yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Jokowi Kumpulkan Gubernur Se-Asia Tenggara
Gubernur Bangkok M. R. Sukhumband Paribatra menyatakan, "Secara pribadi, Jakarta telah memberikan inspirasi dalam mengatasi kemacetan di Bangkok. Di Bangkok, ada kesamaan persoalan dengan di Jakarta yang dipimpim Joko Widodo, khususnya di bidang kemacetan dan banjir," kata Sukhumband saat dijumpai wartawan usai bertemu Jokowi di Balaikota DKI, Selasa (17/9).
"Saya sangat mengapresiasi tindakan Joko Widodo. Di dalam ruang rapat tadi, kami saling bertukar pikiran mengenai persoalan yang kami hadapi saat ini, khususnya mengatasi masalah kemacetan kota dan banjir," ujar Sukhumband. Di dalam rapat itu, kata Sukhumband, dirinya dan Jokowi juga bersepakat untuk mengumpulkan para Gubernur di negara-negara ASEAN dalam rangka First Meeting of Governoor and Mayor ASEAN yang akan digelar 2015 mendatang.
"Saya kagum inisiatif Joko Widodo yang ingin mengumpulkan para Gubernur di ASEAN. Inisiatif ini akan membangun kerjasama yang lebih baik dan saling tukar pemahaman di tiap ibukota. Karena setiap kota di ASEAN, rata-rata sama masalahnya soal kemacetan dan banjir," pungkas Sukhumband sambil meninggalkan Balaikota.
Tips Gubernur Bangkok Bangun MRT dan "Sky Train"
Memulai adalah hal paling sulit dalam sebuah kebijakan. Kesulitan akan berlipat jika kebijakan itu mendapat tentangan dari masyarakat. Kondisi itulah yang dialami Gubernur Bangkok MR Sukhumbhand Paribatra saat kali pertama membangun sky train dan mass rapid transit.
sky train bangkok
"Kami mulai sky train sekitar 15 tahun lalu, sedangkan MRT sekitar 7 tahun lalu. Reaksi (masyarakat) memang tidak terlalu bagus," ujarnya di sela-sela Meeting of the Governors/Majors of the Capitals of ASEAN di Jakarta, Kamis (19/9/2013).
Waktu itu, tutur Paribatra, masyarakat menolak pembangunan sky train karena lahan yang digunakan untuk pembangunan fondasi adalah milik masyarakat. Adapun penolakan terhadap MRT, yang dibangun kemudian, adalah ketakutan menggusur sky train. Pemerintah kala itu pun melaksanakan sejumlah langkah untuk meyakinkan masyarakat.
"Memang masyarakat itu perlu waktu untuk beradaptasi dengan hal-hal yang baru," lanjut Paribatra.
Tahun-tahun berjalan, dua moda transportasi itu menjadi angkutan paling sukses yang mengangkut ribuan penumpang setiap hari. Saban hari, ada 15 juta-17 juta penumpang yang bergerak di ibu kota Thailand. Dari jumlah itu, 40 persen ditampung MRT dan sky train. Sisanya menggunakan kendaraan pribadi.
Belum mengatasi macet
Meski telah membangun dua moda transportasi, Paribatra mengakui bahwa Bangkok belum bisa lepas dari masalah kemacetan. Sistem transportasi di Bangkok hanya menjangkau dalam kota, tidak menjangkau seluruh Bangkok dan daerah sekitar.
"Masalah terberat itu tidak adanya transportasi massal yang baik di sekitar Bangkok atau provinsi tetangga karena orang bekerja di Bangkok banyak tinggal di daerah sekitarnya. Kalau kita tidak punya transportasi yang mengakomodasi itu, masalah kemacetan pasti tetap ada," ujarnya.
Oleh sebab itu, tak ada jalan lain yang bisa dilakukannya untuk membangun fasilitas transportasi massal lain agar warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Dengan begitu, permasalahan kemacetan pun dapat teratasi.
"Program kita sekarang dalam waktu 10 tahun, kami akan memiliki 400 kilometer railway. Dalam 20 tahun, semoga lebih dari itu," ujarnya yakin. fondasi
Jokowi Ingin ASEAN seperti Uni Eropa
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo melontarkan wacana menciptakan sistem destinasi pariwisata di negara-negara anggota Association of South East Asian Nations (ASEAN) seperti negara-negara Uni Eropa.
Jokowi mengatakan, jika hal itu terwujud, wisatawan di negara-negara ASEAN bisa mendapat pilihan paket perjalanan wisata ke negara ASEAN tanpa visa. "Misalnya, turis datang ke Jakarta, setelah itu bisa ditarik Singapura, dari Singapura ke Kuala Lumpur, semua terkoneksi," ujar Jokowi di Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2013).
Ia menyebutkan, melalui sistem join destination tourism tersebut, turis asing, baik sesama negara ASEAN maupun negara lain, dapat menikmati tempat wisata, tidak hanya di satu negara, tetapi juga di negara kawasan.
