Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Bila harap hasil panennya bagus, maka pupuk & perawatan yg dilakukan juha perlu baik. Begitulah logikanya.
Tak mungkin mencapai hasil akhir memuaskan tanpa awal yg cakap.
Sederhananya: harap anak-anak kita di dalam keluarga jadi berakhhlak, cerdas, beretika, bermoral, maka sebagai orang tua harus menunjukkan perangai yg sama.
Kiranya begitu juga dalam dunia pendidikan di Tanah Air.
Kemendikbudristek ingun mencetak generasi muda tanpa ada perilaku kekerasan, maka langkah awal harus dimulai dari instansi hulunya.
Tidak salah rasanya kalau Kemendikbudristek menginisiasi perhelatan kegiatan pengenalan pencegahan kekerasan di lingkungan instansinya sendiri.
Justru layak diapresiasi sebagai contoh.
Tidak berlebihan pula kalau menyebut pengenalan pencegahan kekerasa oleh Kemendikbudristek yg dikemas dengan nama Wiyata Kinarya Merdeka Belajar ini boleh ditiru instansi pemerintah lainnya maupun swasta.
Begini, cita-cita Mendikbudristek Nadiem Makarim serta jajarannya menciptakan lingkungan pendidikan yg bebas dari perundungan, kekerasan seksual, & intoleransi dapat saja tidak terealisasi bila ternyata di lingkungan internal terjadi tiga perbuatan tadi.
Atau seminimalnya: para sumber daya manusia Kemendikbudristek memahami cara penanganan kekerasan perundungan, seksual, serta intolernasi tersebut.
Bila cara mencegah dna menangani persoalan kekerasan tidak mengerti, lantas bagaimana menerapkan ke lingkungan pendidikan di Indonesia?
Itulah yg dikerjakan Kemendikbudristek melalui pengenalan pencegahan kekerasan Wiyata Kinarya Merdeka Belajar. Agar jajaran Kemendikbudristek menyadari peran & karakter.
Menyadari perannya bahwa seluruh jajaran sumber daya manusia Kemendikbudristek bertanggungjawab menangkal munculnya kekerasan di dunia pendidikan.
Yang jelas bertentangan dengan Pancasila & norma kehidupan bangsa Indonesia.
Mengerti fungsinya bahwa semua sumber daya manusia Kemendikbudristek bertanggungjawab menciptakan suasana pendidikan berintegritas sessuai UUD 1945.
Mengetahui tabiat dirinya masing-masing bahwa harus terbentuk jadi manusia beradab yg berkelakuan santun & teladan.
Menuju ketiga target tersebut berarti perlu dibekali dengan pendidikan mumpuni tentang akibat kekerasan sekaligus akibat sosial maupun sanksi hukumnya.
Dan Kemendikbudristek memberi contoh teladan bagaimana merealisasikan hilir pendidikan yg baik dengan membenahi hulunya dulu. Hulu yg tanpa tindak kekerasan.***
Hari ini 11:00
Tak mungkin mencapai hasil akhir memuaskan tanpa awal yg cakap.
Sederhananya: harap anak-anak kita di dalam keluarga jadi berakhhlak, cerdas, beretika, bermoral, maka sebagai orang tua harus menunjukkan perangai yg sama.
Kiranya begitu juga dalam dunia pendidikan di Tanah Air.
Kemendikbudristek ingun mencetak generasi muda tanpa ada perilaku kekerasan, maka langkah awal harus dimulai dari instansi hulunya.
Tidak salah rasanya kalau Kemendikbudristek menginisiasi perhelatan kegiatan pengenalan pencegahan kekerasan di lingkungan instansinya sendiri.
Justru layak diapresiasi sebagai contoh.
Tidak berlebihan pula kalau menyebut pengenalan pencegahan kekerasa oleh Kemendikbudristek yg dikemas dengan nama Wiyata Kinarya Merdeka Belajar ini boleh ditiru instansi pemerintah lainnya maupun swasta.
Begini, cita-cita Mendikbudristek Nadiem Makarim serta jajarannya menciptakan lingkungan pendidikan yg bebas dari perundungan, kekerasan seksual, & intoleransi dapat saja tidak terealisasi bila ternyata di lingkungan internal terjadi tiga perbuatan tadi.
Atau seminimalnya: para sumber daya manusia Kemendikbudristek memahami cara penanganan kekerasan perundungan, seksual, serta intolernasi tersebut.
Bila cara mencegah dna menangani persoalan kekerasan tidak mengerti, lantas bagaimana menerapkan ke lingkungan pendidikan di Indonesia?
Itulah yg dikerjakan Kemendikbudristek melalui pengenalan pencegahan kekerasan Wiyata Kinarya Merdeka Belajar. Agar jajaran Kemendikbudristek menyadari peran & karakter.
Menyadari perannya bahwa seluruh jajaran sumber daya manusia Kemendikbudristek bertanggungjawab menangkal munculnya kekerasan di dunia pendidikan.
Yang jelas bertentangan dengan Pancasila & norma kehidupan bangsa Indonesia.
Mengerti fungsinya bahwa semua sumber daya manusia Kemendikbudristek bertanggungjawab menciptakan suasana pendidikan berintegritas sessuai UUD 1945.
Mengetahui tabiat dirinya masing-masing bahwa harus terbentuk jadi manusia beradab yg berkelakuan santun & teladan.
Menuju ketiga target tersebut berarti perlu dibekali dengan pendidikan mumpuni tentang akibat kekerasan sekaligus akibat sosial maupun sanksi hukumnya.
Dan Kemendikbudristek memberi contoh teladan bagaimana merealisasikan hilir pendidikan yg baik dengan membenahi hulunya dulu. Hulu yg tanpa tindak kekerasan.***
Hari ini 11:00