Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Setelah isoman selama 3 hari bukannya semakin membaik akan tetapi kondisi suami & anakku merosot jauh. Terutama suami harus mengerjakan proning seperti yg beredar di beberapa grup WhatsApp. Selain itu usaha lain seperti minum rempah-rempah juga kubuatkan setiap hari. Sampai dengan usaha menghirup uap air yg dicampur minyak kayu putih & bawang putih. Dengan melihat kondisi suamiku yg menghawatirkan pagi itu segera ku hubungi dokter PKM. Kuceritakan keadaan suami & anakku yg juga mulai mengalami muntah serta diare. Dokter PKM menyarankan untuk membawa suami ke rumah sakit. Tak berapa lama dikirimkannya link ketersediaan ruangan di RS rujukan. Setelah kubuka link tersebut & mulai kucari RD terdekat. Dari 4 RS cuma ada satu RS yg menerima pasien covid. Di aplikasi tersebut dituliskan tempat tidur kosong tersedia untuk satu orang. Setelah berunding dengan suami kuputuskan untuk bertahan dulu. Selepas maghrib kucoba membuka aplikasi ketersediaan bad untuk pasien covid. Ternyata di RS terdekat ada yg sudah kosong, kesempatan untuk dapat masuk RS untuk suami.
Malam hari semua nyaris tanpa tidur. Aku naik turun melihat kondisi anak yg semakin drop, makan tidak selera, beberapa kali muntah & mulai diare seperti yg dialami ayahnya. Panas semakin tinggi sehingga saya harus mengompres keningnya dengan handuk basah. Di kamar depan suami terkulai lemah dengan nafas tersengal-sengal. Jalan ke kamar mandi harus berpegangan pada dinding yg dilaluinya. Sampai jam 11 malam kondisi tidak berubah. Lalu ku ingat Bu Noer seorang teman yg penyintas covid & belum lama keluar dari RS tersebut. Aku tanyakan prosedur pesan bad di RS melalui WhatsApp. Ternyata dia belum tidur & langsung menelponku. Diceritakannya bagaimana proses dia & ibunya masuk RS. Diceritakan pula tentang pelayanan di sana. Pokoknya lengkaplah . Setelah dia pamit mengakhiri telepon.
Malam itu segera kupersiapkan perlengkapan suami & anak untuk satu pekan ke depan. Rencana pagi-pagi minta tolong pada keponakan suami untuk menyewakan ambulance. Setelah semua beres kuhampiri suami di kamar depan. Kondisinya sangat lemah, tidur dengan besandar disusunan bantal supaya mudah bernafas. Suamiku ternyata tidak dapat tidur, dia bangun & turun dari tempat tidur minta dibuatkan uap air panas dengan bawang putih. Sampai lewat tengah malam masih belum dapat tidur & susah bernafas. Aku kembali ke kamar untuk istirahat sejanak.
Keesokan hari setelah subuh saya hubungi keponakan suami dengan tujuan minta tolong untuk mencarikan ambulance di PKM. Kuceritakan kondisi suami & ada informasi bad kosong di RS terdekat. Beberapa saat kemudian keponakan suamiku menghubungiku lagi menceritakan bahwa PKM tidak menyewakan ambulance untuk orang yg terkena covid. Sempat bingung juga karena saya tidak punya mobil, waktu itu yg ada di pikiranku kalau sewa mobil pasti pemilik mobil tidak bersedia membawa pasien covid. . Kondisi pandemi seperti ini sangat sulit semua pada takut bila dekat dengan penderita covid. Hanya istighfar yg dapat kuucapkan, benar-benar bingung. Lalu diseberang sana ponakan bilang mau menelepon pak Kades dulu & menutup telepon genggamnya. Tak berselang lama pak Kades menghubungiku menanyakan keadaan suami & anakku. Kebetulan pak Kades ini teman sekolah adikku & juga satu klub gowes suamiku. Kemudian beliau bilang kalau suami dan serta anakku dipastika dapat masuk RS pagi ini karean sudah dihubungi oleh pihak PKM. Masyaaloh orang-orang baik sudah menolong keluargaku.
Bersambung
Cerita sebelumnya di link :
Part 3
Hari ini 19:13
Malam hari semua nyaris tanpa tidur. Aku naik turun melihat kondisi anak yg semakin drop, makan tidak selera, beberapa kali muntah & mulai diare seperti yg dialami ayahnya. Panas semakin tinggi sehingga saya harus mengompres keningnya dengan handuk basah. Di kamar depan suami terkulai lemah dengan nafas tersengal-sengal. Jalan ke kamar mandi harus berpegangan pada dinding yg dilaluinya. Sampai jam 11 malam kondisi tidak berubah. Lalu ku ingat Bu Noer seorang teman yg penyintas covid & belum lama keluar dari RS tersebut. Aku tanyakan prosedur pesan bad di RS melalui WhatsApp. Ternyata dia belum tidur & langsung menelponku. Diceritakannya bagaimana proses dia & ibunya masuk RS. Diceritakan pula tentang pelayanan di sana. Pokoknya lengkaplah . Setelah dia pamit mengakhiri telepon.
Malam itu segera kupersiapkan perlengkapan suami & anak untuk satu pekan ke depan. Rencana pagi-pagi minta tolong pada keponakan suami untuk menyewakan ambulance. Setelah semua beres kuhampiri suami di kamar depan. Kondisinya sangat lemah, tidur dengan besandar disusunan bantal supaya mudah bernafas. Suamiku ternyata tidak dapat tidur, dia bangun & turun dari tempat tidur minta dibuatkan uap air panas dengan bawang putih. Sampai lewat tengah malam masih belum dapat tidur & susah bernafas. Aku kembali ke kamar untuk istirahat sejanak.
Keesokan hari setelah subuh saya hubungi keponakan suami dengan tujuan minta tolong untuk mencarikan ambulance di PKM. Kuceritakan kondisi suami & ada informasi bad kosong di RS terdekat. Beberapa saat kemudian keponakan suamiku menghubungiku lagi menceritakan bahwa PKM tidak menyewakan ambulance untuk orang yg terkena covid. Sempat bingung juga karena saya tidak punya mobil, waktu itu yg ada di pikiranku kalau sewa mobil pasti pemilik mobil tidak bersedia membawa pasien covid. . Kondisi pandemi seperti ini sangat sulit semua pada takut bila dekat dengan penderita covid. Hanya istighfar yg dapat kuucapkan, benar-benar bingung. Lalu diseberang sana ponakan bilang mau menelepon pak Kades dulu & menutup telepon genggamnya. Tak berselang lama pak Kades menghubungiku menanyakan keadaan suami & anakku. Kebetulan pak Kades ini teman sekolah adikku & juga satu klub gowes suamiku. Kemudian beliau bilang kalau suami dan serta anakku dipastika dapat masuk RS pagi ini karean sudah dihubungi oleh pihak PKM. Masyaaloh orang-orang baik sudah menolong keluargaku.
Bersambung
Cerita sebelumnya di link :
Part 3
Hari ini 19:13