HabibiDXXX
IndoForum Senior C
- No. Urut
- 20292
- Sejak
- 11 Agt 2007
- Pesan
- 5.124
- Nilai reaksi
- 144
- Poin
- 63
Ini berkaitan dengan aktivitas Chatting antara ikhwan-akhwat, karena kemarin sempet “ngobrol” dengan seorang sahabat tentang ini, ya sebenernya ndak ada niat apa-apa kok, sekedar mengingatken, ndak boleh “kesel” to ya, hehe.. Afwan lo kalo ndak berkenan. Ini semua juga utk ngingetin saya sendiri kok..
Berikut tulisan ini saya kutip dari beberapa link blog di internet, syukron atas izinnya, jazakillah khoir buat Agus Nizami atas tulisannya di Syiar Islam.
Dan berikut ini tanya jawab yg saya ambil dari Syariahonline.com, senada dengan di atas …
Dan ini ada sedikit uraian tentang kiat-kiat chatting yang … baik … atau.. apa ya istilahnya… ngerti deh pokoknya yah? hehe …
Demikian temen-temen, mungkin banyak yg pro dan kontra dengan tema ini, namun bagaimanapun kita bisa belajar banyak mengambil ilmu dan hikmah dibalik dua tulisan tadi, masing-masing bisa merenungkan sendiri. Buat temenku, ndak ada niat apapun jika ana sbg saudara seiman kecuali sekedar ngingetken, dan itu semua juga kembali ke saya sendiri kok, artinya ini juga untuk saya belajar dan ngingetin diri sendiri, agar berhati-hati, agar menjaga yg terbaik. Afwan kalo ndak berkenan.
Tetap Semangat!!! ^_^
Berikut tulisan ini saya kutip dari beberapa link blog di internet, syukron atas izinnya, jazakillah khoir buat Agus Nizami atas tulisannya di Syiar Islam.
Sesungguhnya chatting (ngobrol melalui internet), hukumnya sama dengan ngobrol/berbicara biasa. Allah dan RasulNya sudah memberikan panduan.
Dalam chatting, hendaknya kita menyadari, bahwa segala ucapan/tulisan kita, tetap diawasi oleh Allah SWT dan juga Malaikat Raqib dan Atid. Oleh karena itu, jagalah ucapan kita.
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)
Hendaknya kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik.
Rasulullah saw. menganjurkan mukmin memilih diam daripada sekadar bicara.
Dari Abi Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia selalu berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Surah Fushshilat ayat 33. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).
Janganlah kita mengucapkan kata-kata yang kotor/kasar, sehingga berdosa karenanya.
Rasulullah saw bersabda, “Ada hamba yang mengucap satu kalimat tanpa ia pikir baik-buruknya kalimat itu, menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka, yang lebih jauh daripada antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“…Dan sesungguhnya ada orang yang mengucapkan satu kalimat yang membuat murka Allah, yang tanpa ia sangka akan sampai sedemikian rupa, kemudian Allah mencatat dalam kemurkaanNya sampai hari ia bertemu denganNya.” (HR. Malik)
Rasululah s.a.w. bersabda; “Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang kamu berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berkata kasar. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya maka hendaklah dia mengatakan. Aku ini puasa.” - Sahih Bukhari
Terkadang chatting/ngobrol membuat kita lupa waktu atau kecanduan. Ada istri yang sampai cerai dari suami karena chatting sampai berjam-jam setiap harinya. Ada pula pekerja yang akhirnya pekerjaannya jadi tidak beres karena kecanduan chatting. Sesuatu yang berlebihan, meski halal, tetap tidak baik.
Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian banyak bicara selain berdzikir kepada Allah Ta’ala, karena hal itu akan membuat hati menjadi keras. Dan sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah Ta’ala adalah orang yang berhati keras.” (HR. Turmudzi)
Jika pembicaraan chatting tersebut bukan untuk menuntut ilmu atau untuk memecahkan solusi pekerjaan yang bermanfaat, tapi hanya obrolan tidak berguna, sebaiknya kita tinggalkan hal itu.
