Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Sepengetahuanku yg namanya isoman itu berada di dalam rumah, tidak boleh keluar rumah untuk mengerjakan apapun. Jadi segala kebutuhan yg kita perlukan dapat dibeli dengan cara online. Bisa juga bila ada saudara atau tetangga yg baik hati menolong menyediakan kebutuhan makanan. Tidak belanja ke tukang sayur atau ke swalayan. Akan tetapi kenyataannya lain dengan yg saya alami. Bila orang lain isoman sering berada di rumah maka tidak denganku. Karena suami & anak yg sedang menjalani isolasi di RS membutuhkan air yg banyak, jatah minum dari RS tahu sendirikan, gak mungkin diberikan botol besar, tetapi cuma segelas dibarengkan dengan jatah makan. Sehingga sangat kurang bagi pasien covid-19. Keluarga pasien harus sering menyediakan air & kebutuhan lainnya.
Hampir setiap hari saya mengantar air mineral ukuran 1,5 liter kurang lebih sebanyak 5 botol untuk suami & anakku. Untung saja letak RS cuma sekitar 6 kilometer dari rumah. Bergantian saya & si kakak, keponakanku. Kabarnya kalau sedang menderita penyakit covid-19 harus banyak konsumsi air. Hal dilakukan agar terhindar dari masalah dehidrasi. Apalagi obat yg dimasukkan ke dalam cairan infus sangat banyak sekali. Diyakini oleh suami dengan banyak konsumsi air ketika minum obat akan memudahkan penyerapan. Entah benar atau salah pendapat ini.
Di hari ketiga saat di RS tiba-tiba salah satu perawat ruang isolasi menghubungiku lewat pesan di aplikasi WhatsApp. Aku disuruhnya untuk segera menuju ruang isolasi berkaitan dengan kondisi suamiku. Bergegas saya mengeluarkan motor untuk memenuhi panggilan ruang isolasi. Kakak ipar menyuruh anaknya untuk menemaniku. Benar saja baru jalan sekitar 200 meter saya sudah gemetar, kupilih bonceng ponakan saja yg tadinya saya di depan. Hati teras tak karuan, sambil memohon supaya bukan kabar buruk yg kuterima. Sehingga di RS saya berjalan setengah berlari menuju ruang isolasi. Perawat berwajah manis sudah menungguku. Dia mempersilakanku untuk duduk dikursi depannya. Kemudian perawat tersebut menjelaskan kondisi suami yg tiba-tiba menurun. Saturasi 84, alat oksigen harus diganti ke level paling tinggi. Si mbak perawat menjelaskan bahwa kondisi suamiku dapat berubah sewaktu-waktu karena covid-19 yg singgah merupakan tipe yg berbeda dengan sebelumnya. Begitu juga dengan alat bantu nafas untuk anakku juga dinaikkan levelnya. Aku diminta untuk banyak berdoa dengan kondisi suamiku tersebut, karena dapat saja berakibat pada kematian.
Penjelasan perawat itu menciptakanku terhenyak. Aku benar-benar kaget, dalam hati berkata" duh mbak perawat mbok ya yg halus kalau menyampaikan". Andai saja dia bilang" kondisi suami ibuk dapat saja berubah sewaktu-waktu ke hal yg paling buruk". Dengan penjelasan seperti itu mungkin tidak menciptakanku gemetaran hingga berlinang air mata. Sebenarnya kondisi suami setelah diganti alat bantu oksigen sudah berangsur baik, saturasi naik jadi 96. Agak lega hatiku ketika diakhir perawat tadi menjelaskan dengan digantinya alat saturasi dapat naik lagi ke angka normal Mungkin karena varian yg singgah berbeda dengan saat awal-awal covid masuk Indonesia dapat saja kondisi kesehatan suami jadi berkebalikannya. Setelah perawat selesai memberikan penjelasan kemudian dia berpamitan masuk ruang isolasi lagi. Sementara saya & keponakanku turun ke lantai satu menuju tempat parkir. Aku masih pilih diboceng saja meski hati sudah lega.
