Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hi gan sis, & kaum rebahaners dimanapun kalian berada. Bagaimana hari ini masih patah hati? Mbok ya cari lagi, mengatakan orang dunia ini tak selebar daun kelor. Patah satu tumbuh seribu, cari ganti dengan yg lebih baik & utamakan kesetiaan.
Oke, kali ini gw mau bicarain cafe yg rame di linimasa medsos ujungnya gara-gara rame pengunjung yg berjubel malah kena segel.
Oke, sebelum membahas lebih lanjut dapat sedikit lo atur posisi, jangan sambil makan nasi kalau keselek ntar gw lagi yg disalahin, plus jaga mata biar kondusif & cekicrot.
Jadi gini mas gan, di masa pandemi ini memang hal-hal yg berkaitan dengan keramaian harus dibubarkan. Maka sekarang para penyanyi, tukang tenda, tukang sound, tukang event organizer, semuanya ambruk langsung sepi job.
Gedung-gedung yg biasa disewa buat acara perkawinan juga gigit jari, hotel-hotel pun meradang karena wisatawan tak ada yg datang.
Semua yg berkaitan dengan keramaian hidupnya sudah hancur ditimpah tangga, banyak orang tersungkur dikala pandemi. Saran gw kalau lo masih sanggup ini saatnya lo sedekah, saling berbagi & menolong ya mas gan.
Berhubung cafe & sejenisnya saat ini tidak boleh ada pengunjung yg ramai, bahkan di Jakarta PSBB hampir semua cafe tidak dapat ada pengunjung yg nongkrong di tempat.
Maka kalau ada cafe yg menyalahi aturan akan ditindak tegas oleh pemda setempat, seperti cafe Broker yg terletak di Jalan Grand Galaxy City, Bekasi Selatan harus terkena apes gara-gara mengadakan konser mini hingga pengunjung tumpah ruah tidak jaga jarak.
Videonya pun tersebar luas & viral mitip dengan konser dangdut di tegal yg banyak pejabat tinggi harus terkena sanksi, maka cafe ini pun ditutup selama pandemi masih meroket.
Yup, banyaknya korban akibat covid menciptakan polisi, Satpol PP & petugas Dinas Pariwisata harus memberi sanksi tegas kepada pihak cafe yg masih membandel. Berat memang cari uang zaman sekarang, apalagi resesi sudah digaungkan.
Bagai buah simalakama, mati lapar tidak ada pemasukan atau mati covid. Hanya satu yg berkah mendulang uang dimasa pandemi yaitu mereka yg berbisnis alat kesehatan.
Semoga saja tidak ada lagi kerumunan & cafe-cafe nakal, dapat saja pilkada memilih secara online tetapi kayaknya sih gak mungkin tetap saja digelar manual & bebas sanksi bila ada kerumunan. Ohh dunia, kau sungguh durjana.
Sumber 1
Pic google