Rasulullah menyatakan:
“Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Sebaiknya dalam chatting, kita meninggalkan perdebatan yang tidak berguna.
Rasulullah bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda”. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Janganlah kita menggunjing, mengadu domba, atau mengolok-olok seseorang/kelompok ketika chatting. Allah berfirman yang artinya:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain”.(Al-Hujurat: 12).
Allah berfirman yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).
Chatting antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya ada batasnya. Janganlah seorang pria dan wanita chatting hanya berdua saja. Sebaiknya di temani muhrimnya. Jika hanya berdua saja, maka hilanglah rasa malu, dan bisa terjerumus ke dalam zina.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “’Tidaklah laki-laki dan perempuan berkhalwat (berdua-duaan) kecuali yang ketiganya adalah setan”.(Hr Tirmizi)
Selain haram mengucapkan kata-kata kotor, juga jangan mendekati zina dengan melontarkan kata-kata rayuan antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya.
FirmanNya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS 15:32)
Apa lagi jika chatting itu kemudian dilanjutkan dengan temu darat dan bersentuhan.
Rasul SAW bersabda yang artinya : “Sekiranya ditusukkan jarum besi ke kepala salah seorang diantara kamu, itu lebih baik dari pada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR At-Thabroni dan Baihaqi dari mi’qol bin yasaar)
Pada saat chatting dengan webcam dengan pria yang bukan muhrimnya, haruslah wanita tersebut mengenakan jilbab, karena dia bisa terlihat oleh lawan chattingnya.
Firman Allah yang artinya : “Katakanlah kepada wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasanya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudar-saudara leleki mereka, atau putra- putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs 24 : 31).
Sabda Nabi : Dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihat keduanya… (dan beliau menyebutkan) : Para wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang, mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memperlihatkan kejelekan mereka kepada orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang miring mereka tidak akan memasuki surga, dan mereka tidak akan mendapatkan bau surga, sesungguhnya bau surga tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR. Muslim).
Ketika kita chatting, bisa jadi kita tidak tahu lawan bicara kita. Bisa saja seorang pria menyamar sebagai wanita atau sebaliknya, atau orang yang jahat berlagak seperti orang bijak. Di AS, ada pria yang membunuh wanita teman chatting-nya setelah melakukan temu darat. Oleh karena itu, kita harus lebih ekstra hati-hati.
Sebaliknya, ada seorang pria Texas yang masuk Islam, karena chatting berdiskusi tentang Islam. Dia bertanya, ketika pemboman WTC terjadi, apakah ummat Islam yang melakukannya? Itu begitu sadis, karena banyak wanita dan anak-anak yang jadi korban. Ketika dijelaskan bahwa Islam adalah agama yang damai, melarang ummatnya memerangi ummat yang berdamai/bersahabat dengan ummat Islam, hanya berperang untuk bela diri, dan segera berdamai ketika musuh meminta damai, serta konsep Ketuhanan Islam, akhirnya dia masuk Islam.
Begitu pula, saya dulu hampir tiap hari chatting dan berdiskusi tentang Islam dengan seorang kawan dari Malaysia, Muhammad Yakob namanya. Sekarang saya mengistirahatkan YM saya, karena khawatir, waktu banyak terbuang karenanya.
Jadi chatting bisa halal dan bisa juga haram, tergantung cara kita memakainya. Dengan panduan di atas, semoga kita bisa lebih berhati-hati, sehingga chatting yang kita lakukan, senantiasa dalam rangka beribadah/dzikrullah kepada Allah SWT.
Dan berikut ini tanya jawab yg saya ambil dari Syariahonline.com, senada dengan di atas …
Pertanyaan:
Apakah hukum pergaulan antara lelaki dan perempuan melalui chat? dan jg hukum berkawan dgn kaum lelaki? menurut Islam,bagaimanakah cara yg terbaik?
Fizah
Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Inti dari khalwat itu adalah tidak adanya kehadiran orang lain kecuali hanya dua orang berlainan jenis itu.
