• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Cerpen Islami

eethacute

IndoForum Newbie F
No. Urut
52485
Sejak
11 Sep 2008
Pesan
14
Nilai reaksi
0
Poin
1
Kesombongan Macam Apa??

Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang bisa
menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang
selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk
mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat membagi
pulau kecil itu menjadi dua dan mereka tinggal berseberangan di sisi-sisi pulau
tsb.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki ke
satu melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya.
Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian, lelaki ke satu merasa kesepian dan memutuskan berdoa
agar diberikan istri. Keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya
penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau
tempat lelaki ke satu tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke
dua tetap saja tidak ada apa-apanya.

Segera saja, lelaki ke satu ini berdoa memohon rumah, pakaian, dan makanan.
Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya.
Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya,
lelaki ke satu ini berdoa meminta kapal agar ia dan istrinya dapat
meninggalkan pulau itu. Pagi hari mereka menemukan kapal tertambat di sisi
pantainya. Segera saja lelaki ke satu dan istrinya naik ke atas kapal dan
siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan
lelaki ke dua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya, lelaki kedua itu
tidak pantas menerima berkat tersebut karena doa-doanya tak pernah
terkabulkan.

Begitu kapal siap berangkat, lelaki ke satu mendengar suara dari
langit,"Hai, mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain
pulau ini?"."Berkatku hanyalah milikku sendiri, karena hanya doakulah yang
dikabulkan," jawab lelaki ke satu. "Doa temanku itu tak satupun dikabulkan.
Maka,ia tak pantas mendapatkan apa-apa." "Kau salah!" suara itu membahana.
"Tahukah kau bahwa rekanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan, semua doanya
terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa." Lelaki ke
satu itu bertanya, "Doa macam apa yang ia panjatkan sehingga aku harus
berhutang atas semua ini padanya?"

"Ia berdoa agar semua doamu dikabulkan!"

***

Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang
lain?
Banyak orang yang telah mengorbankan segala sesuatu demi keberhasilan kita.
Tak selayaknya kita mengabaikan peran orang lain, dan janganlah menilai
sesuatu hanya dari "yang terlihat" saja.
 
Manfaat Berbuat Kebaikan


Pada suatu hari raja Persia melewati seorang tua yang sedang menanam
pohon buah Zaitun, kemudian raja Kisra berhenti sebentar sambil
berfikir tentang harapan yang berada di pikiran orang tua itu,
sedangkan orang tua itu boleh jadi tidak lagi hidup ketika saatnya
memakan buah dari pohon yang ia tanam tersebut karena umurnya yang
sudah sangat tua tersebut.

kemudian raja Kisra berkata: "Wahai Orang tua bukan waktunya lagi
engkau menanam pohon Zaitun ini, karena pohon ini lambat pertumbuhan
dan berbuahnya sedangkan kau orang tua yang sangat renta sekali."

orang tua itu berkata : "wahai raja Kisra, orang-orang dahulu juga
telah menanam apa yang kita makan hari ini, maka sudah sepantasnya
kita menanam supaya anak cucu kita nanti bisa makan apa yang kita
tanam sekarang"

Lantas Raja Kisra berkata "Anda sungguh luar biasa mulia." seperti
biasanya apabila raja berkata seperti itu kepada seseorang, maka
kepada orang itu diberi hadiah sesuai dengan ukuran yang sepantasnya,
maka raja membayar untuk harga buah tersebut kepada orang tua itu.

maka orang tua itu berkata lagi "wahai raja, bagaimana pendapatmu
tentang apa yang aku tanam, alangkah cepat berbuahnya."

raja Kisra itu berkata, "luar biasa" untuk yang kedua kalinya,
kemudian orang tua itu diberikan hadiah lagi yang lain.

orang tua itu berkata lagi. "wahai raja, setiap pohon yang berbuah
sekali dalam satu tahun, sedangkan pohonku ini berbuah dalam sebentar
saja dua kali."

maka raja berkata untuk kali ketiga "luar biasa", kemudian raja
berjalan dan berkata kepada para sahabatnya "Ayo pergi, jika kita
terus-terusan berhenti di kebun orang tua ini, maka tidak akan cukup
apa yang ada di perbendaharaan kita untuk memberi hadiah kepadanya".

Cerita diatas adalah contoh bahwa Setiap kebaikan yang kita lakukan
selalu membawa manfaat bagi yang mengerjakan kebaikan itu sendiri
sebagaimana Firman Alloh SWT.

