• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Cara Albert Camus Menghadapi Quarter Life Crisis

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Cara Albert Camus Menghadapi Quarter Life Crisis


Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net -Dewasa ini, khususnya kalangan milenial & zilenial kerap membicarakan situasiquarter life crisis,atau dalam istilah filsafat disebut krisis eksistensial: kondisi manusia yg gundah akan makna, tujuan, & kebebasannya dalam memilih jalan hidupnya. Kondisi tersebut biasanya memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Aku hidup untuk apa? Apakah makna dari hidup ini? Apakah ada maknanya atau tidak? Apakah gunanya saya hidup di alam semesta ini?

Dalam filsafat eksistensialisme, kondisi semacam itu secara sadar ataupun tidak, sebenarnya didasari oleh perasaan bahwa kehidupan di dunia ini absurd. Apa yg kita upayakan dalam hidup ini serba tidak jelas makna & tujuannya. Atas dasar perasaan itu, manusia kemudian mempertanyakan eksistensinya kepada segala hal yg melingkupi dirinya.

Untuk membongkar kepelikan keadaan tersebut, pada tulisan ini akan membahas salah satu aliran filsafat yg tidak kalah menarik dari eksistensialisme, yaitu absurdisme. Aliran itu digagas oleh Albert Camus, yg mana pada saat itu beliau mencetuskan pemikirannya sebagai kritik kepada kehidupan modern di zaman 20. Bagi beberapa orang, beliau bukanlah seorang filsuf-bahkan Albert Camus sendiri pun menolak sebutan filsuf & eksistensialis-beliau justru lebih terima ketika disebut seorang sastrawan.

Meski demikian, karya-karyanya yg memang notabene bertajuk sastra, tetapi di dalamnya sangat pekat dengan pemikiran-pemikiran filosofis, khususnya yg merujuk pada eksistensialisme. Salah satu karyanya yg terkenal adalah Mitos Sisifus, yg dalam pembahasan kali ini jadi referensi mengenai absurdisme & kaitannya dengan krisis eksistensial.

Mengenal Absurdisme
Dalam pengertian filsafat, absurdisme merupakan aliran yg menyatakan bahwa makna hidup tidak mungkin ditemukan oleh manusia secara absolut. Sebab, manusia tidak akan menemukan makna dari kehidupan dengan eksistensinya yg masih berjalan terus-menerus di ruang & waktu yg bersifat dinamis & kompleks. Upaya apapun yg dimungkinkan manusia untuk menemukan makna absolut dari alam semesta, pada akhirnya akan gagal. Oleh karenanya, ketidakjelasan pada yg disebut makna hidup, ditafsirkan sebagai sesuatu yg absurd.

Namun bukan berarti absurdisme di sini seperti halnya nihilisme yg menyatakan bahwa kehidupan tidak mempunyai makna; adalah hal yg sia-sia ketika menusia berusaha menemukan makna dari kehidupan. Kata absurd pada konteks ini bukan berarti tidak mungkin secara rasional, melainkan tidak mungkin secara manusiawi.

Kausa Absurditas
Absurditas hidup disebabkan oleh dua hal, yaitu yg perdana adalah terjadinya kontradiksi antara apa yg ada di dalam pikiran dengan apa yg terjadi di realitas. Perihal ini sudah biasa kita ketahui sebagai problem eksistensial, biasanya kita menyebutnya ketidaksesuaian antara ekspektasi dengan realitas. Perasaan-perasaan seperti:overthinking, frustasi, stres, galau, itu sebetulnya secara fundamental disebabkan karena apa yg kita idealisasikan itu tidak relevan dengan yg terjadi di realitas. Di situlah absurditas hidup.

Kehidupan memang absurd, kita sebagai manusia yg punya pikiran untuk memproduksi idealisme, kadang kala dipaksa untuk meruntuhkannya demi tetap hidup dengan apa yg tidak berdasarkan idealisme. Kalau memang pada faktanya kehidupan tidak sering sesuai dengan idealisme, lantas mengapa kita diciptakan dengan kemampuan dapat memproduksi idealisme? Kata Albert Camus: itulah absurditas.

Yang kedua adalah tentang upaya mendalami makna hidup sedalam mungkin, seluas mungkin, sehakiki mungkin, tetapi pada kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi. Misalnya ketika hari ini kita memaknai hidup ini A, tetapi di kemudian hari belum tentu makna A itu masih tetap relevan. Kalau kita memaksakan makna A itu sering relevan, sementara pada kenyataannya tidak A, maka itulah absurditas.

Lantas, bagaimana kalau kenyataan hidup memang se-absurd demikian? Apakah benar-benar benar, bahwa sejatinya hidup ini absurd seperti yg dikatakan Albert Camus?

