Cerita tragis Jelita, pasien miskin diterlantarkan RSUD Pekanbaru

facebookeb

IndoForum Senior A
Jelita (44), warga Simpang Intan, kecamatan Pinggir kabupaten Bengkalis, Riau, tidak mendapatkan perawatan di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru. Setelah mengalami kebakaran pada tahun 2007 lalu, Jelita dibiarkan menunggu selama enam hari di lantai beralas tikar.

Junihar Silaban (44), suami Jelita pun hanya diberikan harapan kosong oleh pihak Rumah Sakit. Padahal dia sudah memakai Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) untuk menebus biaya Rumah Sakit.

Pria beranak tiga ini mengaku tidak memiliki saudara di Pekanbaru. Sehingga setelah rumahnya terbakar, Junihar tidak memiliki tujuan lain untuk tinggal.

Sementara itu, pihak keamanan RSUD Arifin Ahmad berkeluh kesah karena tidak terima sebutan pengunjung yang merasa iba melihat kedua pasangan suami istri tersebut.

"Siapa bilang terlantar, ibu itu kan pasien rawat inap, kan sudah diberi tahu untuk menunggu informasi selanjutnya, karena tidak ada saudara di Pekanbaru, makanya ibu itu tidur di ruang pendaftaran bersama suaminya," celetuk salah seorang petugas keamanan.

Bukan hanya dibiarkan menunggu, Jelita juga mengalami penderitaan lain pasca kebakaran tersebut. Berikut derita yang dialami oleh Jelita.

1.Tidur di lantai beralas tikar di RSUD Pekanbaru selama 6 hari

Pasca rumahnya terbakar pada tahun 2007 lalu, Jelita tidak diberikan ruang inap oleh pihak RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru. Dia hanya tidur selama 7 hari di lantai ruang pendaftaran beralaskan tikar plastik yang sangat tipis.

"Kata dokter disuruh nunggu, sudah 6 hari menunggu di sini, ya tidur di lantai ini," ungkap Junihar, suami Jelita, Minggu (1/3) lalu.

Sejak dibawa ke Rumah Sakit, Minggu (22/2) lalu, Junihar hanya dijanjikan dan diberikan harapan istrinya akan dirawat dan diobati oleh pihak rumah sakit. Namun hingga saat ini, Jelita masih disuruh menunggu dan hanya bisa tertidur di lantai.

2.Tidak mendapat perawatan, luka jelita membusuk

Selain tidak mendapatkan ruang inap di Rumah Sakit dan disuruh menunggu hingga berhari-hari, Jelita juga tidak mendapat perawatan intensif oleh pihak rumah sakit. Alasannya, pihak rumah sakit masih menunggu panggilan dokter untuk dioperasi amputasi.

Parahnya, tangan kanan Jelita yang mengalami luka bakar dibiarkan membusuk. Jelita kerap teriak-teriak menyerukan rasa sakit pada tangannya yang terbalut kain. Tanpa diinfus, Jelita terbaring di lantai ruangan pendaftaran RSUD Arifin Ahmad.

Padahal, Junihar sudah memakai Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) untuk menebus biaya Rumah Sakit. Namun pihak rumah sakit tetap tidak memberikan perawatan kepada Jelita.

"Mereka janji istri saya akan dioperasi, tapi gak tahu kapan dioperasinya, saya pakai Jamkesda Bang," ujar Junihar.

3.Karena membusuk dan bau, Junihar kerap diomeli petugas RS

Luka bakar di tangan kanan Jelita yang membusuk juga kerap menimbulkan bau busuk. Namun bukannya diberikan perawatan atau infus, Junihar malah disuruh untuk menghilangkan bau tersebut oleh petugas rumah sakit.

"Saya malu disindir tangan istri saya bau, memang saya salah mengganggu kenyamanan orang lain, tapi mau bagaimana lagi, saya gak punya saudara di Pekanbaru ini," ujar Junihar yang mengaku berasal dari Simpang Intan, kecamatan Pinggir kabupaten Bengkalis, Riau.

Karena disindir pihak RSUD Arifin Ahmad, Junihar membuat kopi sebagai upaya menghilangkan bau busuk dari tangan kanan istrinya.

"Itu kopi dalam gelas saya buat, sesekali saya minum, untuk menghilangkan bau saya letakkan dekat tangan istri saya," keluh Junihar.

4.Demi istri, Junihar meninggalkan anak-anaknya di kampung

Junihar mengaku meninggalkan tiga orang anak di kampungnya. Karena tidak memiliki sanak saudara di Pekanbaru, Junihar terpaksa meninggalkan anak-anaknya di kampung.

Bahkan Junihar yang sehari-hari bekerja sebagai buruh di PT Adei Plantation, mengaku tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Dulu rumah saya kan terbakar, pekerjaan saya juga hanya buruh di PT Adei Plantation, gaji gak cukup untuk sekolah anak-anak, jadi hanya satu anak saja yang sekolah di SMA, yang dua anak lagi hanya sampai SMP," kata pria berasal dari Sumatera Utara ini.

Salah seorang anaknya masih menempuh pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan dua anak lainnya putus sekolah hanya di tingkat Sekolah Menengah Pertama karena terbatas biaya.
 

Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact us untuk memulai.
Top