Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Spoiler for Rockger:
There are more ideas on earth than intellectuals imagine. And these ideas are more active, stronger, more resistant, more passionate than "politicians" think. Michael Foucault
Tiap kelompok intelektual di muka bumi ini memiliki berbagai ide cemerlang. Bahkan ide yg belum terbayang oleh para intelektual itu sendiri. Ide-ide itu terus berkembang secara aktif, kuat, terus ada, & lebih bergairah mengalahkah visi-visi yg dipikirkan oleh para politisi.
Bagi saya ucapan dari filsuf Perancis Michael Foucault itu dapat dimaknai bahwa para intelektual memiliki ide-ide serta mimpi cemerlang yg bahkan lebih wahid ketimbang mimpi politisi dalam rangka memajukan suatu negara.
Maka secara logika, semestinya politisi lebih banyak berinteraksi, bertukar ide dengan para intelektual. Sayang, kenyataan yg terjadi di negeri ini bukanlah seperti itu. Para politisi lebih gemar mengunjungi alias sowan ke kyai pesantren ketimbang bertukar pikiran di kampus.
Coba saja tengok kenyataan kini, saat para politisi, dalam rangka menyambut tahun politik 2024, memilih mengunjungi pesantren-pesantren. Sebut saja politisi ternama seperti Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Erick Thohir, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, maupun para politikus lain beserta partai-partai yg mendukung mereka.
Lihatlah ketika di bulan ini Menteri BUMN Erick Thohir di sela-sela pekerjaannya sebagai menteri bersilaturahmi dengan para ulama se-Pasuruan Raya, Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, ia menyatakan berkomitmen menjadikan pondok pesantren sebagai mercusuar peradaban & sebagai salah satu motor penggerak ekonomi umat
Sumber
etik [Sowan ke Ulama Se-Pasuruan Raya, Erick Thohir Bicara Ponpes-Program BUMN]
Contoh lain dapat kita tengok pada relawan Gubernur Jawa Tengah yg terhimpun dalam relawan santri dukung Ganjar Lampung bersilaturahmi ke salah satu Ponpes di Bandar Lampung sekaligus membagikan paket sembako cuma supaya memiliki citra peduli kepada pesantren.
Sumber :Media Indonesia [Sowan ke Pesantren Al Firdaus Lampung, Relawan Ganjar Bagikan Sembako]
Begitu pula dengan politikus-politikus lain, dalam berpolitik praktis cuma akan terus sowan ke pesantren-pesantren dengan kedok silaturahmi.
Bila kita mau ambil dari sudut pandang psikologis, mendekatkan diri dengan kyai berarti secara tidak langsung sang capres sedang memberikan pesan kepada calon para pemilih. Bahwa sang calon sudah sowan kepada sang kyai. Dalam tataran yg lebih ekstrem dapat memunculkan wacana capres tertentu mendapat restu dari kyai tersebut. Sebuah kesan yg coba dibangun kepada pencerahan calon pemilih dari kalangan santri.
Namun uniknya, Dr Endang Turmudi lewat bukunya yg berjudul Perselingkuhan Kiai & Kekuasaan (2004) menegaskan bahwa meskipun posisi kyai masih diperhitungkan, namun peran kyai dalam politik tidak begitu nyata.
Artinya, kecenderungan seorang kyai ke dalam satu politik tertentu tidak lantas linear dengan keputusan pemilih meskipun para pemilih tersebut menjadikan kyai yg bersangkutan sebagai panutan dalam kehidupan keseharian.
Sumber :Kompas [Politik Sowan Kiai]
Fenomena para menteri & politisi yg bermanuver untuk maju di Pilpres 2024 pun dikritisi oleh pengamat politik Rocky Gerung. Rocky mengatakan selama ini para menteri & kandidat lainnya cuma sanggup bersafari untuk memperkenalkan diri.
Namun, para menteri & kandidat lainnya yg harap maju sebagai presiden tidak berani beradu ide atau intelektualitas.
