadaan pandemi.

Dalam buku itu, ada satu artikel berjudul Acancut Taliwanda: Kepeloporan Perempuan Penghayat Menghadapi Pandemi Covid-19 yg ditulis Ketua Umum Pengurus Pusat Perempuan Penghayat Indonesia (Puanhayati), Dian Jennie Tjahjawati bersama Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, Akhol Firdaus.

Artikel ini menarik karena dapat memberikan penjelasan mengapa dalam pandangannya para penganut agama leluhur sering mengaitkan munculnya Covid-19 adalah akibat ulah manusia yg merusak alam. Dian & Akhol menulis dasar dari spritualitas penghayat adalah tiga konsep yg saling berkaitan erat, yaitu Manunggaling Kawula Gusti (proses pencarian kepada substansi ketuhanan), Sangkan Paraning Dumadi (asal usul & tujuan hidup manusia), & Memayu Hayuning Bawana (partisipasi manusia dalam menjaga keharmonisan alam semesta).

Selanjutnya mereka menulis,Dalam pandangan dunia penghayat, pengenalan kepada asal usul & kemanunggalan sering membimbing seseorang untuk memancarkan budi pekerti luhur. Hal ini dimanifestasikan dalam penerimaan & keterlibatan total seseorang
untuk jadi bagian dari keseimbangan atau harmoni alam semesta. Wawasan seperti ini sangat mengidealkan keselarasan sebagai ruang jumpa antara diri pribadi manusia (jagad cilik) dengan alam semesta (jagat gedhe).

Tulisan Dian & Akhol menegaskan dalam spirtualisme penghayat kepercayaan, alam adalah mahluk hidup yg harus dijaga & dihormati. Seperti dengan sesamanya, manusia harus menghormati & tidak boleh bertindak semena-mena kepada bumi & isinya.

Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, masyarakat perlu merenungkan pandangan para pemeluk agama leluhur. Dosen CRCS UGM, Samsul Maarif dalam webinar Agama Leluhur Menghadapi Covid-19 mengatakan hilangnya perspektif penganut agama leluhur dalam soal Covid-19 ini adalah akibat diskriminasi yg dilakukan secara sistematis.

Mereka ada tetapi dianggap tidak ada.

Pandangannya sangat bijaksana, ini adalah aset kekayaan bangsa yg sayang sekali kalau dilalaikan, ujarnya.

Memikirkan pandangan para pemeluk agama leluhur, saya ingat dengan salah satu pikiran tokoh pejuang & spiritual dari India, Mahatma Gandhi. Ia mengatakan, bumi ini dapat mencukupi kebutuhan setiap orang tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan setiap orang.


Penulis : Bambang Muryanto
Tulisan ini dibuat dengan dukungan fellowship dari AJI Indonesia & Maverick.


Hari ini 09:17
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.