Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.416
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Chelsea & amerikanisasi Liga Inggris.
Todd Boehly yg ketika foto ini diambil belum dinyatakan sebagai pemilik baru Chelsea, berbicara dengan kapten Chelsea Cesar Azpilicueta setelah pertandingan Liga Premier antara Chelsea & Watford di Stamford Bridge, London, Inggris, 22 Mei 2022. (REUTERS/TONY OBRIEN)
Jakarta (ANTARA) - Ketika Chelsea resmi diakuisisi konsorsium pimpinan Todd Boehly pada harga 4,25 miliar pound (Rp76,8 triliun) 30 Mei lalu menyusul 'penjualan paksa' oleh pemilik lama Roman Abramovich karena sanksi Rusia terkait pencaplokan ke Ukraina, daftar pebisnis Amerika Serikat yg memiliki klub Liga Inggris semakin panjang saja.
Termasuk Fulham yg kembali promosi Liga Premier musim 2022/2023, ada sembilan dari 20 regu Liga Inggris yg komposisi sahamnya menaruh nama-nama Amerika Serikat sebagai pemilik saham mayoritas & minoritas dalam klub-klub itu.
Kesembilan regu itu adalah Chelsea, Fulham, Arsenal, Aston Villa, Crystal Palace, Leeds United, Liverpool, Manchester City yg 10 persen sahamnya juga dimiliki Silver Lake dari AS, & Manchester United.
Baca juga: Pemerintah Inggris beri lampu hijau pergantian kepemilikan Chelsea
Baca juga: Todd Boehly rampungkan akuisisi Chelsea senilai Rp78 triliun
Uniknya, hampir semua investor AS ini memiliki pula klub-klub olahraga yg bertanding dalam liga-liga profesional AS seperti National Football League (NFL), Major League Soccer (MLS), Major League Baseball (MLB), National Hockey League (NHL), NBA, & seterusnya.
Kalau Todd Boehly si pemilik baru Chelsea mempunyai juga LA Dodgers yg bermain di MLB, maka yg lain juga begitu.
Weslet Edens di Aston Villa adalah juga pemilik klub NBA, Milwaukee Bucks. Bahkan Stan Kroenke tak saja memiliki Arsenal, tetapi juga regu NBA Denver Nuggets & sejumlah klub olahraga yg bermain di liga NFL, MLS & NHL.
Begitu pula pemilik Leeds United, 49ers Enterprises, yg menguasai klub NFL, San Francisco 49ers. John Henry & Tom Werner yg mengusai saham mayoritas Liverpool juga memiliki Boston Red Sox yg bermain di liga MLB.
Sementara keluarga Glazer yg menguasai Manchester United, memiliki pula klub NFL, Tampa Bay Buccaneers. Pun Shahid Khan sang pemilik Fulham, yg juga mengelola Jacksonville Jaguars di liga NFL.
Baca juga: Keluarga Glazer siap jual saham MU senilai Rp2,6 triliun
Baca juga: Akhiri penantian 23 tahun, Nottingham Forest promosi ke Liga Premier
Kecenderungan masuknya investor-investor Amerika ini terjadi juga di berbagai liga sepak bola Eropa. AC Milan, Parma, Fiorentina, & AS Roma di Serie A Italia juga dimiliki para investor Amerika. Pun Bordeaux & Marseille of di Ligue 1 Prancis.
Sekilas amerikanisasi sepak bola Inggris itu terlihat sebagai produk globalisasi, namun kalau diamati lebih dalam, kecenderungan tersebut justru kian kentara memperlihatkan komersialisasi olahraga.
Tujuan utama investor Amerika di Liga Inggris, terlihat semata mengeduk keuntungan finansial yg menciptakan suporter klub direduksi jadi konsumen produk klub yg mereka akuisisi.
Dari sudut pandang investor, penggemar memang dianggap pengguna produk-produk terkait klub, mulai tiket pertandingan klub, hingga aneka merchandise klub.
Persepsi ini menciptakan investor-investor Amerika dikritik karena berusaha menirukan kondisi lomba olah raga di Amerika Serikat di bumi Eropa.
Mereka dikritik karena menyumpalkan agenda yg semata didorong oleh latar belakang finansial guna menciptakan kembali sukses yg serupa mereka ciptakan di NFL, MLB, NBA, & sebangsanya. Perspektif ini bertentangan 180 derajat dengan asa suporter sepak bola Inggris yg memiliki konstruksi hubungan unik dengan klub-klub kesayangannya.
Bagi suporter Inggris, mendukung klub kesayangannya adalah soal loyalitas & gairah. Untuk itu klub adalah bukti diri seumur hidup mereka, hingga beberapa kalangan menyebut sepak bola sudah jadi agama mereka.