"Safari yg dilakukan itu manuver standar, publik justru tidak mendengar manuver ke kampus," mengatakan Rocky Gerung.
Rocky menantang para menteri & kandidat calon presiden lainnya mendatangi Badan Eksekutif Mahasiswa untuk beradu gagasan.
Dia menegaskan masyarakat hari ini sudah pandai setelah pemilu 2019. Masyarakat dapat saja menganggap manuver yg dilakukan calon presiden itu kampungan.
Sumber :JPNN [Calon Presiden Dikritik, Rocky Gerung: Tunjukkan Anda Itu Punya Otak]
Dari paparan di atas kita pun akhirnya dapat menilai bahwa manuver politik para capres di 2024 yg gencar bersafari ke kyai-kyai & pesantren-pesantren hanyalah manuver standar demi kesan memiliki kedekatan & restu dari kyai untuk maju ke Pemilu 2024.
Namun perlu diingat bahwa peran kyai dalam dunia politik tidaklah begitu nyata. Sowan ke kyai bukan berarti secara linier memperoleh dukungan pula dari para pengikut kyai tersebut.
Oleh karenanya yg jauh lebih penting demi politik saat ini adalah gagasan-gagasan yg cemerlang dari para capres demi meningkatkan nilai intelektual mereka. Caranya adalah bukan dengan sowan ke pesantren, melainkan berdiskusi ke kampus-kampus. Sebab Pemilu 2024 bukan cuma soal elektabilitas tetapi juga intelektualitas. Tunjukkanlah bahwa para capres punya otak.
Seandainya para capres punya otak maka harusnya kontestasi 2024 adalah tentang adu intelektualitas, & siapa lebih sanggup diterima kelompok kiri intelektual seperti mahasiswa, bukan tentang siapa yg lebih sanggup membeli kanan (agama).
Soal bersilaturahmi semua orang juga dapat, tetapi tak semua orang dapat beradu ide untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang.
Hari ini 15:18
There are more ideas on earth than intellectuals imagine. And these ideas are more active, stronger, more resistant, more passionate than "politicians" think. Michael Foucault
Tiap kelompok intelektual di muka bumi ini memiliki berbagai ide cemerlang. Bahkan ide yg belum terbayang oleh para intelektual itu sendiri. Ide-ide itu terus berkembang secara aktif, kuat, terus ada, & lebih bergairah mengalahkah visi-visi yg dipikirkan oleh para politisi.
Bagi saya ucapan dari filsuf Perancis Michael Foucault itu dapat dimaknai bahwa para intelektual memiliki ide-ide serta mimpi cemerlang yg bahkan lebih wahid ketimbang mimpi politisi dalam rangka memajukan suatu negara.
Maka secara logika, semestinya politisi lebih banyak berinteraksi, bertukar ide dengan para intelektual. Sayang, kenyataan yg terjadi di negeri ini bukanlah seperti itu. Para politisi lebih gemar mengunjungi alias sowan ke kyai pesantren ketimbang bertukar pikiran di kampus.
Coba saja tengok kenyataan kini, saat para politisi, dalam rangka menyambut tahun politik 2024, memilih mengunjungi pesantren-pesantren. Sebut saja politisi ternama seperti Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Erick Thohir, Anies Baswedan, Ridwan Kamil, maupun para politikus lain beserta partai-partai yg mendukung mereka.
Lihatlah ketika di bulan ini Menteri BUMN Erick Thohir di sela-sela pekerjaannya sebagai menteri bersilaturahmi dengan para ulama se-Pasuruan Raya, Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, ia menyatakan berkomitmen menjadikan pondok pesantren sebagai mercusuar peradaban & sebagai salah satu motor penggerak ekonomi umat
Sumber
etik [Sowan ke Ulama Se-Pasuruan Raya, Erick Thohir Bicara Ponpes-Program BUMN]Contoh lain dapat kita tengok pada relawan Gubernur Jawa Tengah yg terhimpun dalam relawan santri dukung Ganjar Lampung bersilaturahmi ke salah satu Ponpes di Bandar Lampung sekaligus membagikan paket sembako cuma supaya memiliki citra peduli kepada pesantren.
