• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Berita Cara Napi Nusa Kambangan " Jalan Jalan " Keluar Sel

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
96
Poin
48
eWIa.jpg
Sirene ambulans itu meraung-raung saat menjejakkan keempat rodanya di Pelabuhan Wijaya Kusuma, Cilacap, Jawa Tengah. Mobil khusus pasien dari Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan itu langsung melaju kencang. Sopirnya terburu-buru mengantar pasien ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap.

Di dalam mobil prioritas itu ada lelaki berkulit hitam. Seorang narapidana narkotik asal Nigeria. Di tangan pria itu menempel infus namun tidak disuntik. "Hanya untuk mengelabui," kata Andri, nama samaran, pekerja di RSUD Cilacap, saat berbincang dengan merdeka.com dua pekan lalu di pelataran rumah sakit.

Mobil ambulans itu tidak berhenti layaknya membawa pasien butuh pertolongan di instalasi gawat darurat. Sang sopir justru berhenti di depan lobi rumah sakit. Pasiennya lantas turun dan langsung menuju ruang VIP. Tembok bercat putih itu bertulisan ruang Dahlia. Hanya ada tiga ruangan VIP di RSUD Cilacap. Namanya pun hanya Ruang Dahlia.

Kamarnya cukup unik karena khusus bagi para napi. Rancangannya dibuat seperti kamar tahanan, di belakang pintu dan jendela terdapat teralis besi tambahan. Sisanya berisi lemari pakaian, tempat tidur, dan meja.

Napi asal negeri Benua Hitam itu masih menguasai peredaran narkotik dari dalam penjara. Banyak dari mereka memiliki fasilitas lengkap di dalam lembaga pemasyarakatan Nusa Kambangan. Hanya saja untuk urusan syahwat, rawat inap menjadi pilihan utama.

"Masih banyak duit mereka, keluarin duit segitu nggak terasa. Hitung-hitung hilang rasa pusingnya," ujar orang dalam itu seraya tertawa.

Ada dua pilihan ruangan rawat inap di kamar Dahlia. Kelas dua berisi enam tempat tidur di sisi dalam dan dua ruangan eksekutif di sisi luar. Bagi napi miskin cukup kelas dua dan napi kaya memilih ruangan eksekutif. Permintaan khusus rawat inap memang ditunjukkan dari Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan buat para tahanannya.

Kepala Pelaksana Tugas RSUD Cilacap Nono Rasino melempar semua tanggung jawab kepada otoritas lembaga pemasyarakatan. Untuk setiap pengunjung pasien napi harus seizin sipir bertugas. "Kita tidak berhak mensortir pasien satu-satu, mana boleh mana tidak. Semua sudah ada pengamanannya," ujarnya saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Asminan Mirza Zulkarnain menolak memberikan keterangan lebih jauh sebelum mengecek langsung ke lapangan. "Ini informasi pertama buat saya, saya coba cek ke bawah,"

Suat keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, memang sulit. Penjagaan ketat mulai dari pintu masuk hingga Pelabuhan Sodong, tempat bersandar kapal penyeberangan ke Nusa Kambangan dari Pelabuhan Wijaya Kusuma membuat susah jika narapidana ingin kabur.

Namun ada jurus jitu bagi narapidana narkotik asal Nigeria buat keluar meski dalam pengawasan ketat. Mereka membayar petugas penjara buat mengeluarkan rujukan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap. Surat rujukan itu dengan segala pelicinnya mencapai puluhan juta. "Satu surat Rp 15 juta," kata sumber merdeka.com namanya dirahasiakan saat berbincang dua pekan lalu di Cilacap, Jawa Tengah.

Untuk modus rawat inap, minimal para napi saban dua bulan sekali berpura-pura sakit. Sipir ikut ketiban fulus, untuk sehari menjaga napi bisa mencapai Rp 1 juta-Rp 1,5 juta saban mengantar.

"Untuk bikin surat rujukan sama buat antar napi beda lagi. Biasanya kawal ambulans sama jaga sekitaran segitu," ujar orang dalam lembaga pemasyarakatan Nusa Kambangan. Dia mengatakan akhir-akhir ini pelayanan buat rawat inap napi lebih diperketat setelah ada penggerebekan di rumah sakit itu beberapa waktu lalu.

