Diggie
IndoForum Activist C
- No. Urut
- 287751
- Sejak
- 6 Apr 2020
- Pesan
- 14.251
- Nilai reaksi
- 1
- Poin
- 0
Berikut adalah berita Bukan sekadar juara Piala Liga.
Pemain-pemain Manchester United mengangkat trofi Piala Carabao setelah dalam final mengalahkan Newcastle United dengan 2-0 di Stadion Wembley, London, Inggris, 26 Februari 2023. ANTARA/REUTERS/HANNAH MCKAY.
Jakarta (ANTARA) - Pelatih-pelatih seperti Erik ten Hag sering bernafsu memburu trofi karena ini jadi petunjuk mengenai hingga level mana kemajuan sebuah tim.
Yang lebih penting lagi adalah trofi melecut kepercayaan diri seluruh anggota regu bahwa mereka dapat mencapai level puncak.
Kepercayaan diri seperti itu sangat penting bagi regu raksasa yg lama tak lagi meraih apa-apa seperti dirasakan Manchester United selama enam tahun terakhir.
Trofi, sekalipun cuma Carabao Cup atau Piala Liga Inggris, jadi percikan yg memantik api akbar merengkuh trofi-trofi lainnya yg juga berarti tentang kemenangan, rekor & level.
Itu suasana yg kini menyelimuti Manchester United. Kutukan sudah terlepas dari mereka. Rintangan sudah
Dalam konteks Manchester United, kutukan itu hilang karena pengaruh seorang pelatih yg juga jelas berkualitas pemimpin keras hati yg menguatkan hati seluruh anggota tim. Dalam beberapa hal Ten Hag adalah Alex Ferguson jilid dua untuk Setan Merah.
Sebenarnya dunia sepak bola tak perlu heran dengan pencapaian ten Hag bersama United saat ini.
Dia sering menciptakan revolusi di tempat dia bekerja sebelum di Old Trafford, baik itu di Utrecht maupun Ajax Amsterdam. Kiprahnya saat mengasuh regu kedua Bayern Muenchen sebelum menangani Utrecht pun terbilang bagus.
Dia sukses menjadikan Ajax jadi kembali salah satu raksasa Eropa walau nilai klub ini cuma satu per 12 nilai Manchester United yg kini ditanganinya.
Nilai pasar Ajax "hanya" 364,3 juta euro, sebaliknya Manchester United bernilai 4,6 miliar euro, bahkan keluarga Glazer yg saat ini memiliki klub ini menaksir angka 6 miliar euro.
Dia sukses memoles pemain-pemain muda yg sebelumnya tak diketahui dunia jadi pemain-pemain adalah yg lalu jadi tulang punggung tim-tim akbar Eropa, dari Barcelona hingga Juventus, dari Prancis hingga Inggris.
Jika dia berhasil menciptakan etos pemenang & mengubah pemain-pemain biasa jadi luar biasa yg bahkan dari klub yg nilai pasarnya lebih rendah, mengapa dia tak dapat mengerjakannya kepada klub sekaya raya Setan Merah yg sanggup membeli pemain-pemain paling mahal sekalipun?
Baca juga: Erik ten Hag yakin Manchester United akan akhiri puasa gelar
Baca juga: Manchester United pemenang Carabao Cup musim 2022/23
Selanjutnya: Manajer yg berani
Berita diatas dikutip dari internet, jika Bukan sekadar juara Piala Liga adalah spam, mohon beritahu kami.
Pemain-pemain Manchester United mengangkat trofi Piala Carabao setelah dalam final mengalahkan Newcastle United dengan 2-0 di Stadion Wembley, London, Inggris, 26 Februari 2023. ANTARA/REUTERS/HANNAH MCKAY.
Jakarta (ANTARA) - Pelatih-pelatih seperti Erik ten Hag sering bernafsu memburu trofi karena ini jadi petunjuk mengenai hingga level mana kemajuan sebuah tim.
Yang lebih penting lagi adalah trofi melecut kepercayaan diri seluruh anggota regu bahwa mereka dapat mencapai level puncak.
Kepercayaan diri seperti itu sangat penting bagi regu raksasa yg lama tak lagi meraih apa-apa seperti dirasakan Manchester United selama enam tahun terakhir.
Trofi, sekalipun cuma Carabao Cup atau Piala Liga Inggris, jadi percikan yg memantik api akbar merengkuh trofi-trofi lainnya yg juga berarti tentang kemenangan, rekor & level.
Itu suasana yg kini menyelimuti Manchester United. Kutukan sudah terlepas dari mereka. Rintangan sudah
Dalam konteks Manchester United, kutukan itu hilang karena pengaruh seorang pelatih yg juga jelas berkualitas pemimpin keras hati yg menguatkan hati seluruh anggota tim. Dalam beberapa hal Ten Hag adalah Alex Ferguson jilid dua untuk Setan Merah.
Sebenarnya dunia sepak bola tak perlu heran dengan pencapaian ten Hag bersama United saat ini.
Dia sering menciptakan revolusi di tempat dia bekerja sebelum di Old Trafford, baik itu di Utrecht maupun Ajax Amsterdam. Kiprahnya saat mengasuh regu kedua Bayern Muenchen sebelum menangani Utrecht pun terbilang bagus.
Dia sukses menjadikan Ajax jadi kembali salah satu raksasa Eropa walau nilai klub ini cuma satu per 12 nilai Manchester United yg kini ditanganinya.
Nilai pasar Ajax "hanya" 364,3 juta euro, sebaliknya Manchester United bernilai 4,6 miliar euro, bahkan keluarga Glazer yg saat ini memiliki klub ini menaksir angka 6 miliar euro.
Dia sukses memoles pemain-pemain muda yg sebelumnya tak diketahui dunia jadi pemain-pemain adalah yg lalu jadi tulang punggung tim-tim akbar Eropa, dari Barcelona hingga Juventus, dari Prancis hingga Inggris.
Jika dia berhasil menciptakan etos pemenang & mengubah pemain-pemain biasa jadi luar biasa yg bahkan dari klub yg nilai pasarnya lebih rendah, mengapa dia tak dapat mengerjakannya kepada klub sekaya raya Setan Merah yg sanggup membeli pemain-pemain paling mahal sekalipun?
Baca juga: Erik ten Hag yakin Manchester United akan akhiri puasa gelar
Baca juga: Manchester United pemenang Carabao Cup musim 2022/23
Selanjutnya: Manajer yg berani
- 1
- 2
- 3
- Tampilkan Semua
Berita diatas dikutip dari internet, jika Bukan sekadar juara Piala Liga adalah spam, mohon beritahu kami.