Sumber :Media Indonesia [Sowan ke Pesantren Al Firdaus Lampung, Relawan Ganjar Bagikan Sembako]
Begitu pula dengan politikus-politikus lain, dalam berpolitik praktis cuma akan terus sowan ke pesantren-pesantren dengan kedok silaturahmi.
Bila kita mau ambil dari sudut pandang psikologis, mendekatkan diri dengan kyai berarti secara tidak langsung sang capres sedang memberikan pesan kepada calon para pemilih. Bahwa sang calon sudah sowan kepada sang kyai. Dalam tataran yg lebih ekstrem dapat memunculkan wacana capres tertentu mendapat restu dari kyai tersebut. Sebuah kesan yg coba dibangun kepada pencerahan calon pemilih dari kalangan santri.
Namun uniknya, Dr Endang Turmudi lewat bukunya yg berjudul Perselingkuhan Kiai & Kekuasaan (2004) menegaskan bahwa meskipun posisi kyai masih diperhitungkan, namun peran kyai dalam politik tidak begitu nyata.
Artinya, kecenderungan seorang kyai ke dalam satu politik tertentu tidak lantas linear dengan keputusan pemilih meskipun para pemilih tersebut menjadikan kyai yg bersangkutan sebagai panutan dalam kehidupan keseharian.
Sumber :Kompas [Politik Sowan Kiai]
Fenomena para menteri & politisi yg bermanuver untuk maju di Pilpres 2024 pun dikritisi oleh pengamat politik Rocky Gerung. Rocky mengatakan selama ini para menteri & kandidat lainnya cuma sanggup bersafari untuk memperkenalkan diri.
Namun, para menteri & kandidat lainnya yg harap maju sebagai presiden tidak berani beradu ide atau intelektualitas.
"Safari yg dilakukan itu manuver standar, publik justru tidak mendengar manuver ke kampus," mengatakan Rocky Gerung.
Rocky menantang para menteri & kandidat calon presiden lainnya mendatangi Badan Eksekutif Mahasiswa untuk beradu gagasan.
Dia menegaskan masyarakat hari ini sudah pandai setelah pemilu 2019. Masyarakat dapat saja menganggap manuver yg dilakukan calon presiden itu kampungan.
Sumber :JPNN [Calon Presiden Dikritik, Rocky Gerung: Tunjukkan Anda Itu Punya Otak]
Dari paparan di atas kita pun akhirnya dapat menilai bahwa manuver politik para capres di 2024 yg gencar bersafari ke kyai-kyai & pesantren-pesantren hanyalah manuver standar demi kesan memiliki kedekatan & restu dari kyai untuk maju ke Pemilu 2024.
Namun perlu diingat bahwa peran kyai dalam dunia politik tidaklah begitu nyata. Sowan ke kyai bukan berarti secara linier memperoleh dukungan pula dari para pengikut kyai tersebut.
Oleh karenanya yg jauh lebih penting demi politik saat ini adalah gagasan-gagasan yg cemerlang dari para capres demi meningkatkan nilai intelektual mereka. Caranya adalah bukan dengan sowan ke pesantren, melainkan berdiskusi ke kampus-kampus. Sebab Pemilu 2024 bukan cuma soal elektabilitas tetapi juga intelektualitas. Tunjukkanlah bahwa para capres punya otak.
Seandainya para capres punya otak maka harusnya kontestasi 2024 adalah tentang adu intelektualitas, & siapa lebih sanggup diterima kelompok kiri intelektual seperti mahasiswa, bukan tentang siapa yg lebih sanggup membeli kanan (agama).
Soal bersilaturahmi semua orang juga dapat, tetapi tak semua orang dapat beradu ide untuk mengeluarkan ide-ide cemerlang.
Hari ini 15:18