• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Budaya Santun & Bully di Sosial Media

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Masyarakat indonesia terkenal ramah, sopan, sayang damai, santun dalam berkomunikasi termasuk basa basi halus. Tapi kenapa di era social media ini mengatakan - mengatakan kasar mudah sekali di temukan padahal tidak ada urusan & kepentingan apa - apa tiba - tiba menghujat.

Dulu saya sempat heran ada anak kelas 2 SD yg bertanya pada saya,

"Pak kenapa di internet orang - orang suka sekali ngomong kasar?"

Dalam hati saya pikir masa anak ini sudah suka nonton film dewasa? Takut salah sangka saya tanya lebih jelas lagi.

"Maksud nya ngomong kasar gimana des?"

"Itu lho pak kalau di Facebook atau twitter apakah indonesia sudah kehilangan budaya santun & ramah nya, emang bapak ga punya FB sama twitter ya?"

Ternyata dia membicarakan sosial media.

Masalah nya tidak ada kaitan dengan semangat santun bangsa indonesia yg memudar & hal ini bukan terjadi di indonesia saja, masalah nya adalah karena kita menghadapi masalah yg belum pernah kita hadapi sebelum nya & masalah saya sendiri saya tidak punya akun sosial media hingga sekarang komunikasi masih mengpakai yahoo mail.

Komunikasi itu bukan cuma verbal, dalam psikologi komunikasi verbal itu bahkan tidak hingga 50% dari komunikasi antar manusia sesungguh nya. Diluar itu ada komunikasi gestur, budaya & lain sebagai nya yg justru inilah yg menciptakan komunikasi itu sedikit lebih lancar.

Komunikasi yg kita kenal sekarang adalah hasil adaptasi ratusan ribu tahun & gaya komunikasi kita sekarang sama sekali tidak mengantisipasi apa yg akan terjadi di medsos. Medsos sendiri baru muncul sekitar 20 tahunan sedangkan kita & nenek moyang kita menghasilkan gaya komunikasi yg kita kenal ribuan tahun sebelum ada medsos.

Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Jadi ketika komunikasi sekarang di medsos ini baru tahap adaptasi seperti berkomunikasi sama alien karena medsos adalah gaya komunikasi yg tidak kita hadapi & antisipasi sebelum nya, Ini sebab nya kita gagal dalam berkomunikasi.

Derida adalah seorang phylosof post modern dia mengatakan

"Bahkan komunikasi kita sekarang pun masih menimbulkan banyak kesalah pahaman"

Ada banyak konflik & keributan yg di hasilkan dari komunikasi yg salah. Gaya komunikasi yg sudah di adaptasi ratusan ribu tahun pun masih sangat rentan kesalahan apalagi komunikasi medsos yg baru hadir kemarin sore.

Ini fakta komunikasi yg dapat di temukan dalam kehidupan berpasangan, maaf bagi yg jomblo kemungkinan tidak tahu kondisi seperti ini. Pasti anda sering bertengkar pada saat chatingan / saling berkirim pesan tetapi kemarahan itu luntur pada saat anda berdua bertemu.

Ngaku? Memang seperti itu bukan?

Karena komunikasi di HP itu sangat berbeda dengan komunikasi di dunia nyata sehingga kita mengalami cerita yg berbeda.

"Biar ga salah paham kita ketemuan aja ya"
Budi
Murid berprestasi & playboy

Sekali lagi ini tidak ada hubungan nya dengan luntur nya semangat budaya santun di indonesia tetapi gagal nya kita membangun komunikasi & tidak mengantisipasi komunikasi di media sosial.

Kenapa dapat seperti ini?

1. Psikologi Psychoanalysis

Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Meskipun jadul, menurut saya teori sigmun freud ini sangat relevan. Setiap kita berkomunikasi & berjumpa dengan orang maka akan muncul konflik internal di dalam batin kita yaitu
1. Id
Gagasan untuk mempertahankan diri jadi dalam pikiran kita secara sadar atau tidak pertanyaan akan muncul seperti,
"apakah saya kondusif berkomunikasi dengan orang ini?"
"apakah jiwa saya terancam kalau berkomunikasi?"

2. EGO
pertanyaan yg muncul dalam benak kita selanjutnya adalah,
"apakah berkomunikasi dengan orang ini rasional?"
"apakah komunikasi ini dapat memberi saya ke untungan?"

3. Superego
ini terkait dengan sosial & moral contohnya
"apakah saya dapat bantu orang yg berkomunikasi dengan saya?"

Setiap kita berkomunikasi secara sadar atau tidak kita mengerjakan hal seperti itu. Makanya ketika berjumpa pejabat, kiai, orang kaya (mungkin) & sebagai nya biasanya kita jadi canggung seyum - senyum sendiri seperti di paksakan dengan gestur yg absurd seperti menunduk, mengusapkan kedua telapak tangan, & sering mengeluarkan mengatakan maaf sebelum berbicara.