Analogi Absurditas
Sebelum lanjut pada cara menghadapinya, supaya kita lebih mudah menangkap maksud dari pemikiran absurdisme, ada baiknya kita mengetahui kisah di dalam Mitos Sisifus, karya sastranya Albert Camus yg begitu representatif di kehidupan nyata.

Pada mitologi Yunani, ada dewa yg bernama Sisifus, putra dari Raja Aeolus. Sisifus ini nakal & sering mengerjakan kejahatan, sehingga dewa-dewa lainnya menghukumnya dengan dimasukkan Sisifus ke neraka. Kemudian Sisifus mengaku menyesal atas perbuatannya, berjanji tidak akan mengulanginya kembali, & meminta untuk dikembalikan lagi ke bumi. Tetapi, setelah kembali ke bumi, Sisifus kembali nakal & mengerjakan kejahatan, walhasil dewa-dewa semakin marah, & Sisifus dijatuhi sanksi paling mneyakitkan: mendorong batu ke atas bukit, tetapi setelah hingga atas, batu itu jatuh lagi ke bawah, lalu Sisifus dipaksa mendorongnya lagi. Sisifus mengerjakannya hingga akhir hayatnya.

Sekelumit kisah Sisifus di atas adalah citra dari absurditas hidup. Ketika manusia berupaya memaknai hidup, menentukan tujuan hidup sehakiki mungkin, sedalam mungkin, seluas mungkin, pada akhirnya semua itu tidak akan berarti karena pada kenyataanya akan terus berubah. Manusia sering berputar-putar di situ: menerima masalah, menghadapinya, lalu setelah selesai, sebuah masalah akan muncul lagi. Kehidupan sering menunjukkan misteri, & manusia tidak tahu ending-nya akan seperti apa.

Menghadapi Absurditas

Setelah mengetahui analogi dari Mitos Sisifus, beberapa dari kita mungkin ada yg sempat berpikir,Kalau hidup ini absurd, lantas mengapa kita masih tetap menjalaninya? Bukankah lebih baik bunuh diri saja?

Albert Camus dalam Mitos Sisifus menyematkan prinsip,Should I kill myself, or have a cup of coffe?Maksudnya adalah ketika kita resah; sumpek karena absurditas hidup, lebih baik mana antara bunuh diri atau ngopi saja? Toh, kita juga tidak tahu apakah setelah mati nantinya akan bahagia tanpa adanya absurditas hidup?

Jika ada yg berpikiran menghadapi absurditas dengan cara bunuh diri, menurut Albert Camus itu adalah perbuatan pengecut. Sebab, manusia yg bunuh diri cuma mengharapkan bahagia tanpa mau memberontak, sedangkan dalam eksistensinya ada kapabilitas; kemampuan yg dapat menciptakan dirinya tetap hidup; merasakan bahagia, meskipun di tengah absurditas.

Untuk menghadapinya, ada salah satu perkataan Albert Camus yg cukup ciamik untuk dibuat rujukan,I continue to believe that this world has no ultimate meaning. But I know that something in it has a meaning and that is man, because he is the only creature to insiston having one.

Makna yg manusia kejar tidak akan hingga puncak, karena ia mengejarnya merujuk pada alam semesta. Makna dari hidup ini ada di dalam diri manusia, oleh karenanya untuk tetap dapat hidup di tengah absurditas, Albert Camus menyarankan untuk memaknai setiap lika-liku kehidupan supaya merujuk pada manusianya. Manusia adalah subjeknya, bukan objeknya. Di sinilah bau-bau sintesa Albert Camus dari nihilisme ke eksistensialismenya terlihat.

Kesimpulan
Absurdisme dapat dikatakan sebagaibetween two lines dari eksistensialisme & nihilisme. Dengan mengatakan lain, absurdisme memang secara jelas menyatakan bahwa makna sejati, absolut, dari realitas tidak akan ditemukan, tetapi justru dari ketidakjelasan tersebut memungkinkan manusia untuk mengakuinya, lalu memberontak supaya eksis & memberikan makna yg terlepas dari apakah makna tersebut sifatnya sejati, absolut, atau tidak.

Pada puncaknya, semua yg diupayakan manusia adalah meraih kebahagiaan. Dan, dari penjelasan tadi tentang absurdisme, dapat disimpulkan bahwa untuk medapatkan kebahagiaan, manusia harus merasakan; memaknai segala hal yg sudah melingkupi, bukan mencari di luar diri.


Tulisan ini ditulis diCangkemanpada tanggal 13 Desember 2022
Hari ini 10:42
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.