• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Catatan Penderita Sinusitis Dan Rhinitis

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Catatan Penderita Sinusitis Dan Rhinitis

Sumber: google


Jika boleh memilih mungkin kita semua pasti meminta atau mengharapkan yg terbaik untuk kehidupan kita, ye, kan? Termasuk dalam hal kesehatan.

Namun, itu semua apalah daya karena kita cuma sebagai hamba yg tak berdaya kalau Sang Maha Pengatur memberikan kita ujian berupa suatu penyakit atau apa pun itu pada diri kita.

Seperti halnya diriku, entah mulainya dari kapan. Tapi, yg kuingat saat itu tahun 2001 saya masih duduk di bangku sekolah setingkat SMA & kala itu saya tinggal di asrama karena sekolah plus mondok.

Di bagian alis sebelah kiri ada benjolan sekecil beras, rasanya di bagian tersebut sering sekali terasa nyeri. Terkadang sakitnya menjalar ke bagian wajah, kening, & kepala bagian depan. Sempat mengadu kepada kakak laki-lakiku yg kebetulan saat itu masih satu sekolah denganku.

"Halah, itu mah paling cuman kebanyakan tidur doang." Begitu jawaban dari kakakku. Dasar kakak lucknut gak ada akhlak.

Setelah lulus sekolah & mulai tunggal bersama orang tua sakit itu kadang muncul kembali. Rasa sakit di bagian alis, beberapa paras & kepala yg mendera kadang samgat mengganggu aktivitas. Apalagi ketika dibawa ruku & sujud rasa nyeri itu jadi berkali-kali lipat hingga terasa bola mata mau copot dari tempatnya.

Walaupun harus sering menahan rasa sakit yg luar biasa itu saya tidak ada keberanian untuk bercerita kepada orang tua apalagi untuk minta periksa ke dokter. Karena saya sangat paham dengan kondisi orang tuaku yg untuk keperluan makan sehari-hari saja masih kesilitan apalagi kalau untuk biaya berobat ke dokter ataupun puskesmas karena jarak yg cukup lumayan jauh.

Sekitar tahun 2013 saya menikah. Sakit itu kembali muncul. Aku pun mulai memberanikan diri memeriksakan diri ke klinik terdekat. Dokter biasa yg kutemui saat itu bilang kalau saya terkena sinusitis, peradangan di area sinus, hidung.

Rasa sakit mulai mereda selama mengkonsumsi obat.

Setelah memiliki anak sinusitis kembali datang yg sakitnya tidak dapat ditahan hungga saya harus menangis sendiri selama harus merasakan rasa nyeri yg luar biasa di bagian alis, mata, beberapa paras & kepala, serta mampet di bagian hidung hingga terasa kesulitan untuk bernapas.

Setelah harus bolak balik puskesmas baru diberi rujukkan ke rumah sakit untuk periksa ke poli THT.

Dokter spesialis THT menyarankan supaya operasi. Tapi karena saat itu saya belum siap dokter pun cuma memberi beberapa resep obat untuk meringankan & berpesan supaya saya berusaha sedapat mungkin menghindari pemicunya supaya sinusitis itu tak gampang kambuh.



Diantaranya harus jangan hingga terkena debu, serbuk bunga, bahan kimia yg berbau menyengat serta cuaca dharap.

Permah beberapa waktu mampet & rasa nyerinya menghilang, tetapi berganti dengan bersin-bersin & meler tanpa jeda. Disertai rasa gatal dibagian langit-langit mulut, mata, & telinga.

Namun nyatanya karena hidup di kampung untuk harus menghindari pemicunya itu sangat sulit. Apalagi orang-orang di sekitar banyak yg tak dapat memahami dengan kondisi kesehatan kita.

Mereka sering melabeli kami penderita sinusitis & rhinitis ini dengan kalimat-kalimat yg menciptakan kami semakin terpojok dengan penyakit ini.
Mereka bilang kami, lebay, pemalas, karena tidak dapat hidup normal & bebas seperti mereka.

Karena kadang saya sendiri tidak berani menyapu rumah yg sudah banyak banget debunya atau menyapu halaman pada musim kemarau yg debunya pasti banyak. Qodarillah suami ngerti & mau mengerjakan pekerjaan itu walau resiko ya, itu harus nerima nyinyiran & kalimat julid dari tetangga atau orang sekitar.

"Kok, suami yg nyapu? Nyapu itu tugasnya istri bukan suami." Begitu protes salah satu sesenenek yg melintas di depan rumah & melihat suami menyapu.

Sesenenek itu mungkin tidak menyadari kalau ucapannya itu sungguh sangat mengganggu pikiranku. Siang malam bahkan sudah bertahun-tahun pun ucapannya itu sering terngiang di telinga & menimbulkan rasa luka di hati ini.

Padahal, apa yg salah dengan seorang suami mengerjakan kerjaan rumah? Tapi, memang sudah jadi tradisi seakan kalau seorang suami menolong pekerjaan rumah itu adalah suatu aib atau kesalahan hingga ada yg melabeli suami takut istri ceunah, tatkala melihat si suami menyapu atau mencuci pakaian kotor demi meringankan tugas istri.

Buat kalian yg masih diberi kesehatan sempurna. Please ... Stop melabeli kami dengan sebutan lebay, pemalas, manja, & kata-kata penghakiman menyakitkan lainnya yg malah memperburuk kondisi kami karena merasa semakin stress dengan seringnya mendengar stigma seperti itu.

Kemarin 20:30
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.