yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Fenomena menyeruaknya kehadiran artis menjadi kontestan Pilkada, kembali mewarnai Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) kali ini. Dengan berlatar belakang artis atau masih berkecimpung menjadi pesohor, kehadiran bintang layar kaca tersebut dinilai menjadi resep ampuh untuk mendongkrak perolehan suara di Pilkada.
Namun, sebaliknya pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi, mewanti-wanti kemunculan artis dalam Pilkada merupakan bentuk "kemunduran" dari pesta demokrasi sesungguhnya. Banyak artis hanya mementingkan chasing ketimbang bobot kemampuan intelektualnya yang teruji di lapangan. Sosok pendampingan artis sebagai pendorong peraihan suara, dinilainya sudah jadul alias cara kuno.
“Beda yah, jika artisnya macam Deddy Mizwar yang karakternya dikenal konsisten dengan pandangannya atau Rieke Dyah Pitaloka yang keberpihakkan kepada rakyat miskin cukup besar, tetapi saya melihat artis-artis lain selain Deddy Mizwar dan Rieke Dyah Pitaloka, hanyalah menjadi "bunga-bunga" pemanis Pilkada,” kata Ari kepada Okezone, Senin (22/10/2012).
Oleh karena itu, dia berharap parpol juga ikut mendewasakan rakyat melalui pencalonan calon-calon yang berkualitas, bersahaja, dan memiliki jejak rekam yang teruji serta bebas korupsi. Kemenangan Jokowi-Ahok di Pilgub Jakarta hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi parpol-parpol.
“Lihat saja sangat minim kontribusi pemikiran dan sumbangsih nyata artis-artis yang menjadi anggota Parlemen atau yang sempat menang di Pilkada. Kemunduran Dicky Candra dari Wakil Bupati Garut, Jawa Barat hendaknya menjadi penilaian parpol-parpol di Pilkada. Rakyat sudah pandai menentukan pemimpinnya sekarang,” kata Ari yang juga menjadi pengajar komunikasi politik di berbagai perguruan tinggi di tanah air.