"Karena apa? Turis itu kan mau lihat yang beda-beda, semakin baik kan. Singapura beda, Kuala Lumpur beda, Vietnam beda. Disuguhkannya jika seperti itu pasti akan lebih menarik," ujarnya.
Jokowi menyatakan, usulan itu sesuai dengan cita-cita komunitas ASEAN pada 2015, di mana ASEAN bukan hanya soal pasar tunggal, melainkan juga masyarakat ASEAN yang memiliki satu visi. Meski demikian, Jokowi mengatakan bahwa idenya tersebut masih berupa usulan semata. Ia berharap usulan itu dapat diterima oleh kepala daerah-kepala daerah negara lain dalam ASEAN sehingga cita-cita ASEAN Economic Community dapat terlaksana.
"Saya sangat mengapresiasi tindakan Joko Widodo. Di dalam ruang rapat tadi, kami saling bertukar pikiran mengenai persoalan yang kami hadapi saat ini, khususnya mengatasi masalah kemacetan kota dan banjir," ujar Sukhumband. Di dalam rapat itu, kata Sukhumband, dirinya dan Jokowi juga bersepakat untuk mengumpulkan para Gubernur di negara-negara ASEAN dalam rangka First Meeting of Governoor and Mayor ASEAN yang akan digelar 2015 mendatang.
"Saya kagum inisiatif Joko Widodo yang ingin mengumpulkan para Gubernur di ASEAN. Inisiatif ini akan membangun kerjasama yang lebih baik dan saling tukar pemahaman di tiap ibukota. Karena setiap kota di ASEAN, rata-rata sama masalahnya soal kemacetan dan banjir," pungkas Sukhumband sambil meninggalkan Balaikota.
Tips Gubernur Bangkok Bangun MRT dan "Sky Train"
Memulai adalah hal paling sulit dalam sebuah kebijakan. Kesulitan akan berlipat jika kebijakan itu mendapat tentangan dari masyarakat. Kondisi itulah yang dialami Gubernur Bangkok MR Sukhumbhand Paribatra saat kali pertama membangun sky train dan mass rapid transit.
sky train bangkok
Waktu itu, tutur Paribatra, masyarakat menolak pembangunan sky train karena lahan yang digunakan untuk pembangunan fondasi adalah milik masyarakat. Adapun penolakan terhadap MRT, yang dibangun kemudian, adalah ketakutan menggusur sky train. Pemerintah kala itu pun melaksanakan sejumlah langkah untuk meyakinkan masyarakat.
Tahun-tahun berjalan, dua moda transportasi itu menjadi angkutan paling sukses yang mengangkut ribuan penumpang setiap hari. Saban hari, ada 15 juta-17 juta penumpang yang bergerak di ibu kota Thailand. Dari jumlah itu, 40 persen ditampung MRT dan sky train. Sisanya menggunakan kendaraan pribadi.
Belum mengatasi macet
"Masalah terberat itu tidak adanya transportasi massal yang baik di sekitar Bangkok atau provinsi tetangga karena orang bekerja di Bangkok banyak tinggal di daerah sekitarnya. Kalau kita tidak punya transportasi yang mengakomodasi itu, masalah kemacetan pasti tetap ada," ujarnya.
Oleh sebab itu, tak ada jalan lain yang bisa dilakukannya untuk membangun fasilitas transportasi massal lain agar warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Dengan begitu, permasalahan kemacetan pun dapat teratasi.
"Program kita sekarang dalam waktu 10 tahun, kami akan memiliki 400 kilometer railway. Dalam 20 tahun, semoga lebih dari itu," ujarnya yakin. fondasi
Jokowi Ingin ASEAN seperti Uni Eropa
Jokowi mengatakan, jika hal itu terwujud, wisatawan di negara-negara ASEAN bisa mendapat pilihan paket perjalanan wisata ke negara ASEAN tanpa visa. "Misalnya, turis datang ke Jakarta, setelah itu bisa ditarik Singapura, dari Singapura ke Kuala Lumpur, semua terkoneksi," ujar Jokowi di Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2013).
Ia menyebutkan, melalui sistem join destination tourism tersebut, turis asing, baik sesama negara ASEAN maupun negara lain, dapat menikmati tempat wisata, tidak hanya di satu negara, tetapi juga di negara kawasan.
"Karena apa? Turis itu kan mau lihat yang beda-beda, semakin baik kan. Singapura beda, Kuala Lumpur beda, Vietnam beda. Disuguhkannya jika seperti itu pasti akan lebih menarik," ujarnya.
Jokowi menyatakan, usulan itu sesuai dengan cita-cita komunitas ASEAN pada 2015, di mana ASEAN bukan hanya soal pasar tunggal, melainkan juga masyarakat ASEAN yang memiliki satu visi. Meski demikian, Jokowi mengatakan bahwa idenya tersebut masih berupa usulan semata. Ia berharap usulan itu dapat diterima oleh kepala daerah-kepala daerah negara lain dalam ASEAN sehingga cita-cita ASEAN Economic Community dapat terlaksana.