yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
[table="width: 300, class: grid, align: center"]
[tr]
[td]
[/td]
[/tr]
[/table]
Aksi penggalangan danang untuk membantu pembangunan gedung baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menjadi gerakan nasional. Dari akar rumput hingga mereka yang berpunya.
Di Solo, para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 sepakat ikut saweran pembangunan gedung komisi antikorupsi. Mereka bahkan rela gajinya yang tidak seberapa dipotong.
Ketua SBSI 1992 Surakarta, Suharno mengatakan, aksi ini sebagai bentuk dukungan secara politik: bahwa KPK harus didukung bukan dilemahkan.
"Buruh sangat geram kepada DPR yang tidak menyetujui danang anggaran untuk pembangunan gedung baru KPK," kata dia di Solo, Kamis 28 Juni 2012.
Para buruh sadar, korupsi terlanjur merajalela di negeri ini. Yang paling rentan menjadi korban adalah rakyat kecil. Berupa kemiskinan dan ketidakadilan.
"Penghimpunan danang ini bukan kehendak KPK tapi kehendak rakyat. Kami nanti akan memberikan potongan upah dari buruh untuk saweran," tegas dia.
Aksi saweran buruh ini telah didiskusikan para aktivis buruh. Hanya saja aksi tersebut belum secara nasional digerakkan oleh organisasi pekerja.
Sebelumnya, saweran juga digalang DPP Persatuan Pedagang Kaki Lima Indonesia (PPKLI). Pada Senin lalu mereka menyerahkan uang sesar Rp1 juta. Tapi, itu baru permulaan.
Sekjen DPP PPKLI, Junaedi Sitorus mengatakan pihaknya bersama 54 juta PKL seluruh Indonesia akan menghimpun danang. "Selanjutnya kami akan melakukan urunan Rp1.000 per PKL selama 3 hari, konsepnya akan dimulai per 1 Juli 2012," kata dia.
Apa yang dilakukan masyarakat juga menyentuh hati pimpinan KPK. "Kami para Pimpinan KPK akan bersama-sama dengan rakyat. Kami akan menyisakan sebagian gaji untuk disumbangkan guna pembangunan gedung yang baru," kata Busyro Muqodas.
[tr]
[td]
[/tr]
[/table]
Aksi penggalangan danang untuk membantu pembangunan gedung baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menjadi gerakan nasional. Dari akar rumput hingga mereka yang berpunya.
Di Solo, para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992 sepakat ikut saweran pembangunan gedung komisi antikorupsi. Mereka bahkan rela gajinya yang tidak seberapa dipotong.
Ketua SBSI 1992 Surakarta, Suharno mengatakan, aksi ini sebagai bentuk dukungan secara politik: bahwa KPK harus didukung bukan dilemahkan.
"Buruh sangat geram kepada DPR yang tidak menyetujui danang anggaran untuk pembangunan gedung baru KPK," kata dia di Solo, Kamis 28 Juni 2012.
Para buruh sadar, korupsi terlanjur merajalela di negeri ini. Yang paling rentan menjadi korban adalah rakyat kecil. Berupa kemiskinan dan ketidakadilan.
"Penghimpunan danang ini bukan kehendak KPK tapi kehendak rakyat. Kami nanti akan memberikan potongan upah dari buruh untuk saweran," tegas dia.
Aksi saweran buruh ini telah didiskusikan para aktivis buruh. Hanya saja aksi tersebut belum secara nasional digerakkan oleh organisasi pekerja.
Sebelumnya, saweran juga digalang DPP Persatuan Pedagang Kaki Lima Indonesia (PPKLI). Pada Senin lalu mereka menyerahkan uang sesar Rp1 juta. Tapi, itu baru permulaan.
Sekjen DPP PPKLI, Junaedi Sitorus mengatakan pihaknya bersama 54 juta PKL seluruh Indonesia akan menghimpun danang. "Selanjutnya kami akan melakukan urunan Rp1.000 per PKL selama 3 hari, konsepnya akan dimulai per 1 Juli 2012," kata dia.
Apa yang dilakukan masyarakat juga menyentuh hati pimpinan KPK. "Kami para Pimpinan KPK akan bersama-sama dengan rakyat. Kami akan menyisakan sebagian gaji untuk disumbangkan guna pembangunan gedung yang baru," kata Busyro Muqodas.