yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
PT bunk Mandiri Tbk (BMRI) berhasil melakukan tukar guling (debt swap) obligasi rekapnya. bunk pelat merah itu melakukan tukar guling dengan kredit valas. Direktur Finance dan Strategi bunk Mandiri Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, perseroan saat ini telah menemukan strategi untuk bisa mencairkan dana obligasi rekap yang saat ini hanya "ngendon" di kas bunk.
"Jadi kami melakukan penukaran antara obligasi rekap berdenominasi Rupiah yang kami miliki dengan kredit valas yang mereka punya," kata Pahala selepas konferensi pers paparan kinerja semester I-2012 di Plaza Mandiri Jakarta, Senin (30/7/2012).
Menurut Pahala, perseroan baru saja menandatangani kerjasama pencairan dana obligasi rekap sebesar Rp 1,8 triliun. Dana tersebut langsung ditukar dengan kredit valas senilai 250 juta dollar AS. Untuk kredit valas ini memiliki tenor pinjaman hingga 3 tahun. Sementara obligasi rekap memiliki tenor 3-4 tahun dengan waktu jatuh tempo 2015-2017.
"Kami bisa menukar dengan nilai yang lebih besar. Bila dikonversikan, kami bisa mendapat dana di atas Rp 2 triliun," tambahnya.
Hingga akhir tahun, perseroan menginginkan dapat mengonversi sisa dana obligasi rekapnya. Saat ini, perseroan masih memiliki dana obligasi rekap senilai Rp 54,7 triliun dan baru bisa dicairkan Rp 1,8 triliun. Di sisi lain, perseroan juga memiliki keinginan untuk mendapatkan dana valas. Hingga akhir tahun, perseroan menginginkan dana valas 480 juta dollar AS. Hingga Juli ini, dana valas yang didapat baru 250 juta dollar AS.
"Salah satunya kami dapat dari Standard Chartered bunk. Tapi kami tidak bisa sebut dari cabang mana," kata Pahala tanpa menyebut dua bunk lainnya.
Sekadar catatan, bunk Mandiri saat ini sedang tahap finalisasi penjualan obligasi rekapnya dengan tiga bunk. Obligasi rekap itu rencananya akan dilepas ke pasar uang atau ke sesama perbankan. Sedangkan penyelesaian kepada pemerintah (Kementerian Keuangan) dan bunk Indonesia (BI) masih mandek.
Sebelumnya, bunk Mandiri memiliki tiga strategi utama melepas obligasi rekap yang berstatus Available for Sale (AFS) dengan nilai total Rp 54,7 triliun. Pertama, menjual langsung ke pasar. Kedua, menjual ke bunk Indonesia (BI) untuk digunakan sebagai instrumen moneter, sedangkan strategi ketiga adalah mengupayakan pemerintah mem-buyback obligasi rekap perseroan.
"Jadi kami melakukan penukaran antara obligasi rekap berdenominasi Rupiah yang kami miliki dengan kredit valas yang mereka punya," kata Pahala selepas konferensi pers paparan kinerja semester I-2012 di Plaza Mandiri Jakarta, Senin (30/7/2012).
Menurut Pahala, perseroan baru saja menandatangani kerjasama pencairan dana obligasi rekap sebesar Rp 1,8 triliun. Dana tersebut langsung ditukar dengan kredit valas senilai 250 juta dollar AS. Untuk kredit valas ini memiliki tenor pinjaman hingga 3 tahun. Sementara obligasi rekap memiliki tenor 3-4 tahun dengan waktu jatuh tempo 2015-2017.
"Kami bisa menukar dengan nilai yang lebih besar. Bila dikonversikan, kami bisa mendapat dana di atas Rp 2 triliun," tambahnya.
Hingga akhir tahun, perseroan menginginkan dapat mengonversi sisa dana obligasi rekapnya. Saat ini, perseroan masih memiliki dana obligasi rekap senilai Rp 54,7 triliun dan baru bisa dicairkan Rp 1,8 triliun. Di sisi lain, perseroan juga memiliki keinginan untuk mendapatkan dana valas. Hingga akhir tahun, perseroan menginginkan dana valas 480 juta dollar AS. Hingga Juli ini, dana valas yang didapat baru 250 juta dollar AS.
"Salah satunya kami dapat dari Standard Chartered bunk. Tapi kami tidak bisa sebut dari cabang mana," kata Pahala tanpa menyebut dua bunk lainnya.
Sekadar catatan, bunk Mandiri saat ini sedang tahap finalisasi penjualan obligasi rekapnya dengan tiga bunk. Obligasi rekap itu rencananya akan dilepas ke pasar uang atau ke sesama perbankan. Sedangkan penyelesaian kepada pemerintah (Kementerian Keuangan) dan bunk Indonesia (BI) masih mandek.
Sebelumnya, bunk Mandiri memiliki tiga strategi utama melepas obligasi rekap yang berstatus Available for Sale (AFS) dengan nilai total Rp 54,7 triliun. Pertama, menjual langsung ke pasar. Kedua, menjual ke bunk Indonesia (BI) untuk digunakan sebagai instrumen moneter, sedangkan strategi ketiga adalah mengupayakan pemerintah mem-buyback obligasi rekap perseroan.