Dengan ketiadaan orang lain itu, maka terjadinya dialog langsung / interaktif antara dua insan. Meski tidak bisa langsung menyentuh, memegang, meraba atau berhubungan seksual, namun kata-kata yang mengalir antara mereka berdua sungguh tidak punya batas, karena tak ada seorang pun yang hadir dalam percakapan virtual itu.
Dengan metode itu, yang menjadi pertanyaan adalah : Apakah seseorang merasa bebas menuliskan semua perasaan anda dalam chatt itu ? Apakah ia merasa lebih “aman” untuk menuliskan dan merangkai kalimat ? Apakah ia merasa privasinya lebih terjaga dengan berkoresponsi via chatt ? Dan di pihak lain, apakah ia merasa bahwa lawan chattingnya bisa dengan leluasa untuk curhat kepadanya dan sebaliknya ? Apakah ia merasa bahwa ia juga bisa mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapinya dengan sedikit lebih “bebas” ?
Kalau jawabannya adalah iya, maka sebenarnya media itu bisa saja dimanfaatkan untuk “kencan virtual”. Kasusnya menjadi tidak jauh berbeda dengan kirim-kiriman surat biasa, ngobrol di telepon, SMS dan sejenisnya.
Sehingga batasan apakah ini merupakan khalwat (menyepi berdua) atau bukan menjadi tidak jelas lagi. Memang secara pisik tidak terjadi khalwat, yang terjadi hanyalah -mungkin- sebuah “cyber khalwat”.
Tapi esensi dari sebuah khalwat itu adalah “rasa bebas dan aman” untuk berekspresi dengan lawan khalwatnya. Dimana isi dan tema pembicaraan tidak diketahui oleh orang lain.
Hal ini bukan berarti chatting dengan lawan jenis itu haram total. Sebab chatting itu ada juga yang berbetuk massal, dimana ada orang lain yang bisa ikut memonitornya. Namun pembicaraan chatting itu sungguh merupakan media untuk “berduaan” yang hakikatnya sama dengan berduaan secara fisik tanpa resiko bisa saling meraba.
Jadi ada kondisi dimana khalwat itu terjadi secara verbal dan virtual.
Terkait dengan persahabatan dengan lawan jenis (laki-laki), bahwa pada dasarnya Islam mengajarkan tiap orang untuk saling mengasihi sesamanya dan membangun jalinan persahabatan. Semua itu tidak terbatas hanya kepada sesama jenis namun juga kepada lawan jenis.
Hanya saja khusus dengan lawan jenis, maka Islam menggariskan hal-hal pokok agar niat dan maksud baik persahabatan itu tidak dikotori dengan fitnah dan nafsu rendah. Untuk itu Islam telah telah membuat aturan dan ketentuan yang berlaku umum serta menjelaskan hal-hal apakah yang dilarang.
Di antara jalan-jalan yang diharamkan Islam ialah: Bersendirian dengan seorang perempuan lain. Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara, bibi dan sebagainya.
Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” (Riwayat Ahmad) “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya.”
Imam Qurthubi dalam menafsirkan firman Allah yang berkenaan dengan isteri-isteri Nabi, yaitu yang tersebut dalam surah al-Ahzab ayat 53, yang artinya:
“Apabila kamu minta sesuatu (makanan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Karena yang demikian itu lebih dapat membersihkan hati-hati kamu dan hati-hati mereka itu,”
Beliau mengatakan: maksudnya perasaan-perasaan yang timbul dari orang laki-laki terhadap orang perempuan, dan perasaan-perasaan perempuan terhadap laki-laki. Yakni cara seperti itu lebih ampuh untuk meniadakan perasaan-perasaan bimbang dan lebih dapat menjauhkan dari tuduhan yang bukan-bukan dan lebih positif untuk melindungi keluarga.
Ini berarti, bahwa manusia tidak boleh percaya pada diri sendiri dalam hubungannya dengan masalah bersendirian dengan lawan jenis yang tidak halal baginya. Oleh karena itu menjauhi hal tersebut akan lebih baik dan lebih dapat melindungi serta lebih sempurna penjagaannya.
