Di penghujung tahun rasanya banyak sekali fenomena-fenomena menarik di negeri ini. Mulai dari ekonomi, sosial, politik hingga pendidikan, di politik misalnya banyak sekali tindak korupsi terang-terangan terjadi. Munculah resuffle kabinet oleh pemerintah, kepada beberapa menteri yg tersandung kasus & mungkin kinerjanya masih kurang. Harapan untuk mendapatkan menteri yg benar-benar sesuai aspirasi rakyat Indonesia sangat di harapkan
. Kita sebagai rakyat kecil tentunya tidak harap jadi obyek, dalam memutuskan suatu kebijakan letakkanlah sebagai subjek yg benar-benar sesuai asas demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat & untuk rakyat yg benar-benar kekuasaan di tangan rakyat, seperti sejarahnya di Yunani pada zaman ke 5 yaitu Demos orang & Kratos kekuatan/kekuasaan.
Nah untuk kali ini ane membahas isu terhangat mengenai pendidikan di Indoesia, persiapan demi persiapan untuk menuju pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dilakukan pemerintah. Skenario sedemikian rupa juga sudah di uji cobakan sebelumnya. Rencana awal semester depan / genap akan dilakukan pembelajaran tatap muka
. Menurut ane perlu kajian lagi yg lebih mendalam gansist. Lalu kajian seperti apa yg harus dilakukan melihat kasus covid-19 masih masif terjadi, meski pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk mengerjakan pembelajaran tatap muka.
1. Untuk kelas rendah & tinggi di sekolah dasar.
Menurut ane untuk kelas rendah sebaiknya fokus kepada pembelajaran daring terlebih dahulu, tidak harus memaksakan untuk ikut tatap muka. Kelas rendah di dalamnya yaitu kelas 1 hingga kelas 3 sekolah dasar, sedangkan kelas tinggi yaitu kelas 4 hingga kelas 6. Ane lihat untuk anak dengan mengerjakan protokol kesehatan minimal sesuai anjuran pemerintah masih terlalu sulit. Terutama kelas rendah yaitu kelas 1, mereka belum merasakan pembelajaran tatap muka semenjak dari taman kanak-kanak. Jika sekali masuk harus mengikuti protokol kesehatan yg ketat rasanya masih sulit & sebaiknya memang dirumah dalam pantauan orang tua masing-masing. Mereka biasanya untuk sekedar ke kamar kecil saja mau bilang ke Bapak/ Ibu gurunya masih malu-malu
, bahkan tak jarang guru harus memanggil orang tuanya menjemput anaknya untuk ke sekolah. Karena anaknya buang air kecil/bahkan akbar di dalam celana. Ayo gansist semua salah satu diantara itu tidak?
2. Angket pembelajaran tatap muka.
Sebagai orang tua pasti pernah disodorkan sebuah angket berupa kesediaan untuk pembelajaran tatap muka/masih dalam jaringan. Bagi orang tua kalau belum mendapatkan angket tersebut tiba-tiba disuruh masuk oleh sekolah, alangkah sebaiknya menanyakan ke sekolah terkait
. Prosedur yg dilakukan apakah sudah sesuai apa belum, minimal orang tua pernah diajak diskusi mengenai pembelajaran langsung seperti biasanya. Karena saat pembelajaran nanti diantaranya akan berisikan tata cara pembelajaran, durasi pembelajaran hingga kembali mendapatkan tugas rumah kalau diperlukan. Dari pemerintah sendiri menskenariokan bahwa nanti pembelajaran berlangsung cuma 2 jam tanpa istirahat
. Jumlah yg boleh masuk kelas sendiri cuma setengah. Jadi dalam 1 kelas nantinya akan ada dua shift kegiatan shift pagi & agak siang, kalau satu kelas berisi full yaitu 32-34 peserta didik.
3. Guru harus bekerja ekstra pengawasan.
Selain dituntut untuk menyampaikan materi pembelajaran supaya peserta didik mengerti, guru juga benar-benar memantau anak mulai dari masuk sekolah, kelas hingga nanti pulang rumah
. Paling sulit itu menurut ane kalau anak mengharuskan tidak bersentuhan baik dengan teman sebayanya atau dengan guru. Karena terbiasa mengerjakan kegiatan bebas berinteraksi ketika diharuskan untuk tidak bersentuhan masih asing & sulit menurut ane
. Satu pekan awal mungkin dapat terkondisikan setelahnya dapat jadi kembali ke semula ketika covid 19 belum ada. Nah di daerah ane sendiri yg notabene kedua orang tuanya pekerja, maka akan sulit pemantauanya saat anak akan pulang ke rumah. Siapa yg nanti akan menjemput, sebab mereka rata-rata menitipkan anaknya kepada kakek / nenek yg ada di rumah. Sebaiknya benar-benar dipantau dengan saksama, nah menurut ane pentingnya angket / koordinasi antara sekolah dengan orang tua salah satu diantaranya ini.
4. Memberikan edukasi bahaya tentang covid 19.
Jika durasi waktu cuma 2 jam pembelajaran saja saat tatap muka, seorang pendidik tentunya tidak sepenuhnya untuk pembelajaran. Pengetahuan & bahaya akan covid 19 sebaiknya benar-benar di hinggakan dengan bagus & mudah dipahami peserta didik. Cara menanggulangi penyakit, gejala yg ditimbulkan hingga tanda-tanda seseorang dikatakan positif covid 19. Jadi diharapkan peserta didik jadi bagian dari ujung tombak mengenai covid 19, dapat memberikan pengetahuan kepada orang-orang yg ada di sekitar.
5. Melakukan pemeriksaan setiap akhir pekan.
Nah untuk kali ini kita perlu kolaborasi dengan dinas kesehatan terdekat, misalnya dengan puskesmas dapat mengerjakan pengecekkan di awal pekan sekolah
. Setiap anak diperiksa satu persatu, kalau ada peserta didik reaktif maka ditindaklanjuti yg semestinya. Saat memberikan pemahaman ke anak pun diharapkan dengan bahasa & tutur mengatakan sesuai dengan usianya. Tidak disamakan dengan orang dewasa supaya anak mentalnya tidak jatuh, belum lagi nanti ada bully dari teman-teman sekelasnya
. Oleh sebab itu peran aktif & kolaboratif dengan berbagai pihak sangat diperlukan. Pembelajaran berlangsung, edukasi mengenai covid 19 juga terhinggakan. Mungkin ini bagian-bagian kecil yg menurut ane perlu disiapkan saat pembelajaran tatap muka berlangsung.
Oke gansist ane cukupkan sekian thread kali ini, dengan riuhnya pergantian menteri diharapkan tidak berpengaruh dengan dunia pendidikan. Bersyukur menteri pendidikan tidak kena resuffle, apa jadinya kalau menteri diganti. Saat progam-progamnya akan berjalan, malah dinonaktifkan kinerjanya. Bukan jadi barang yg tabu lagi kalau menteri baru kebijakan baru pula. Jauh ke depan pemikiran ane sendiri berharap pendidikan di Indonesia ini tidak ada menteri, artinya berdiri independen sendiri tidak masuk dalam kabinet. Tau sendiri gansist selama pendidikan kita ini masih tercampuradukan dengan yg namanya politik, pendidikan kita ini tertinggal tidak cuma 100-200 tahun tetapi dapat lebih.
Ane mohon maaf kalau ada tulisan ane ini ada unsur yg tidak berkenan, semua berharap suapaya covid 19 segera berlalu. Maju terus pendidikan di Indonesia
, Guruku Sayang Guruku Malang#16
Kemarin 21:25