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir: seratus biji, Alloh
melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh
Maha Luas (karunia)-Nya) lagi Maha mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261).

Wassalam
 
orang baik dan orang dengki

Ada seorang lelaki yang setiap hari mengunjungi raja. Setelah bertemu
raja, ia selalu berkata, "Orang yang berbuat baik akan mendapat
balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai
balasannya."

Ada seseorang yang dengki melihat keakraban lelaki itu dengan raja.
"Lelaki itu memiliki kedudukan yang dekat dengan raja, setiap hari ia
bertemu raja," pikir si pendengki dengan perasaan kurang senang.
Si pendengki kemudian menemui raja dan berkata, "Lelaki yang setiap
hari menemuimu, jika keluar dari sini selalu berbicara buruk tentang
kamu. Ia juga berkata bahwa bau mulutmu busuk."
Raja terdiam.

Sekeluarnya dari kerajaan, pendengki duduk di tepi jalan yang biasa
dilalui oleh lelaki yang akrab dengan raja. Ketika si lelaki itu
lewat dalam perjalanannya menemui raja. Ia menghadangnya, "Kemarilah,
singgahlah ke rumahku."

Setelah temannya singgah ke rumahnya, si pendengki menawarkan bawang
merah dan putih, dan memaksanya agar ia memakannya. Karena dipaksa,
ia akhirnya mau juga memakannya untuk melegakan hati orang itu. Bau
bawang merah dan putih itu tentu tidak mudah hilang.

Selesai berkunjung ke tempat si pendengki, lelaki itu sebagaimana
biasa mengunjungi raja. Sewaktu berjabatan tangan dengan raja, ia
menutup mulutnya agar raja tidak mencium bau mulutnya.
"Rupanya benar perkataan orang itu, ia benar-benar menganggap mulutku
bau," pikir raja. Sang raja kemudian memikirkan suatu rencana jahat.
Lelaki itu kemudian duduk dan berkata sebagaimana biasa, "Orang yang
berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk,
cukup keburukan itu sebagai balasannya."

Setelah merasa waktu berkunjungnya sudah cukup, ia kemudian pamit
kepada raja. Raja berkata, "Bawalah surat ini dan serahkanlah kepada
fulan." Surat itu berisi, "Jika sampai kepadamu pembawa surat ini,
maka sembelih dan kulitilah dia, kemudian isilah tubuhnya dengan
jerami."

Lelaki tadi keluar membawa surat raja. Di tengah jalan ia dihadang
oleh si pendengki.
"Apa yang kamu bawa?" tanyanya.
"Surat raja untuk fulan. Surat ini beliau tulis dengan tangannya
sendiri. Biasanya beliau tidak pernah menulis surat sendiri, kecuali
dalam urusan pembagian hadiah.".
"Berikanlah surat itu kepadaku, aku ini sedang butuh uang," pintanya.
Ia kemudian menceritakan kesulitan hidupnya. Karena kasihan, surat
itu kemudian ia serahkan kepada si pendengki.
Si Pendengki menerimanya dengan senang hati. Setelah sampai di tempat
tujuan, ia menyerahkan surat itu kepada teman raja.
"Masuklah ke sini, raja menyuruhku membunuhmu," kata teman raja.
"Yang dimaksud bukan aku, coba tunggulah sebentar biar kujelaskan,"
katanya ketakutan.
"Perintah raja tak bisa ditunda," kata teman raja.
Ia lalu membunuh, menguliti dan mengisi tubuh si pendengki dengan
jerami.

Keesokan harinya, lelaki itu datang sebagaimana biasa dan
berkata, "Orang yang berbuat baik akan mendapat balasan, dan orang
yang berbuat buruk, cukup keburukan itu sebagai balasannya."
Raja heran melihatnya masih hidup. Setelah diselidiki, terbongkarlah
keburukan si pendengki.

"Tidak ada sesuatu yang terjadi antara aku dengannya, hanya saja
kemarin ia mengundangku kerumahnya dan memaksaku makan bawang merah
dan putih. Waktu aku menemuimu kututup mulutku agar kamu tidak
mencium bau tidak sedap dari mulutku. Sekeluarnya dari sini, ia
menemuiku dan menanyakan titipanmu," lelaki itu kemudian menceritakan
semua yang terjadi.

