Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kalau anda pernah main game era PS1 hingga PS2, pasti anda tahu rasanya deg-degan menunggu momen cutscene CGI(Computer-Generated Imagery). Itu lho, sebuah adegan sinematik super keren yg terkadang muncul secara tiba-tiba setelah kita jungkir balik ngalahin boss atau menyelesaikan sebuah misi penting dalam sebuah games.
Grafisnya jauh di atas gameplay, kameranya dramatis, musiknya bikin merinding. Menurut saya CGI bukan sekadar pemanis cerita, itu adalah sebuah "hadiah". Hadiah yg cuma muncul di momen-momen spesial, seperti kejutan langka yg sengaja disimpan developer game untuk memanjakan mata & hati para gamer.
Grafisnya jauh di atas gameplay, kameranya dramatis, musiknya bikin merinding. Menurut saya CGI bukan sekadar pemanis cerita, itu adalah sebuah "hadiah". Hadiah yg cuma muncul di momen-momen spesial, seperti kejutan langka yg sengaja disimpan developer game untuk memanjakan mata & hati para gamer.
Di masa itu, CGI bukan sekadar pamer kemajuan teknologi, Ia adalah bagian dari bentuk penghargaan. Developer paham kalau gamer butuh "alasan"untuk terus maju. Jadi, cutscene pre-rendered itu sengaja dibuat jarang, biar ada rasa ditunggu-tunggu. Ada kontras yg jelas: gameplay dengan poligon sederhana lalu tiba-tiba meledak jadi adegan sinematik bak film layar lebar. Dan justru karena jarang muncul, nilainya jadi berlipat ganda.
Tapi semua berubah, saat grafis real-time di era PS4 - PS5 mulai menyentuh kualitas CGI itu sendiri. Batasn "itu"hilang... Gameplay & cutscene jadi nyaris tak terbedakan. Banyak developer kini memilih menceritakan kisah secara mulus dari awal hingga akhir tanpa potongan dramatis yg mencolok. Akibatnya? Sensasi wow yg dulu bikin gamer betah duduk hingga larut malam kini mulai menghilang.
Bukan berarti cutscene modern jelek, malah luar biasa, tetapi ketika semuanya indah setiap saat, maka"keindahan" itu jadi sebuah hal biasa.
Pergeseran dari reward-based storytellingmenuju continuous storytelling sudah jadi DNA dari games-games modern. Dulu kita main demi mendapatkan hadiah visual yg langka. Sekarang, kita dibawa dalam alur cerita yg konstan, di mana reward itu tidak lagi datang dalam bentuk lonjakan grafis, tetapi dalam kedalaman narasi cerita. Bagi beberapa gamer, ini kemajuan; bagi yg lain, ini "kehilangan".
Pertanyaannya sekarang: dapatkah rasa itu kembali? Mungkin jawabannya bukan sekadar yaatau tidak, tetapi bagaimana kita memaknai hadiah dalam sebuah perjalanan cerita.
Pergeseran dari reward-based storytellingmenuju continuous storytelling sudah jadi DNA dari games-games modern. Dulu kita main demi mendapatkan hadiah visual yg langka. Sekarang, kita dibawa dalam alur cerita yg konstan, di mana reward itu tidak lagi datang dalam bentuk lonjakan grafis, tetapi dalam kedalaman narasi cerita. Bagi beberapa gamer, ini kemajuan; bagi yg lain, ini "kehilangan".
Pertanyaannya sekarang: dapatkah rasa itu kembali? Mungkin jawabannya bukan sekadar yaatau tidak, tetapi bagaimana kita memaknai hadiah dalam sebuah perjalanan cerita.
Di dunia nyata, kita pun hidup dalam ritme yg sama; bekerja keras, jatuh bangun, lalu berharap ada momen "manis"sebagai balasanya. Jika hadiah itu datang terlalu sering, maka nilainya tentu akan luntur. Jika terlalu jarang, semangat kita dapat padam.
Game klasik mengajarkan kita satu hal; "bahwa reward terasa indah justru karena ia langka, karena kita menunggu, karena kita berjuang untuk mendapatkannya".
Game klasik mengajarkan kita satu hal; "bahwa reward terasa indah justru karena ia langka, karena kita menunggu, karena kita berjuang untuk mendapatkannya".
Mungkin inilah filosofi yg mulai hilang dari game modern, tetapi tetap tersimpan abadi dalam hati para-gamers. Bahwa rasa puas bukan lahir dari visual yg indah, melainkan dari perjuangan menuju momen itu sendiri.
Dalam setiap cutscene langka, ada pesan bahwa "kesabaran"akan sering berbuah, & bahwa manisnya sebuah hadiah baru terasa kalau sebelumnya kita pernah merasakan getirnya sebuah perjalanan.
Dalam setiap cutscene langka, ada pesan bahwa "kesabaran"akan sering berbuah, & bahwa manisnya sebuah hadiah baru terasa kalau sebelumnya kita pernah merasakan getirnya sebuah perjalanan.
Seperti "permen" yg jarang kita cicipi.. manisnya akan terasa seumur hidup