Para napi asal negeri Benua Hitam itu masih menguasai peredaran narkotik dari dalam penjara. Banyak dari mereka memiliki fasilitas lengkap di dalam sel. Hanya saja untuk urusan syahwat rawat inap menjadi pilihan utama. "Masih banyak duit mereka, keluarin duit segitu nggak terasa. Hitung-hitung hilang rasa pusingnya," tutur sumber itu seraya tertawa.

Keluarnya surat rujukan itu merupakan permainan antara petugas penjara dengan pihak RSUD Cilacap. Surat itu untuk memuluskan narapidana keluar menjalani perawatan padahal modusnya ingin melampiskan hasrat dengan pelacur sewaan. "Banyak duit untuk membungkam," katanya.

"Kita hanya berdasarkan surat rujukan dari rumah sakit setempat, dokter lembaga pemasyarakatan Nusa Kambangan," ucap Kepala RSUD Cilacap Nono Rasino.

Dihubungi terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Asminan Mirza Zulkarnain belum mau berkomentar. "Saya harus cek dulu ini."
 
Para tahanan asal Nigeria hampir semuanya merupakan jaringan narkotik internasional. Sudah terpasung di dalam jeruji besi dan pulau tersendiri, mereka mampu berlagak seperti raja. Semua permintaan mampu dilayani dengan baik.

Mereka di dalam penjara mudah menghamburkan uang. Saban kali mandi satu mobil bermuatan air minum isi ulang dipesannya dari Cilacap. "Semuanya pakai sistem e-banking untuk transaksi, dia punya komputer jinjing di dalam," kata seorang sumber merdeka.com di dalam Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dua pekan lalu. "Kalau cuma telepon seluler aja pasti punya."

Perlengkapan teknologinya tidak tanggung-tanggung. Untuk menghindari penyumbatan sinyal telekomunikasi di dalam penjara, para tahanan Nigeria itu merakit sebuah alat pemancar penguat sinyal.

Posisinya berada di sebelah gedung lembaga pemasyarakatan terbuka bersebelahan dengan penjara narkotik. Kongkalikong para napi Nigeria dengan napi jelang bebas. Mereka dikumpulkan di lembaga pemasyarakatan terbuka, penghuninya bisa bebas berkeliaran di pulau seluas 21 ribu hektare itu.

"Pemancarnya bisa menyadap frekuensi radio juga. Jadi siapa saja mau masuk Nusa Kambangan bisa diketahui dari pintu masuk melalui radio panggil," ujarnya.

Untuk perakitan alat tersebut, semua dimasukkan ke dalam penjara satu-satu bagian hingga nantinya dirakit oleh para napi Nigeria sendiri. Mereka kategori terkini untuk urusan perkembangan teknologi. "Dia rakit sendiri, sipir-sipir juga antar peretelennya," tutur sumber itu.

Di Nusa Kambangan semua tahanan memiliki hukuman minimal lima tahun dengan kasus berat. Kehidupannya lebih keras dibanding penjara di wilayah lain. Seorang tahanan kelas kakap berlagak seperti singa, diterbangkan ke Nusa Kambangan bisa berubah menjadi kucing rumahan. "Sekelas John Kei, sampai Nusa Kambangan masuknya disuruh jalan jongkok. Dia tidak sekuat seperti di Jakarta," katanya.

Di pulau bergunung kapur itu, napi asal Nigeria dikenal royal. Beberapa sipir bisa tergiur mengabdi kepada mereka. Kadang sesama tahanan lokal berebut menjadi centengnya. "Mau dapat duit, kerja sama dia bisa uangnya bulanan bro," ujar Rio, mantan penghuni Nusa Kambangan.

Tugasnya cukup melindungi atau sekadar menjadi pesuruh di dalam sel. Kerjanya nggak berat bisa dapat sejuta, kebutuhan sehari-hari ditanggung," kata pria dengan rajah di seluruh wajahnya itu.

Berkeliling di pulau, merdeka.com sempat melihat tempat eksekusi tembak para tahanan mati. Berbentuk kotak dikelilingi tembok polos setinggi dua meter. Luasnya hampir satu lapangan sepak bola dengan pos penjagaan di pojok area. "Itu tempat Amrozi Counter Strike ditembak di situ," kata seorang warga asli Nusa Kambangan enggan disebutkan namanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jawa Tengah Asmirna Mirza Zulkarnain menegaskan pihaknya tidak mengistimewakan narapidana mana pun. Saat ini sudah menjadi larangan keras bagi pegawai menyalahgunakan wewenangnya. "Kita akan bertindak tegas, nggak ada yang diistimewakan."
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.