Setiap hari saya selalu menghubungi suami & anak, menanyakan kondisinya. Anakku menceritakan kondisi semakin menurun. Setiap gerak sering batuk, bangun untuk makan atau minum juga batuk hebat. Letak kamar mandi agak jauh, berada di luar ruang isolasi. Satu kamar mandi untuk dua ruang isolasi. Satu ruang isolasi berisi 5 orang. anakdan suami mengatakan untuk dapat mencapai kamar mandi adalah suatu perjuangan. Yang dirasakan anakku seluruh badannya lemas, pusing & mual. Berjalan kembali menuju tempat tidurnya pun seolah tak hingga, nafas terengah-engah seakan mau pingsan. Keadaan ini menciptakannya bertambah stres sehingga selama di RS cuma sekali dapat buang air besar. Bisa dibayangkan sakitnya mengalami sembelit. Aku sarankan untuk mengpakai pispot saja tidak usah ke kamar mandi. Ternyata sesuai dengan yg disarankan perawat untuk bedrest hingga kondisi membaik. Selama lima hari mereka bedrest, suami mengpakai botol bekas minumnya untuk buang air kecil. Sementara anakku mengpakai pispot. Sehari sekali perawat masuk untuk mengecek kondisi pasien & membersihkan pispot.
Di rumah tidak lepas-lepas kupanjatkan doa pada Alloh supaya mereka disegerakan kesembuhannya. Kumintakan juga doa pada saudara maupun teman-temanku untuk kesembuhan suami & anakku. Hampir setiap hari membaca informasi di beberapa grup sering beita kematian. Sehari dalam satu grup dapat dua orang meninggal karena covid.
Dihari ke delapan saya & si kakak mengantarkan air mineral & buah ke RS. Sekalian mengambil baju-baju kotor. Untuk mengambil baju kotor harus turun ke depan IGD. Semua baju kotor pasien setelah disemprot dengan desinfektan di letakkan di meja depan IGD. Baju-baju tersebut dibungkus plastik & disterilkan juga. Saat menunggu baju kotor, tiba-tiba ruang isolasi meneleponku membertahukan bahwa saat itu juga suami boleh pulang karena hasil swap negatif. Gembira rasanya mendengar suami boleh pulang. Akan tetapi anakku harus tinggal di RS karena swap masih positif, dia mengalami long covid.Antara sedih & gembira, ada yg pulang ada yg tinggal. Kasihan dia stres sepertinya.
Aku masih menunggu di depan IGD untuk mengambil baju kotor tadi. Kemudian perawat mengantarkan suamiku ke depan IGD juga. Setelah itu pulang dengan naik angkutan sementara si kakak naik motor sendirian. Sehingga di rumah suamiku masih kepikiran dengan anakku, dia tidak tenang & sangat khawatir meski di ruang isolasi masih ada teman pasien yg lain. Semalam saya & suami berencana untuk meminta pulang anakku, cukup dengan isoman saja. Keesokan harinya saya mengantarkan prebiotik & air mineral. Lalu kucoba komunikasikan dengan perawat bila anakku isoman saja. Ternyata memang hari itu pihak RS mau memindah ke rumah SKB di Pandaan. Tempat menampung pasien covid yabg tidak mengalami komorbid. Aku & suami tidak menyetujui karena akan menambah beban si anak. Kondisinya sudah membaik cuma belum dapat BAB. Setelah dokter menanyakan jumlah anggota keluarga, jumlah kamar mandi, jumlah kamar tidur & adakah yg komorbid, semuanya sudah memenuhi prosedur isoman. Kemudian barulah di perbolehkan isoman di rumah.
Selamat tinggal RS, kami berkumpul lagi. Meski anakku long covid & masih positif selama di rumah kularang pakai masker. Kuanggap sehat, kita tetap duduk berdekatan, tidur-tiduran dikamarku sambil cerita betapa menderitanya berada di ruang isolasi karena jauh dari kamar mandi. Di RS setiap pasien cuma memikirkan diri sendiri untuk dapat mempertahankan hidup. Bagaimana caranya mempunyai semangat untuk sembuh. Benar- benar perjuangan mengatakan suami & anakku. Mereka satu ruangan tetapi seperti beda ruang. Tidak kuat mengeluarkan suara untuk saling menyemangati. Saking lemahnya, jalan lima langkah sudah terengah-engah. Jangan hingga kembali lagi ke RS. Terima kasih Bu dokter & para perawat yg sudah menolong kesembuhan suami & anakku.
Rasa nyaman berada di rumah meski mengalami long covid sangat menolong kesembuhan. Meski perawat memberi pesan supaya tetap pakai masker selama di rumah tetapi saya menganggap anakku sembuh. Saudara dekat pada menjenguk ke rumah tanpa ada rasa khawatir. Sepuluh hari plus tiga hari dari kembali anakku merupakan hari kebebasan kami dari covid-19. Jangan pernah singgah lagi. Selamat tinggal covid kami sudah sembuh. Suplemen yg kami konsumsi amat sangat mbantu khususnya suplemen doa.
