Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dokumen pribadi
Melihat potret ini jadi teringat dua bulan yg lalu, anak satu-satunya terbaring lemah di rumah sakit bersama ayahnya. Mereka berdua berjuang untuk bertahan & membangkitkan semangat hidup masing-masing. Covid -19 sudah mengampiri keduanya.
Berawal dari telepon kepala dusun yg sebelumnya menghubungi suamiku akan tetapi tidak tersambung. Kebetulan kepala dusun tersebut masih keponakan suami. Dia memberikan informasi bahwa di Puskesmas sedang berlangsung vaksin masal. Aku pun memintanya untuk mendaftarkan suami & anak satu-satunya. Segera pula suami & anak kuhubungi untuk datang ke puskesmas yg letaknya tidak jauh dari rumah. Alhamdulillah tanpa antri lama mereka berdua sudah mendapatkan pelayanan vaksin.
Selang tiga hari setelah vaksin suami mulai merasakan hal yg tidak enak di bagian punggung. Jadi ceritanya hari Rabu tanggal 30 Juni divaksin tipe sinovac, kemudian pada hari Sabtu siang hari suami merasakan seolah-olah ada angin keras yg menghantam punggungnya. Sesuatu yg seperti angin tersebut berputar dipunggungnya beberapa saat. Karena agak pusing & berat dipunggung maka dia merebahkan tubuhnya sambil berpikir apa yg sedang dialaminya.
Jam 12.00 waktunya pulang kerja, hingga rumah suamiku masih merasakan badannya tidak enak. Demam, pusing, bersin, tenggorokan sakit & bagian dada hingga kepala terasa panas. Karena ada mulai merasakan gejala flu maka kuberikan obat persediaan di rumah. Sampai hari Senin kondisi belum berubah tetapi masih masuk kerja. Kemudian Selasa pagi dia diantar anak laki satu-satunya untuk pijat refleksi di tempat biasa kami pijat.
Di letak pijat lumayan lama antriannya. Kondisi pandemi banyak orang sakit dengan gejala yg sama. Rata- rata mengalami demam, tenggorokan sakit, juga merasakan flu. Dua jam lebih harus menunggu giliran, tak sebanding dengan durasi pijat yg sekitar 10 menit. Akan tetapi karena motivasi harap segera pulih maka semua yg antri dengan sabar menunggu giliran.
Sampai di rumah suami mengatakan kondisinya lebih enak dari sebelum pijat. Bagian leher belakang mulai lemas yg tadinya dirasakan sangat kaku. Seharian dipakainya untuk tidur berselimut rapat dengan maksud supaya dapat mengeluarkan keringat. Karena biasanya setelah berkeringat badan jadi enakan.
Keesokan hari kondisi masih belum begitu bagus sehingga harus istirahat di rumah. Saat akan sholat subuh anakku mengatakan kalau semalam tenggorokan sakit dana badannya hangat. Segera saya cek dengan termometer & hasilnya suhu 38 derajat. Tidak menunggu lama hari itu juga berangkat ke tempat pijat yg kemarin. Kondisi anak masih bagus jadi kuat untuk naik motor sendiri, lagi pula saya harus ke tempat kerja setelah mengantarkannya ke tempat pijat. Sempat kutanyakan pada pemijat sakit apa anakku, apakah tertular ayahnya. Jawaban pemijat kondisi udara lingkungan sudah kotor, banyak penyakit, orang akan mudah sakit.
(Bersambung) Hari ini 20:31