Juga tidak boleh bercakap-cakap, berkomunikasi, dan memandang tanpa ada kebutuhan yang sangat mendesak. Sebab, ini semua bisa menjadi fitnah yang menjadi pintu masuk maksiat.
Sebuah syair berbunyi,
Awalnya pandangan, lalu senyuman dan sapaan.
Selanjutnya kata-kata, janji, dan perjumpaan.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab.
Dan ini ada sedikit uraian tentang kiat-kiat chatting yang … baik … atau.. apa ya istilahnya… ngerti deh pokoknya yah? hehe …
1. Yakinkan diri dan hati ini, kalo chatting itu bisa sebagai sarana dakwah, saling mentausyiah, bukan untuk menebar kata-kata mesra nan cinta. Memulai dengan satu kata cinta, bisa menggoda jutaan kata cinta lainnya muncul lho. Katanya sih ‘temen’ kok ya jadi ‘demen’, glek!!!
2. Kadang dari hati ini bisa muncul hasrat yang cenderung pada nafsu, karena itu jaga sikap dan kata-kata untuk tidak merusak dan menghilangkan tujuan dari ta’aruf dan ukhuwah itu sendiri. Ta’aruf itu sendiri kan untuk saling mengenal, demikian juga ukhuwah, bisa nambah saudara. Lha, kalo belon apa-apa kata-katanya udah ngajak ‘perang’, wah… bisa-bisa yang muncul di monitor adalah ‘kata-kata aneh bin ajaib’.
3. Jangan terjebak pada permainan kata-kata, katanya sih mau ngasih perhatian, tapi kok berlebihan, kaya’ suami istri aja. Kata-kata manisnya, “Jangan lupa makan ya, ntar sakit lho, kan jadi gak bisa chatting lagi!”, atau “Duh… kamu pasti manis deh, keliatan dari tulisannya” atau juga “Kalo udah mau tidur, sebut namaku dalam hatimu ya, dan mimpikan diriku, bla…bla…bla…” Gedubrak!!! Kudu ati-ati nih kalo nemu netters kaya’ ginian. Lha, ketikan di layar monitor dimana-mana kan sama aja, gimana bisa tau yang nulis manis! Lagian kalau mau tidur kok nyebut nama si doi, gak diajar tuh ama Rasulullah SAW.
4. Jujur dong kalau ditanyakan data pribadinya, karena kalau sesuatu udah dimulai dengan kebohongan atau sesuatu yang tidak baik, gimana bisa menjamin proses selanjutnya? Inget lho, biasanya orang kalau udah dibohongi sekali aja, gak bakalan kudu percaya lagi. Kata orang Jepang, shinjirarenai!!!
5. Kalo emang hal ini berat, gak bisa jamin gak terjadi zina hati, sebaiknya hindari deh chatting dengan lawan jenis, kecuali dengan suami atau istri sendiri, curhat gak mesti dengan lawan jenis kan? Kalo maksa juga harus curhat dengan lawan jenis dengan resiko gak bisa jaga hati, solusinya kudu cepet nikah, jadinya chatting dengan pasangan sendiri, insya Allah 100% halal!!!
6. Chatting itu kan hanya sebuah alat, karena itu maslahat atau mudharatnya tergantung ke kita-kita juga, mau cari kebaikan atau sebaliknya. Kalau untuk kebaikan, insya Allah memperoleh pahala, demikian juga sebaliknya.
Demikian temen-temen, mungkin banyak yg pro dan kontra dengan tema ini, namun bagaimanapun kita bisa belajar banyak mengambil ilmu dan hikmah dibalik dua tulisan tadi, masing-masing bisa merenungkan sendiri. Buat temenku, ndak ada niat apapun jika ana sbg saudara seiman kecuali sekedar ngingetken, dan itu semua juga kembali ke saya sendiri kok, artinya ini juga untuk saya belajar dan ngingetin diri sendiri, agar berhati-hati, agar menjaga yg terbaik. Afwan kalo ndak berkenan.
Tetap Semangat!!! ^_^

... Nice thread bib ... semoga kita selalu berusaha menjalankan islam dengan syar'i ... 




jg malu.....