Camar Biru, Pesawat Nirawak ala Mahasiswa UGM

facebookeb

IndoForum Senior A
Untuk menunjang pemantauan lalu lintas, pemantauan daerah bencana, gunung berapi, perkebunan, patroli daerah perbatasan, dan patroli laut, mahasiswa teknik mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Grup riset Flying Object Research Center (FORCE) mengembangkan teknologi pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Pesawat tanpa awak yang dinamakan Camar Biru berukuran panjang 120 centimeter dengan bobot empat kilogram itu bisa terbang mengelilingi kawasan kampus UGM selama 10 menit.

Pesawat nirawak ini terbang tanpa dikendalikan remote control, melainkan terbang secara otomatis (autonomous).

"Remote control hanya digunakan ketika pesawat melakukan take off dan landing," kata Damar Satria Guntoro, salah satu mahasiswa peneliti, 25 September 2013.

Damar mengatakan, pesawat yang telah dikembangkan selama dua tahun ini menelan dana sebesar Rp25 juta. Pada tahap awal, dia bersama tim peneliti kesulitan mencari bahan untuk pembuatan pesawat.

"Awalnya kami menggunakan bahan fiber. Tapi, karena terlalu terlalu berat, pesawat tidak bisa diterbangkan," katanya.

Setelah itu, para mahasiswa mencoba material yang lebih ringan, yakni dengan menggunakan paduan komposit dan kayu basah, alasannya lebih ringan dan bisa diterbangkan.

Komponen badan dan sayap pesawat menggunakan bahan lokal. Hanya saja, komponen elektronik beserta remote control masih diimpor. "Untuk software-nya, kami kembangkan sendiri," jelas Damar..

Mahasiswa teknik mesin angkatan 2011 menerangkan Camar Biru bisa diterbangkan secara autonomous menggunakan sensor mengikuti jalur lintasan di udara berdasarkan titik kordinat GPS.

Sedangkan, perangkat lunak untuk kendali pesawat yang mereka dinamakan mission planner UGM menggunakan software Microsoft Visual C++. "Program ini mampu memonitor posisi dan orientasi pesawat beserta kondisi baterai," tandasnya.

Dr Gesang Nugroho, salah satu anggota dosen pembimbing mengatakan Camar Biru dilengkapi dengan controller, sensor, sistem telemetri sehingga dapat terbang secara autonomous.

Camar biru ini mampu terbang dengan jarak tempuh delapan kilometer, berkecepatan 60 kilometer/jam. Selain itu, pesawat ini bisa difungsikan mengirimkan live video, menghasilkan peta udara serta mampu dropping payload pada lokasi tertentu.

"Dengan baling-baling di tempatkan ke arah belakang, maka kemungkinan saat pesawat jatuh tidak akan merusak motor pesawat, dan tidak mengganggu kerja kamera," kata Gesang.
 

Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact us untuk memulai.
Top