Terima kasih khususon para pendoa. Ada cerita di balik covid-19 singgah sejenak.
Cerita sebelumnya klik link di bawah ini
part 5 Hari ini 21:20
Hampir setiap hari saya mengantar air mineral ukuran 1,5 liter kurang lebih sebanyak 5 botol untuk suami & anakku. Untung saja letak RS cuma sekitar 6 kilometer dari rumah. Bergantian saya & si kakak, keponakanku. Kabarnya kalau sedang menderita penyakit covid-19 harus banyak konsumsi air. Hal dilakukan agar terhindar dari masalah dehidrasi. Apalagi obat yg dimasukkan ke dalam cairan infus sangat banyak sekali. Diyakini oleh suami dengan banyak konsumsi air ketika minum obat akan memudahkan penyerapan. Entah benar atau salah pendapat ini.
Di hari ketiga saat di RS tiba-tiba salah satu perawat ruang isolasi menghubungiku lewat pesan di aplikasi WhatsApp. Aku disuruhnya untuk segera menuju ruang isolasi berkaitan dengan kondisi suamiku. Bergegas saya mengeluarkan motor untuk memenuhi panggilan ruang isolasi. Kakak ipar menyuruh anaknya untuk menemaniku. Benar saja baru jalan sekitar 200 meter saya sudah gemetar, kupilih bonceng ponakan saja yg tadinya saya di depan. Hati teras tak karuan, sambil memohon supaya bukan kabar buruk yg kuterima. Sehingga di RS saya berjalan setengah berlari menuju ruang isolasi. Perawat berwajah manis sudah menungguku. Dia mempersilakanku untuk duduk dikursi depannya. Kemudian perawat tersebut menjelaskan kondisi suami yg tiba-tiba menurun. Saturasi 84, alat oksigen harus diganti ke level paling tinggi. Si mbak perawat menjelaskan bahwa kondisi suamiku dapat berubah sewaktu-waktu karena covid-19 yg singgah merupakan tipe yg berbeda dengan sebelumnya. Begitu juga dengan alat bantu nafas untuk anakku juga dinaikkan levelnya. Aku diminta untuk banyak berdoa dengan kondisi suamiku tersebut, karena dapat saja berakibat pada kematian.
Penjelasan perawat itu menciptakanku terhenyak. Aku benar-benar kaget, dalam hati berkata" duh mbak perawat mbok ya yg halus kalau menyampaikan". Andai saja dia bilang" kondisi suami ibuk dapat saja berubah sewaktu-waktu ke hal yg paling buruk". Dengan penjelasan seperti itu mungkin tidak menciptakanku gemetaran hingga berlinang air mata. Sebenarnya kondisi suami setelah diganti alat bantu oksigen sudah berangsur baik, saturasi naik jadi 96. Agak lega hatiku ketika diakhir perawat tadi menjelaskan dengan digantinya alat saturasi dapat naik lagi ke angka normal Mungkin karena varian yg singgah berbeda dengan saat awal-awal covid masuk Indonesia dapat saja kondisi kesehatan suami jadi berkebalikannya. Setelah perawat selesai memberikan penjelasan kemudian dia berpamitan masuk ruang isolasi lagi. Sementara saya & keponakanku turun ke lantai satu menuju tempat parkir. Aku masih pilih diboceng saja meski hati sudah lega.
Setiap hari saya selalu menghubungi suami & anak, menanyakan kondisinya. Anakku menceritakan kondisi semakin menurun. Setiap gerak sering batuk, bangun untuk makan atau minum juga batuk hebat. Letak kamar mandi agak jauh, berada di luar ruang isolasi. Satu kamar mandi untuk dua ruang isolasi. Satu ruang isolasi berisi 5 orang. anakdan suami mengatakan untuk dapat mencapai kamar mandi adalah suatu perjuangan. Yang dirasakan anakku seluruh badannya lemas, pusing & mual. Berjalan kembali menuju tempat tidurnya pun seolah tak hingga, nafas terengah-engah seakan mau pingsan. Keadaan ini menciptakannya bertambah stres sehingga selama di RS cuma sekali dapat buang air besar. Bisa dibayangkan sakitnya mengalami sembelit. Aku sarankan untuk mengpakai pispot saja tidak usah ke kamar mandi. Ternyata sesuai dengan yg disarankan perawat untuk bedrest hingga kondisi membaik. Selama lima hari mereka bedrest, suami mengpakai botol bekas minumnya untuk buang air kecil. Sementara anakku mengpakai pispot. Sehari sekali perawat masuk untuk mengecek kondisi pasien & membersihkan pispot.
