• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Cotton Bud = Berbahaya?

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
rDIc.jpg
Dua tahun lalu, saat tengah malam, teman sekantor harus dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba telinganya mendengung dan nggak bisa mendengar apa-apa. Setelah diperiksa ternyata ada penyumbatan. Usut punya usut, ternyata itu buah dari kebiasaan terlalu sering membersihkan telinga dengan cotton bud. Nah, kebetulan sekali nggak lama kemudian saya berkesempatan bertemu dengan seorang ahli THT untuk keperluan artikel kesehatan telinga yang harus saya tulis. Dan inilah hasil ngobrol-ngobrol singkat dengan Prof. Dr. dr. Suprihati, Sp.THT, M.Sc, yang sudah diterbitkan 2 tahun lalu di majalah remaja tempat saya menjadi stringer. :)

Apa Itu Kotoran Telinga?

Pada dasarnya, telinga luar adalah saluran berdinding kulit yang didalamnya terdapat kelenjar. Nah pada kulit telinga itu selain ada kelenjar keringat, juga ada kelenjar yang bernama serumen, ini dia yang jadi kotoran telinga. Serumen normalnya berbentuk cairan kental yang berfungsi untuk melindungi, juga sebagai pelembab saluran telinga biar nggak kering. Eh, kalau ada serumen yang katanya pahit banget ini, semut nggak bakal berani masuk ke telinga kita lho… Nah, serumen yang terus-terusan diproduksi akhirnya berubah jadi padat, dan menutup saluran telinga. Kita biasa menyebutnya kotoran telinga, yang bentuknya nggak cair lagi tapi udah lengket kayak selai, atau yang paling parah berubah keras kayak batu.
nqmgf.jpg


Cotton Bud = Berbahaya?

Kita boleh-boleh saja membersihkan telinga pakai cotton bud, karena inilah satu-satunya cara untuk membersihkan saluran telinga sendiri. Tapi ada syaratnya:

Kondisi serumen telinga kita masih dalam bentuk cair kekuningan seperti normalnya.

Untuk mengetahui kondisinya, coba minta tolong orang lain untuk mengecek kondisi saluran telinga kita, apakah masih bersih, atau sudah kotor. Dengan memakai senter kecil, atau apapun yang menghasilkan cukup sinar, kondisi saluran telinga kita yang seperti gua bisa dilihat.

Kalau kondisinya masih agak bersih, kita boleh ‘mengelap’ saluran telinga pakai cotton bud, dengan arah sapuan memutar satu arah, jangan bolak balik dan banyak gerak ya. Karena kalau sembarangan, kapas cotton bud bisa terlepas dan menyumbat saluran telinga.

Tapi kalau saat dibersihkan, kotoran udah memadat, lengket, berbentuk kayak selai misalnya, dan berwarna pekat, atau bahkan sudah mengeras, nggak dianjurkan memakai cotton bud lagi. Karena kalau bentuk serumen atau kotoran sudah memadat, cotton bud justru membuat serumen terdorong lebih dalam dan bisa menutupi saluran pendengaran kita. Wah, kalau begini cotton bud bisa berbahaya untuk digunakan!

Satu lagi, buat kita yang tiap mandi saluran telinganya selalu basah, cotton bud berfungsi untuk mengeringkan. Caranya cukup masukkan cotton bud, nggak usah digerakkan, diamkan saja sampai air di saluran telinga mengering.

Yuk, Bersihkan Telinga!

Sebisa mungkin, kita disarankan membersihkan telinga seminggu sekali, yaitu setelah berenang atau keramas. Karena di saat inilah kondisi serumen lebih cair, sehingga mudah dibersihkan. Sekali lagi, cotton bud boleh kok kita pakai. Cari juga waktu yang agak luang. Soalnya telinga nggak boleh dibersihkan dalam keadaan terburu-buru. Kalau buru-buru, ini justru bisa membuat kotoran semakin terdorong ke dalam, atau secara nggak sengaja, kita bisa melukai saluran telinga. Sempatkan ke dokter ahli untuk memeriksa kondisi saluran telinga kita. Karena meski hanya sempat sekali seumur hidup, ini bakal berguna banget untuk mengetahui treatment yang tepat dengan kondisi telinga kita. Kalau tipe telinga kita adalah tipe yang nggak mudah kotor, maka perawatan sendiri di rumah aja sudah cukup. Tapi kalau telinga kita termasuk yang mudah kotor, dokter akan menyarankan berapa bulan sekali harus diperiksakan kembali. Cek ke dokter juga untuk mengetahui kalau-kalau serumen kita sudah mengeras kayak batu. Wah…kalau begini keadaannya ada treatment khusus untuk membersihkannya. Pengerasan serumen kemungkinan besar terjadi pada kita yang selama hidup telinganya nggak pernah diperiksa atau dibersihkan ke dokter. Jadi, kalau merasa ada masalah telinga yang serius, seperti rasa gatal berkepanjangan, atau pendengaran yang terganggu, jangan diabaikan. Segera hubungi dokter ahli, biar bisa diketahui cara penanganan yang tepat. Dan yang paling aman, lakukan pemeriksaan ke dokter ahli, 6 bulan sekali.

Warning!

Jangan terlalu sering membersihkan telinga, karena bisa menyebabkan kulit saluran telinga jadi terlalu kering, dan akan timbul semacam luka. Analoginya, sama kayak kulit pada umumnya, kulit yang kering kalau terlalu sering kena goresan, justru bisa menimbulkan iritasi. Nah, rasa gatal dari luka iritasi inilah yang membuat kita jadi pengen terus menggaruk. Jadi inilah yang bikin telinga kita terasa gatal, dan pengen terus-terusan membersihkannya bahkan sambil menggaruknya keras-keras, padahal justru akan membuat telinga tergores. Bekas garukan itu yang lama-lama menyebabkan radang, dan terjadilah infeksi telinga luar. Bentuk infeksi ini kayak bisul tapi sakitnya minta ampun, kita pakai buat membuka mulut saja sakit. Ouch…kebayang dong sakitnya?

Ear Candle

Sebenarnya dalam dunia kedokteran, nggak ada tuh metode membersihkan telinga memakai ear candle. Karena ear candle sendiri belum jelas digunakan untuk membersihkan serumen yang bentuknya seperti apa, cair, agak padat, kering kayak ketombe, atau yang membatu. Padahal sebelum membersihkan, harus diketahui terlebih dulu jenis serumennya. Karena tiap jenisnya punya treatment yang berbeda, dan nggak bisa sembarangan. Apalagi buat serumen yang bentuknya keras, nggak bisa sembarangan banget. Harus diberi obat tetes untuk melunakkan, dan membersihkannya. Jadi, kalau dari sisi biaya sama-sama mahalnya, dan tingkat keamanannya, lebih baik ke dokter saja, ketahuan metode yang tepat untuk merawat telinga kita.

Narasumber: Prof. Dr. dr. Suprihati, Sp.THT, M.Sc (Dosen Fak. Kedokteran Univ. Diponegoro, Semarang, Dokter Spesialis THT RS. Kariadi, dan RS. St. Elisabeth, Semarang)
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.