Mendengar jalannya cerita, tahulah raja bahwa orang itu ternyata
dengki kepada sahabatnya. "Benar ucapanmu, orang yang berbuat baik
akan mendapat balasan, dan orang yang berbuat buruk, cukup keburukan
itu sebagai balasannya."

Kedengkian di hati orang itu telah membunuh dirinya sendiri.
Dengki itu merusak amal
Dengki memakan kebaikan seperti api memusnahkan kayu bakar. (HR Ibnu
Majah)
Kedengkian seseorang hanya akan berakibat buruk bagi orang itu
sendiri.

Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul
Asyraf, Kisah dan Hikmah
 
Buat ibu tersayang........

Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizki dan kebahagiaan
(Emha Ainun Najib)
Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai saya di
depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama. Ternyata
rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan kecupan sayang
di ubun-ubun ini, lama. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang" itu ucapannya
kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan yang sungguh
bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba'da Ashar,
"Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih". Gegas saya angkat pancinya
dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. "Ah mungkin hanya untuk
membuat beberapa gelas teh saja" pikir saya
"Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram". Sebuah ember putih
ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke halaman
depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu. Subur dan
terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
"Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar yah"
pinta Ibu.
"Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam" sekilas saya memandang Ibu yang tengah
bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan, biasanya
beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda, sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari
ziarah. "Neng.." itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. "Bu, siapa
itu...?" tanya saya. "Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang" pendeknya. Dan saya
semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang untuk
mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah terlihat lebih
bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah
selepas maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari kertas
koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf al-qur'an. Dan mata ini
memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas, bukan itu
yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya berpaling,
menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak mata. Mungkinkah
segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena tangannya tak lagi
paripurna melakukan banyak hal?
"Dingin" bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya. Ibu
masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya
memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya memenuhi
udara mushala kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang dibacanya selalu itu,
Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi lagi
tangannya yang terus bergetar. "Duh Allah, sayangi Mamah" spontan saya memohon.
"Neng..." suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya terangsur di depan
saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah itu dan
menciumnya.
"Tangan ibu kenapa?" tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum maniss
sekali.
"Penyakit orang tua"
"Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit tenaga"
tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan langit
biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada bulan yang
sudah memerak sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam hening itu, saya
membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat isya tadi. Apa maksudnya? Dan
mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang dipersembahkan
tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit, sejengkel apapun
perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu berangsur ke kepala
dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi sekolah. Tangan yang
selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari kekuatan di pangkuannya
saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah ketika memohon kepada Allah
untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan yang pernah membuat bunga dari
pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja belajar saya ketika saya masih kecil
yang katanya biar saya lebih semangat belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,
suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya mengerutkan
dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf n dan m nya mirip sekali. Ibu
paling suka menulis surat dengan tulisan sambung. Dalam suratnya, selalu Ibu
menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri. Ada sebuah puisinya yang saya
sukai. Ibu memang suka menyanjung :
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan!, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan!, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta
Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari sebuah
buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda adalah
perwujudan banyak hal : Kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.... Pernahkah
ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan untuk sarapan?
Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan anaknya agar
diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah Ia menagih uang
atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita? Pernahkah ia
mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?..Pernahkah..?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya "Bu, ikutlah ke
jakarta, biar dekat dengan anak-anak". "Ah, Allah lebih perkasa di banding
kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di sini. Kamu yang seharusnya sering datang,
Ibu akan lebih senang" Jawabannya ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat
dulu melepas saya pergi. Ibu tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada
kehendak Allah. Sebelum pergi, saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi
sempat , saya reguk seluruh keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya.
Selagi sisa waktu yang saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh
takzim. Saya takut, sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya,
meletakannya di kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya kau
ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau sangat tahu,
lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan. Engkau
sangat tahu, dibanding siapapun juga. Maka, usah kau tunggu hingga tangannya
gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah masanya...
 
Dan Gerbong Kereta Pun Bersaksi

ERA MUSLIM

Dan Gerbong Kereta Pun Bersaksi
Publikasi 04/09/2003 09:56 WIB

eramuslim - “Kemarin kau tak mengaji. Hari ini tak mengaji, tak sembahyang pula kau… mau jadi manusia macam apa kau nak…” tegur seorang ibu kepada anak lelakinya yang baru berusia sekitar delapan tahun.

“Bukannya tak mau sembahyang mak. Di kereta banyak pembeli, kan sayang. Lagipula itu kan rejeki…” sanggah sang anak yang masih menggendong kotak rokok dan permen dagangannya.