Di rumah tidak lepas-lepas kupanjatkan doa pada Alloh supaya mereka disegerakan kesembuhannya. Kumintakan juga doa pada saudara maupun teman-temanku untuk kesembuhan suami & anakku. Hampir setiap hari membaca informasi di beberapa grup sering beita kematian. Sehari dalam satu grup dapat dua orang meninggal karena covid.
Dihari ke delapan saya & si kakak mengantarkan air mineral & buah ke RS. Sekalian mengambil baju-baju kotor. Untuk mengambil baju kotor harus turun ke depan IGD. Semua baju kotor pasien setelah disemprot dengan desinfektan di letakkan di meja depan IGD. Baju-baju tersebut dibungkus plastik & disterilkan juga. Saat menunggu baju kotor, tiba-tiba ruang isolasi meneleponku membertahukan bahwa saat itu juga suami boleh pulang karena hasil swap negatif. Gembira rasanya mendengar suami boleh pulang. Akan tetapi anakku harus tinggal di RS karena swap masih positif, dia mengalami long covid.Antara sedih & gembira, ada yg pulang ada yg tinggal. Kasihan dia stres sepertinya.
Aku masih menunggu di depan IGD untuk mengambil baju kotor tadi. Kemudian perawat mengantarkan suamiku ke depan IGD juga. Setelah itu pulang dengan naik angkutan sementara si kakak naik motor sendirian. Sehingga di rumah suamiku masih kepikiran dengan anakku, dia tidak tenang & sangat khawatir meski di ruang isolasi masih ada teman pasien yg lain. Semalam saya & suami berencana untuk meminta pulang anakku, cukup dengan isoman saja. Keesokan harinya saya mengantarkan prebiotik & air mineral. Lalu kucoba komunikasikan dengan perawat bila anakku isoman saja. Ternyata memang hari itu pihak RS mau memindah ke rumah SKB di Pandaan. Tempat menampung pasien covid yabg tidak mengalami komorbid. Aku & suami tidak menyetujui karena akan menambah beban si anak. Kondisinya sudah membaik cuma belum dapat BAB. Setelah dokter menanyakan jumlah anggota keluarga, jumlah kamar mandi, jumlah kamar tidur & adakah yg komorbid, semuanya sudah memenuhi prosedur isoman. Kemudian barulah di perbolehkan isoman di rumah.
Selamat tinggal RS, kami berkumpul lagi. Meski anakku long covid & masih positif selama di rumah kularang pakai masker. Kuanggap sehat, kita tetap duduk berdekatan, tidur-tiduran dikamarku sambil cerita betapa menderitanya berada di ruang isolasi karena jauh dari kamar mandi. Di RS setiap pasien cuma memikirkan diri sendiri untuk dapat mempertahankan hidup. Bagaimana caranya mempunyai semangat untuk sembuh. Benar- benar perjuangan mengatakan suami & anakku. Mereka satu ruangan tetapi seperti beda ruang. Tidak kuat mengeluarkan suara untuk saling menyemangati. Saking lemahnya, jalan lima langkah sudah terengah-engah. Jangan hingga kembali lagi ke RS. Terima kasih Bu dokter & para perawat yg sudah menolong kesembuhan suami & anakku.
Rasa nyaman berada di rumah meski mengalami long covid sangat menolong kesembuhan. Meski perawat memberi pesan supaya tetap pakai masker selama di rumah tetapi saya menganggap anakku sembuh. Saudara dekat pada menjenguk ke rumah tanpa ada rasa khawatir. Sepuluh hari plus tiga hari dari kembali anakku merupakan hari kebebasan kami dari covid-19. Jangan pernah singgah lagi. Selamat tinggal covid kami sudah sembuh. Suplemen yg kami konsumsi amat sangat mbantu khususnya suplemen doa.
Terima kasih khususon para pendoa. Ada cerita di balik covid-19 singgah sejenak.
Cerita sebelumnya klik link di bawah ini
part 5 Hari ini 21:20