Baca juga: Leeds United amankan jasa gelandang muda Amerika Serikat
Mentransformasi Liga Inggris
Ketidaksepakatan antara suporter & pemilik klub ini tidak begitu jadi perhatian hingga 12 klub Eropa memutuskan menciptakan liga sempalan dari liga-liga profesional yg ada di Eropa dengan membentuk apa yg disebut Liga Super Eropa pada April 2021.
Prakarsa itu gagal diwujudkan namun sama sekali belum mati. Tetapi setelah gonjang ganjing Liga Super Eropa ini, hubungan suporter Inggris dengan pemilik klub jadi sering bertabrakan, bahkan di beberapa klub semisal Manchester United, pemilik klub sering dianggap biang kerok untuk prestasi buruk timnya.
Pada titik tertentu, hubungan seperti ini dapat merusak ikatan emosional penggemar dengan klub, walaupun dapat juga terjadi sebaliknya. Kekhawatiran ini terjadi karena komersialisasi yg semakin meluas & peluasan global sepakbola sudah menciptakan suporter merasa bukan lagi jadi fokus klubnya.
Ironisnya, tingginya gaji & pesepakbola & besarnya danang yg dibenamkan untuk pasar transfer pemain, sedikit banyak malah ditanggung oleh suporter klub, dalam bentuk naiknya harga tiket, merchandise, & item-item terkait klub.
Tak heran globalisasi sepak bola acap dianggap sebagai masalah akbar oleh bagian akbar penggemar sepak bola.
Baca juga: Trio Liga Super Eropa tegaskan lagi sikap lanjutkan proyek ambisius
Baca juga: Parlemen Uni Eropa haramkan Liga Super Eropa & lomba semacamnya
Komersialisasi akibat amerikanisasi sepak bola Inggris ini juga menciptakan keputusan yg dibuat klub jadi lebih diorientasikan kepada aspek ekonomi, sedangkan pendukung sepak bola tak lagi jadi pertimbangan.
Gambarannya terlihat dari penentuan jadwal pertandingan, waktu bertanding yg semakin larut malam, pemasaran hak siar televisi, & bahkan penentuan jadwal pertandingan timnas yg kentara demi mengakomodasi klub & liga.
Walaupun demikian, ikatan emosional penggemar dengan klub masih terlihat kuat & bahkan sanggup menahan akibat negatif komersialisasi.
Salah satu faktornya adalah komitmen beberapa akbar pesepakbola yg menomorsatukan penggemar, selain adanya identifikasi suporter dengan regu kesayangannya yg bahkan turun temurun diturunkan kepada generasi setelah mereka.
Namun jujur saja tak semua amerikanisasi Liga Inggris negatif, karena dalam banyak hal turut mendorong prestasi klub jadi lebih maju.
Baca juga: Pengusaha muda Amerika Chris Kirchner harap beli Derby County
Taruhlah apa yg dilakukan Fenway Sports Group yg dimiliki John Henry & Tom Werner dalam mengelola Liverpool sejak membeli klub ini pada 15 Oktober 2010.
Memang tidak instan, tetapi sepuluh tahun setelah mengakuisisi klub ini, mereka menciptakan Liverpool dapat lagi mengangkat trofi Liga Inggris setelah 30 tahun tak dapat mengerjakannya.
Mereka juga menciptakan Liverpool kembali jadi kekuatan sepakbola menakutkan di Eropa, bukan saja karena sukses menjuarai Liga Champions pada 2019 tetapi juga karena begitu dominan di Eropa & Inggris hingga dua kali nyaris menjuarai dua lomba ini di luar status liga edisi 2020 serta pemenang Liga Champions 2019.
Fakta menarik lainnya adalah sejak awal 2000-an ketika investor-investor AS mulai melirik Liga Inggris, banyak klub liga ini yg mengalami transformasi radikal jadi brand-brand super yg mengglobal, bahkan pada aspek tertentu, amerikanisasi berdampak langsung kepada terciptanya modifikasi aspek-aspek penting dalam kehidupan sosial budaya Inggris yg sejalan dengan nafas kapitalisme negeri itu.
Amerikanisasi melalui gabungan profesionalisasi, investasi keuangan besar-besaran & pemasaran yg intensif sudah mengubah sepak bola Inggris jadi pula hiburan kelas menengah ke atas, bukan lagi cuma hiburan untuk kelas pekerja.
Cara pertandingan sepakbola dipasarkan & dinikmati pun jadi kian menarik dari waktu ke waktu, & ini salah satu yg menciptakan Liga Inggris semakin mengglobal, tidak lagi cuma milik orang Inggris.
Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada suporter terkait Liga Super Eropa
Baca juga: Mane janji dengarkan rakyat Senegal soal masa depannya
Berita diatas dikutip dari internet, jika Chelsea & amerikanisasi Liga Inggris adalah spam, mohon beritahu kami.
