yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Sebenarnya, keberadaan bunker itu sudah ada sejak lama, namun pemilknya enggan membuka untuk umum. Harun Muryadi, pemilik bunker itu menuturkan, benda itu dulunya dipakai sebagai tempat untuk menyimpan barang berharga atau tempat persembunyian dari penjajahan. "Untuk sekarang, saya mempersilakan masyarakat jika ingin mengunjungi sebagai tempat wisata," kata Muryadi,
Letak bunker 10 milyar itu berada di dalam rumah. Jika tidak menanyakan kepada pemilik, mungkin akan sulit menemukannya. Sebab, bekas tempat penyimpanan barang berharga itu tertutup papan dan di atasnya terdapat meja agak besar. Sehingga, seandainya warga masuk di dalam rumah Muryadi, barangkali tidak akan menemukan sebelah mana lokasi terowongan tersebut.
Ukuran mulut bunker 10 milyar tidak begitu lebar, sekitar 50 x 75 meter. Mungkin, jika dimasuki bersamaan, hanya bisa diterobos dua orang. Bunker itu juga dilengkapi tangga yang berfungsi membantu untuk turun ke bawah. Namun, kondisi tangga tidak begitu kelihatan karena suasana gelap. Sedangkan, ukuran luas bunker 2,5 x 2,5 meter. Sementara, tingginya sekitar dua meter. menurut solopos edisi hari ini 4 juli 2012 bunker tua ini telah ditawar oleh pengusaha malaysia dengan tawaran 10 milyar tetapi tidak diterima karena amanah untuk menjaga dan merawat bunker ini oleh nenek moyangnya.
Berdasar sejarah yang diperoleh Muryadi dari orangtuanya, fungsi bunker itu tidak hanya dipakai untuk bersembunyi saat penjajahan Belanda. Namun, sebelum itu, yakni masa Kerajaan Pajang pada 1625 sudah ada. Kebetulan, letak geografis Laweyan berdekatan dengan Kerajaan Pajang kala itu. Sehingga, sangat perlu membangun terowongan dan bunker untuk bersembunyi dari penjajahan, kejahatan sekaligus menyimpan barang berharga.
Muryadi merupakan keturunan yang ke delapan dari pemilik rumah itu. Artinya, peninggalan turun temurun. “Oleh orang tua, saya sering diberi tahu tentang sejarah terowongan ini. Begitu pula orangtua saya juga dikasih cerita oleh Kakek, dan itu secara turun temurun,” kata pria yang juga peternak ayam tersebut.
Dia akan mempertahankan bunker itu sampai kapan pun. Sebab, keberadaannya membawa berkah. Lokasi itu pernah menjadi jujugan warga layaknya tempat wisata. Di sisi lain, bunker itu juga dijadikan bahan penelitian bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah.