Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Melihat kondisi suamiku yg ada gejala batuk & tenggorokan sakit maka dokter menyarankan untuk mencari rumah sakit sendiri. Untuk anakku cukup isolasi berdikari & pemberian obat serta vitamin dari PKM. Sempat kutanyakan kenapa tidak ada rujukan dari pihak PKM, mengapa juga harusencari rah sakit sendiri. Kemudian dokter PKM tersebut menjelaskan apabila PKM memberikan rujukan sudah dipastikan tidak menemukan rumah sakit kosong. Seluruh rumah sakit rujukan sudah penuh dengan pasien covid-19. Bahkan menolak pasien karena sudah tidak ada ruang.
Dengan dasar itu maka kuputuskan untuk isoman saja semua tanpa ada yg isolasi di RS. Toh percuma saya keliling tidak akan menemukan rumah sakit yg masih menerima pasien. Akhirnya suami & anakku pulang, sementara saya masih harus menebus resep antibiotik karena di PKM tidak tersedia.
Informasi dari dojter PKM obat antibiotik tersebut agak sulit untuk didapatkan. Bener juga, saya keliling hingga 4 apotik semuanya kosong. Anehnya setiap apotik sering menanyakan tentang dosis obat & aturan minum. Mereka bilang bahwa takaran yg harus dibeli & aturan minum melampaui semestinya. Salah satu dari apotik menyarankan untuk menanyakan kembali ke sokter pemberi resep apakah tidak ada kesalahan. Ketika saya tanyakan tentang jumlah obat & takaran pada dokter PKM pemberi resep jawabnya tidak ada yg keliru, takaran & aturan minum sdh benar yaitu 2 kali dalam satu hari. Sementara pihak apotik mengatakan untuk obat antibiotik tersebut harus diminum 1x 1, bukan 2x1.
Agak susah juga mendapat obat antibiotik ini entah karena banyak pengguna atau karena pasokan kurang sehingga sulit untuk mendapatkannya. Alhamdulillah ada teman yg anaknya bekerja sebagai perawat & mau menolong untuk mencarikan antibiotik tersebut yg baru ku ingat namanya Acetromicyn. Dia juga heran melihat resep yg mencantumkan takaran serta aturan minumnya. Setelah saya dapatkan antibiotik tersebut, segera kutanyakan teman SMA yg berprofesi sebagai dokter spesialis paru. Kuceritakan semua permasalahan tak lupa pula tentang antibiotik & aturan minumnya. Aku merasa pas saat dia mengatakan takaran & aturan minum sebenarnya. 10 tablet dengan aturan minum 1x1 akhirnya saya ikuti saja apa saran dari temanku yg dokter itu.
Selama 3 hari di rumah kondisi suami & anak ternyata tidak semakin baik. Apalagi suami, batuknya semakin menjadi. Di hari kedua mengalami sesak nafas, diare, muntah & seolah tak bertenaga. Begitu pula dengan anakku yg berada di kamar atas. Ketika harus ke kamar mandi yg terletak di bawah dia harus berjalan sangat pelan menuruni tangga. Makan sudah tidak berselera, apalagi melihat jumlah obat yg begitu banyak melebihi jumlah obat ayahnya. Belum lagi dia sering kepikiran dengan kondisi ayahnya.
Panik juga aku
(Bersambung)
Cerita sebelumnya dapat lihat di link bawah ini ya
Part 1
Part 2
Hari ini 21:31
Dengan dasar itu maka kuputuskan untuk isoman saja semua tanpa ada yg isolasi di RS. Toh percuma saya keliling tidak akan menemukan rumah sakit yg masih menerima pasien. Akhirnya suami & anakku pulang, sementara saya masih harus menebus resep antibiotik karena di PKM tidak tersedia.
Informasi dari dojter PKM obat antibiotik tersebut agak sulit untuk didapatkan. Bener juga, saya keliling hingga 4 apotik semuanya kosong. Anehnya setiap apotik sering menanyakan tentang dosis obat & aturan minum. Mereka bilang bahwa takaran yg harus dibeli & aturan minum melampaui semestinya. Salah satu dari apotik menyarankan untuk menanyakan kembali ke sokter pemberi resep apakah tidak ada kesalahan. Ketika saya tanyakan tentang jumlah obat & takaran pada dokter PKM pemberi resep jawabnya tidak ada yg keliru, takaran & aturan minum sdh benar yaitu 2 kali dalam satu hari. Sementara pihak apotik mengatakan untuk obat antibiotik tersebut harus diminum 1x 1, bukan 2x1.
Agak susah juga mendapat obat antibiotik ini entah karena banyak pengguna atau karena pasokan kurang sehingga sulit untuk mendapatkannya. Alhamdulillah ada teman yg anaknya bekerja sebagai perawat & mau menolong untuk mencarikan antibiotik tersebut yg baru ku ingat namanya Acetromicyn. Dia juga heran melihat resep yg mencantumkan takaran serta aturan minumnya. Setelah saya dapatkan antibiotik tersebut, segera kutanyakan teman SMA yg berprofesi sebagai dokter spesialis paru. Kuceritakan semua permasalahan tak lupa pula tentang antibiotik & aturan minumnya. Aku merasa pas saat dia mengatakan takaran & aturan minum sebenarnya. 10 tablet dengan aturan minum 1x1 akhirnya saya ikuti saja apa saran dari temanku yg dokter itu.
Selama 3 hari di rumah kondisi suami & anak ternyata tidak semakin baik. Apalagi suami, batuknya semakin menjadi. Di hari kedua mengalami sesak nafas, diare, muntah & seolah tak bertenaga. Begitu pula dengan anakku yg berada di kamar atas. Ketika harus ke kamar mandi yg terletak di bawah dia harus berjalan sangat pelan menuruni tangga. Makan sudah tidak berselera, apalagi melihat jumlah obat yg begitu banyak melebihi jumlah obat ayahnya. Belum lagi dia sering kepikiran dengan kondisi ayahnya.
Panik juga aku
(Bersambung)
Cerita sebelumnya dapat lihat di link bawah ini ya
Part 1
Part 2
Hari ini 21:31