roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Rabu, 22 Oktober 2008 | 11:21 WIB
BEIJING, RABU — Pemerintah China meminta bantuan internasional untuk melacak delapan orang asal wilayah Xinjiang yang dikatakan mengancam keamanan selama Olimpiade Beijing, Agustus 2008.
Orang-orang tadi dikatakan anggota kelompok separatis yang berjuang untuk negara merdeka bagi bangsa Uighur. Kelompok itu menamakan diri Gerakan Islam Turkistan Timur. Namun, kalangan pembangkang lokal dan beberapa kelompok hak asasi manusia mengatakan, China membesar-besarkan ancaman dari kelompok tersebut.
Pihak berwenang mengatakan, lebih dari 30 orang meninggal dalam tindak kekerasan di Xinjiang, Agustus, ketika Olimpiade digelar. Warga Muslim Turkistan, utamanya bermukim di Xinjiang dan mereka mencoba membentuk negara merdeka pada 1940-an. Tindak kekerasan sporadis di Xinjiang mulai marak kembali sejak 1991.
"(Mereka) ikut serta dalam merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan bermacam kegiatan teroris yang menjadikan Olimpiade Beijing sebagai sasaran," kata juru bicara Pemerintah China, Wu Heping.
"Kami berharap pemerintah negara terkait dan badan-badan penegak hukum akan melacak serta segera menahan mereka dan menyerahkan mereka kepada China sehingga kami bisa meminta pertanggungjawaban atas kejahatan mereka," ujarnya.
Kaum separatis Uighur di Xinjiang telah melancarkan perlawanan berskala rendah terhadap kekuasaan Pemerintah China selama beberapa dekade. Dalam serangan paling mematikan, 16 polisi tewas di Kashgar pada 4 Agustus, empat hari sebelum Olimpiade dimulai di Beijing.
BEIJING, RABU — Pemerintah China meminta bantuan internasional untuk melacak delapan orang asal wilayah Xinjiang yang dikatakan mengancam keamanan selama Olimpiade Beijing, Agustus 2008.
Orang-orang tadi dikatakan anggota kelompok separatis yang berjuang untuk negara merdeka bagi bangsa Uighur. Kelompok itu menamakan diri Gerakan Islam Turkistan Timur. Namun, kalangan pembangkang lokal dan beberapa kelompok hak asasi manusia mengatakan, China membesar-besarkan ancaman dari kelompok tersebut.
Pihak berwenang mengatakan, lebih dari 30 orang meninggal dalam tindak kekerasan di Xinjiang, Agustus, ketika Olimpiade digelar. Warga Muslim Turkistan, utamanya bermukim di Xinjiang dan mereka mencoba membentuk negara merdeka pada 1940-an. Tindak kekerasan sporadis di Xinjiang mulai marak kembali sejak 1991.
"(Mereka) ikut serta dalam merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan bermacam kegiatan teroris yang menjadikan Olimpiade Beijing sebagai sasaran," kata juru bicara Pemerintah China, Wu Heping.
"Kami berharap pemerintah negara terkait dan badan-badan penegak hukum akan melacak serta segera menahan mereka dan menyerahkan mereka kepada China sehingga kami bisa meminta pertanggungjawaban atas kejahatan mereka," ujarnya.
Kaum separatis Uighur di Xinjiang telah melancarkan perlawanan berskala rendah terhadap kekuasaan Pemerintah China selama beberapa dekade. Dalam serangan paling mematikan, 16 polisi tewas di Kashgar pada 4 Agustus, empat hari sebelum Olimpiade dimulai di Beijing.