yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SOLO – Kelangkaan bahan bakar solar mulai berimbas pada anjloknya pendapatan Terminal Tirtonadi Solo. Hal ini menyusul jumlah armada bus masuk terminal menurun hingga 10% selama krisis solar.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Terminal Tirtonadi MV Djammila ketika dijumpai Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (10/4/2013) mengakui ada penurunan pendapatan dari sektor retribusi bus masuk terminal. Namun demikian, Djammila menegaskan penurunan pendapatan tidak terlalu signifikan.
“Tidak berpengaruh banyak, memang bus masuk menurun 10%. Dari biasanya 2.300-an bus per hari, sekarang hanya 2.000 bus masuk,” ungkapnya.
Djammila mengatakan tak sedikit perusahaan otobus (PO) memilih mengandangkan armadanya. Hal ini lantaran kelangkaan solar yang terjadi di wiilayah Soloraya dan sekitarnya. Diakuinya, kondisi bus paling terpuruk akibat kelangkaan solar adalah bus AKDP. Untuk bus AKAP, lanjut dia, tidak begitu terpengaruh.
Djammila menyebutkan tarikan retribusi bus antar kota dalam provinsi (AKDP) Rp3.000 per bus. Sedangkan bus antar kota antar provinsi (AKAP) Rp5.000 per bus. Sedikitnya ada 11 objek retribusi pemasukan pendapatan terminal, di antaranya sewa kios, sewa loket bus malam, parkir sepeda motor, parkir mobil, pendapatan lain-lain seperti iklan di terminal serta retribusi jasa ruang tunggu (JRT) dan retribusi bus masuk. Namun pemasukan PAD, kata dia, terbesar berasal dari pos retribusi bus masuk.
“Ini (bus dikandangkan) tentu berpengaruh pada pendapatan bus masuk. Tapi tidak begitu besar,” katanya.
Saat didesak berapa pendapatan terminal dari bus masuk yang hilang imbas krisis solar, Djammila enggan menyebutkannya. Pihaknya hanya menegaskan kelangkaan solar tak begitu berdampak serius pada pendapatan terminal. Di sisi lain, Djammila menjamin tidak ada penumpang telantar akibat kelangkaan solar tersebut.