“Hey … apa kau bilang??? Rejeki tu sudah ada yang mengaturnya. Bukan kau yang menentukan apa kau dapat rejeki atau tidak hari ini. Kalau kau tak berdoa pada-Nya, mungkin esok kau tak seberuntung hari ini…”.

Kata-kata itu, sungguh membuat ku terkesima. Sebuah cuplikan fragmen keimanan yang kutangkap hanya beberapa menit saat kuberdiri di Stasiun Kereta Api Pasar Minggu, Jakarta, tak seberapa masa menjelang Maghrib. Ada gemuruh yang menderu di dalam dada ini melihat pemandangan menakjubkan di depanku, terlebih mendengar dialog yang lumayan menggetarkan itu. Betapa tidak, seorang ibu yang tengah menggendong anaknya yang masih balita, ditemani putri sulungnya yang berusia tidak lebih dari dua belas tahun, meski tidak serapih muslimah-muslimah yang biasa kutemui di kampus-kampus atau perkantoran, tapi ia berusaha untuk menutupi bagian kepalanya dengan jilbab lusuh, bahu membahu bersama sang Ayah berdagang di emperan stasiun KA Pasar Minggu. Sementara anaknya yang lelaki, diberinya tanggungjawab berjualan rokok, tissue dan permen di gerbong KA Jabotabek.

Mari, ingin sekali kuajak Anda merenung tentang mereka sebelum bicara tentang diri kita sendiri. Setiap dini hari mata terjaga mendahului kokok ayam paling pagi untuk mengepak barang-barang yang akan digelar di stasiun kereta api yang berdebu, kadang sesak di pagi dan sore hari saat jam pergi dan pulang kantor, yang sudah pasti tak berpengatur udara. Tak ada kursi empuk selain alas koran yang tidak jarang membuat pinggang dan tulang bokong mereka pegal-pegal sekaligus panas, jika tak sering-sering bangun, kemudian duduk kembali sekedar melancarkan peredaran darah. Keringat yang keluar tak bisa diukur dari nine to five seperti kebanyakan kita. Sedangkan si bocah lelaki keluar masuk dan turun naik dari gerbong ke gerbong, dari pagi hingga sore menjelang dengan segala bentuk bahaya yang senantiasa menanti.

Tapi, tak sedikitpun mereka ragu bahwa Dia-lah yang mengatur semua rizki bagi manusia, tidak terkecuali mereka. Sehingga sedemikian marahnya si ibu setelah mendapat laporan dari si sulung bahwa anak lelakinya sudah dua hari tak mengaji, dan hari ini kedapatan tak sembahyang Dzuhur.

Kemudian mari tengok diri ini. Di pagi hari tak perlu memanggul karung dan dus yang berat, untuk menggelarnya terpal di emperan manapun. Kita hanya perlu naik kendaraan menuju kantor, duduk di kursi yang empuk, mungkin tak ada peluh yang harus dibasuh karena seharian bekerja di ruangan ber-AC, dan tidak jarang masih mendapatkan pelayanan khusus dari office boy.

Namun dengan kondisi yang demikian lebih baik, tidak jarang dzuhur dan ashar tertinggal, minimal sholat dzuhurnya menjelang ashar. Itu pun jika sempat. Seringkali kesibukan dan terlalu banyak pekerjaan menjadi alasan untuk tak melafazkan barang satu ayatpun kalimah-Nya. Tak mengertikah kita bahwa mungkin saja Dia yang maha mengatur rizki itu tak lagi memberikan kita semua kesibukan yang hari ini menjadi alasan untuk tak mendekati-Nya?

Sungguh, enggankah kita membiarkan semua pekerjaan, komputer, meja kerja, kursi empuk, telepon yang berdering-dering itu kelak menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa mereka pernah ditinggal oleh pemiliknya di waktu-waktu tertentu saat kita bermunajat pada-Nya?

***

Adzan Maghrib pun berkumandang, kuikuti punggung-punggung mereka yang menuruti langkah-langkah kecil menuju mushola.
 
Allah SWT berfirman: "Dan
kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tua." (Qs.
Al Ankabuut [29] : 8)



Bismillahirrahmanirrahim,

Siang itu saat I'tikaf
di sebuah masjid di bilangan Jendral Sudirman Jakarta datang seorang pria
bernama Mucthar (bukan nama sebenarnya). Pria ini adalah orang berada, dari
paras dan pakaian yang dikenakannya saya dapat menyimpulkan itu.