Todd Boehly yg ketika foto ini diambil belum dinyatakan sebagai pemilik baru Chelsea, berbicara dengan kapten Chelsea Cesar Azpilicueta setelah pertandingan Liga Premier antara Chelsea & Watford di Stamford Bridge, London, Inggris, 22 Mei 2022. (REUTERS/TONY OBRIEN)
Jakarta (ANTARA) - Ketika Chelsea resmi diakuisisi konsorsium pimpinan Todd Boehly pada harga 4,25 miliar pound (Rp76,8 triliun) 30 Mei lalu menyusul 'penjualan paksa' oleh pemilik lama Roman Abramovich karena sanksi Rusia terkait pencaplokan ke Ukraina, daftar pebisnis Amerika Serikat yg memiliki klub Liga Inggris semakin panjang saja.
Termasuk Fulham yg kembali promosi Liga Premier musim 2022/2023, ada sembilan dari 20 regu Liga Inggris yg komposisi sahamnya menaruh nama-nama Amerika Serikat sebagai pemilik saham mayoritas & minoritas dalam klub-klub itu.
Kesembilan regu itu adalah Chelsea, Fulham, Arsenal, Aston Villa, Crystal Palace, Leeds United, Liverpool, Manchester City yg 10 persen sahamnya juga dimiliki Silver Lake dari AS, & Manchester United.
Baca juga: Pemerintah Inggris beri lampu hijau pergantian kepemilikan Chelsea
Baca juga: Todd Boehly rampungkan akuisisi Chelsea senilai Rp78 triliun
Uniknya, hampir semua investor AS ini memiliki pula klub-klub olahraga yg bertanding dalam liga-liga profesional AS seperti National Football League (NFL), Major League Soccer (MLS), Major League Baseball (MLB), National Hockey League (NHL), NBA, & seterusnya.
Kalau Todd Boehly si pemilik baru Chelsea mempunyai juga LA Dodgers yg bermain di MLB, maka yg lain juga begitu.
Weslet Edens di Aston Villa adalah juga pemilik klub NBA, Milwaukee Bucks. Bahkan Stan Kroenke tak saja memiliki Arsenal, tetapi juga regu NBA Denver Nuggets & sejumlah klub olahraga yg bermain di liga NFL, MLS & NHL.
Begitu pula pemilik Leeds United, 49ers Enterprises, yg menguasai klub NFL, San Francisco 49ers. John Henry & Tom Werner yg mengusai saham mayoritas Liverpool juga memiliki Boston Red Sox yg bermain di liga MLB.
Sementara keluarga Glazer yg menguasai Manchester United, memiliki pula klub NFL, Tampa Bay Buccaneers. Pun Shahid Khan sang pemilik Fulham, yg juga mengelola Jacksonville Jaguars di liga NFL.
Baca juga: Keluarga Glazer siap jual saham MU senilai Rp2,6 triliun
Baca juga: Akhiri penantian 23 tahun, Nottingham Forest promosi ke Liga Premier
Kecenderungan masuknya investor-investor Amerika ini terjadi juga di berbagai liga sepak bola Eropa. AC Milan, Parma, Fiorentina, & AS Roma di Serie A Italia juga dimiliki para investor Amerika. Pun Bordeaux & Marseille of di Ligue 1 Prancis.
Sekilas amerikanisasi sepak bola Inggris itu terlihat sebagai produk globalisasi, namun kalau diamati lebih dalam, kecenderungan tersebut justru kian kentara memperlihatkan komersialisasi olahraga.
Tujuan utama investor Amerika di Liga Inggris, terlihat semata mengeduk keuntungan finansial yg menciptakan suporter klub direduksi jadi konsumen produk klub yg mereka akuisisi.
Dari sudut pandang investor, penggemar memang dianggap pengguna produk-produk terkait klub, mulai tiket pertandingan klub, hingga aneka merchandise klub.
Persepsi ini menciptakan investor-investor Amerika dikritik karena berusaha menirukan kondisi lomba olah raga di Amerika Serikat di bumi Eropa.
Mereka dikritik karena menyumpalkan agenda yg semata didorong oleh latar belakang finansial guna menciptakan kembali sukses yg serupa mereka ciptakan di NFL, MLB, NBA, & sebangsanya. Perspektif ini bertentangan 180 derajat dengan asa suporter sepak bola Inggris yg memiliki konstruksi hubungan unik dengan klub-klub kesayangannya.
Bagi suporter Inggris, mendukung klub kesayangannya adalah soal loyalitas & gairah. Untuk itu klub adalah bukti diri seumur hidup mereka, hingga beberapa kalangan menyebut sepak bola sudah jadi agama mereka.