Kami berbincang usai
shalat Zhuhur. Dan kami mencoba merenungi karunia apa yang pernah Allah Swt
limpahkan selama hidup.

Satu per satu orang
mengutarakan karunia Allah yang ia rasakan. Subhanallah, terkadang dalam duduk
sesaat merenungi karunia Allah bersama kumpulan orang-orang yang shalih bisa
membuat hidup lebih berarti dan sarat makna.

Maka satu demi satu
masing-masing kami merasakan betapa Allah Swt sangat sayang kepada setiap
hambaNya. Namun sedikit sekali dari manusia yang pandai bersyukur kepada Allah
Swt.

Kini giliran Muchtar
untuk bicara. Ia menyatakan bahwa sampai saat ini dia bekerja sebagai konsultan
dalam bidang pertambangan.

"Tidak melulu
orang yang bekerja di bidang ini selalu berlebih harta" menurutnya.
"Namun perkara lapang atau sempit, sebetulnya ada dalam hati masing-masing
orang" lanjutnya.

"Saya ingat tahun
90-an, saya punya uang sekitar Rp40 juta. Istri saya berencana menggunakan uang
itu untuk membeli sebuah rumah di Serpong, dan memang saat itu kami belum
memiliki rumah…. Kemudian saya usul kepada istri bahwa kedua orang tua saya dan
kedua orang tuanya belum pernah berhaji. Mumpung mereka masih ada umur dan kita
ada kelapangan uang 40 juta ini, kiranya berkenankah istri saya untuk
mengikhlaskan uang ini untuk memberangkatkan mereka berempat ke tanah
suci?" Muchtar menjelaskan awal masalah kepada kami semua.



Selanjutnya Muchtar mengutarakan
bahwa malam itu setelah melewati beberapa pertimbangan akhirnya sang istri
menuruti usulnya. Dan proses itu tidak mudah, berkali-kali istrinya berpikiran
goyah, sehingga hampir membatalkan niat untuk memberangkatkan haji keempat
orang tua mereka.



"Namun saya
bilang kepada istri saya, bahwa ini adalah bentuk bakti kita kepada orang tua.
Pastilah Allah akan bayar kebaikan ini….! Apalagi sesampainya di sana, orang
tua kita akan mendoakan di tempat-tempat mustajab. Aku jamin, Allah pasti akan
membalas kebaikan ini!" jelas Muchtar kepada istrinya.



Ketegaran hati pun
mengkristal dan niat suci itu pun terlaksanakan. Saat itu ongkos naik haji
(ONH) kira-kira Rp7 juta-an. Ditambah biaya bimbingan dan biaya hidup selama di
tanah suci maka kira-kira uang Rp 40 juta itu adalah cukup.



Maka berangkatlah keempat orang yang dicintai Muchtar dan istrinya ke tanah
suci untuk berhaji.



Tidak ada yang sia-sia saat kita melakukan kebaikan. Energi kebaikan itu
akan kembali kepada pemiliknya. Bahkan boleh jadi ia akan kembali menjadi besar
hingga menggunung dan mengejutkan pemilik kebaikan itu. Apalagi bila kebaikan
itu ditunaikan kepada orang tua yang begitu berjasa atas kehidupan kita?
Bukankah Allah akan ridha bila orang tua meridhai kita?!





Hanya 3 bulan
berselang dari pendaftaran haji dan penyerahan biaya haji itu. Orang tua pun
belum berangkat haji ke tanah suci, namun Muchtar sudah mendapatkan balasan
ilahi.



"Saya gak sangka
pak, saat itu saya menerima bonus akhir tahun dari perusahaan senilai Rp360
juta…! Saya kaget dan saya teramat
bersyukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah. Sesampainya di rumah saya
ceritakan ini kepada istri, dan istri saya pun terperanjat. Akhirnya, kami
merasakan betapa Allah Swt menepati janjinya." Jelas Muchtar.



Uang itu ia belikan mobil
dan sebuah rumah. Ya sebuah rumah yang dibeli setelah ditangguhkan keinginan
memilikinya demi berbakti kepada orang tua. Rumah itu kini lebih besar Allah
beri daripada keinginan semula. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan? Ya,
karenanya perbanyaklah kebaikan dan berbaktilah kepada orang tua!

Semoga bermanfaat

Wassalam
 
thanks for your posting....
posting lg yg lain dong
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.