Baca juga: Leeds United amankan jasa gelandang muda Amerika Serikat
Mentransformasi Liga Inggris
Ketidaksepakatan antara suporter & pemilik klub ini tidak begitu jadi perhatian hingga 12 klub Eropa memutuskan menciptakan liga sempalan dari liga-liga profesional yg ada di Eropa dengan membentuk apa yg disebut Liga Super Eropa pada April 2021.
Prakarsa itu gagal diwujudkan namun sama sekali belum mati. Tetapi setelah gonjang ganjing Liga Super Eropa ini, hubungan suporter Inggris dengan pemilik klub jadi sering bertabrakan, bahkan di beberapa klub semisal Manchester United, pemilik klub sering dianggap biang kerok untuk prestasi buruk timnya.
Pada titik tertentu, hubungan seperti ini dapat merusak ikatan emosional penggemar dengan klub, walaupun dapat juga terjadi sebaliknya. Kekhawatiran ini terjadi karena komersialisasi yg semakin meluas & peluasan global sepakbola sudah menciptakan suporter merasa bukan lagi jadi fokus klubnya.
Ironisnya, tingginya gaji & pesepakbola & besarnya danang yg dibenamkan untuk pasar transfer pemain, sedikit banyak malah ditanggung oleh suporter klub, dalam bentuk naiknya harga tiket, merchandise, & item-item terkait klub.
Tak heran globalisasi sepak bola acap dianggap sebagai masalah akbar oleh bagian akbar penggemar sepak bola.
Baca juga: Trio Liga Super Eropa tegaskan lagi sikap lanjutkan proyek ambisius
Baca juga: Parlemen Uni Eropa haramkan Liga Super Eropa & lomba semacamnya
Komersialisasi akibat amerikanisasi sepak bola Inggris ini juga menciptakan keputusan yg dibuat klub jadi lebih diorientasikan kepada aspek ekonomi, sedangkan pendukung sepak bola tak lagi jadi pertimbangan.
Gambarannya terlihat dari penentuan jadwal pertandingan, waktu bertanding yg semakin larut malam, pemasaran hak siar televisi, & bahkan penentuan jadwal pertandingan timnas yg kentara demi mengakomodasi klub & liga.
Walaupun demikian, ikatan emosional penggemar dengan klub masih terlihat kuat & bahkan sanggup menahan akibat negatif komersialisasi.
Salah satu faktornya adalah komitmen beberapa akbar pesepakbola yg menomorsatukan penggemar, selain adanya identifikasi suporter dengan regu kesayangannya yg bahkan turun temurun diturunkan kepada generasi setelah mereka.
Namun jujur saja tak semua amerikanisasi Liga Inggris negatif, karena dalam banyak hal turut mendorong prestasi klub jadi lebih maju.
Baca juga: Pengusaha muda Amerika Chris Kirchner harap beli Derby County
Taruhlah apa yg dilakukan Fenway Sports Group yg dimiliki John Henry & Tom Werner dalam mengelola Liverpool sejak membeli klub ini pada 15 Oktober 2010.
Memang tidak instan, tetapi sepuluh tahun setelah mengakuisisi klub ini, mereka menciptakan Liverpool dapat lagi mengangkat trofi Liga Inggris setelah 30 tahun tak dapat mengerjakannya.
Mereka juga menciptakan Liverpool kembali jadi kekuatan sepakbola menakutkan di Eropa, bukan saja karena sukses menjuarai Liga Champions pada 2019 tetapi juga karena begitu dominan di Eropa & Inggris hingga dua kali nyaris menjuarai dua lomba ini di luar status liga edisi 2020 serta pemenang Liga Champions 2019.
Fakta menarik lainnya adalah sejak awal 2000-an ketika investor-investor AS mulai melirik Liga Inggris, banyak klub liga ini yg mengalami transformasi radikal jadi brand-brand super yg mengglobal, bahkan pada aspek tertentu, amerikanisasi berdampak langsung kepada terciptanya modifikasi aspek-aspek penting dalam kehidupan sosial budaya Inggris yg sejalan dengan nafas kapitalisme negeri itu.
Amerikanisasi melalui gabungan profesionalisasi, investasi keuangan besar-besaran & pemasaran yg intensif sudah mengubah sepak bola Inggris jadi pula hiburan kelas menengah ke atas, bukan lagi cuma hiburan untuk kelas pekerja.
Cara pertandingan sepakbola dipasarkan & dinikmati pun jadi kian menarik dari waktu ke waktu, & ini salah satu yg menciptakan Liga Inggris semakin mengglobal, tidak lagi cuma milik orang Inggris.
Baca juga: Pemilik Liverpool minta maaf kepada suporter terkait Liga Super Eropa
Baca juga: Mane janji dengarkan rakyat Senegal soal masa depannya
Berita diatas dikutip dari internet, jika Chelsea & amerikanisasi Liga Inggris adalah spam, mohon beritahu kami.