"Ehhee ehhee begini pak"
"Ehhee ehhee maaf pak"
Joni
Karyawan swasta yg sering curhat minta naik gaji

Kenapa mengatakan "maaf" & "ehhee ehhee" suka muncul ketika berhadapan dengan pejabat, orang kaya, kiai & sebagai nya, karena secara naluriah kita tahu orang yg kita hadapu lebih tinggi jabatan, kekuasaan atau uangnya.

Tetapi di media sosial, kita kehilangan itu semua karena kita tidak merasa terancam, mau membully sekejam apapun & kepada siapapun tidak masalah walaupun sekaranh ada UU ITE.

Jadi ketika di mediasosial kita cuma kenal hal - hal yg bersifat rasional & moralis (EGO & SuperEGO).

2. Jarak & kepalsuan

Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Media sosial menawarkan kepada kita jarak & privasi, kita dapat berbicara sebagai anonymous. Maka dari itu semua pertimbangan yg ada di atas itu tidak berlaku. Seperti di kaskus yg mulut, otak, & jari nya enteng benar menghujat orang, kardun lah, cebong lah, kampret lah, goblok & sebagainya. konsekuensi nya kita tidak dapat di cerca secara moral juga fisik. Ada orang yg sering ikut demo & dia lantang sekali mengeluarkan caci maki tetapi pada saat dia tertangkap di ajak ngobrol sama pak polisi mukanya berubah pucat pasi, air mata bercucuran kadang ingus keluar dari hidung & telinga nya, gigi menguning, juga ketika dia semangat mengumpat orang di sosi media tetapi pas di samperin hampir berak di celana.

3. Sudut pandang filsafat (mode mikir)

Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Dalam tradisi antropologi surga & neraka itu tidak pernah ada. Katanya Surga itu muncul karena ada ketertindasan oleh kekuasaan, dia merasa baik & benar & dia melihat sendiri bahwa ada orang jahat tetapi dia berkuasa & dia sadar tidak dapat melawan itu dunia nyata. Maka dia menggambarkan tuhan menciptakan surga untuk orang baik, tertindas & benar juga neraka yg di sediakan untuk orang yg berkuasa yg jahat.

Biasanya ide seperti ini di endorse oleh atheist, intinya penghujat itu adalah orang yg sering di hujat & gagal membela diri, akibat nya dia akan menghujat secara sporadis & kesempatan balas dendam sekarang di buka oleh media sosial. Jadi kalau anda melihat atau mengalami penghujatan santai saja jangan marah mungkin mereka di dunia aslinya / nyata jadi seperti itu karena kehidupan nya menderita.

1. Stress
2. Tertekan
3. Tertindas
4. Tidak punya pekerjaan
5. Selalu kandas dalam asmara
6. Muka pecah - pecah
7. Telinga bernanah
8. "Kampungan"
9. Sering di bully tetapi gagal membalas
10. Tidak punya pengatahuan lain selain kardun, cebong, kampret, selangkangan, & seterusnya.

Dalam kajian sosiologi maka yg harus di tolong itu bukan orang yg di bully, tetapi mereka yg membully. Jika anda melihat orang seperti ini kasihanilah dia karena dia sangat menderita, & kalau yg suka membully & menghujat dengan mengatakan kasar adalah anda sendiri, lihat lah cermin & introspeksi diri maka anda akan tahu bahwa anda berada dalam genggaman kenistaan.

4. Naluri

Budaya Santun & Bully di Sosial Media


Manusia itu bahagia kalau berada dalam kelompok besar. Misalkan ada 1 cebong berjumpa 1 kampret atau 1 viking & 1 the jak kemungkinan akbar mereka tidak akan ribut. Tapi kalau ada 1000 cebong & 1 kampret mungkin si kampret akan meninggal / nangis / di bully, begitupun sebalik nya. Kenapa dapat seperti itu? Karena kalau dia salam sebuah kelompok dia tidak merasa bertanggung jawab atas segala konsekuensi nya tetapi kelompok nya yg bertanggung jawab.

Wajah asli kita adalah kepalsuan, paras asli kita tertutup oleh banyak nya pertimbangan. Satu lawan satu dia tidak berani tetapi ketika dalam mode anonym atau dalam kelompok akan muncul arogansi mayoritas. Seperti di indonesia saat ini dimana muslim sebagai mayoritas mengintimidasi agama - agama lain.

Saya tekan kan ini menurut kajian psikogis bukan masalah agamanya.

5. Latah



Di media sosial kalau ada orang yg di bully maka orang lain akan merasa perlu untuk ikut membully juga. Misal ada orang yg menciptakan konten kemudian ada penghujat di kolom komentar maka pikiran utama kita adalah kita harap juga ikut menghujat. Jika kita masuk kedalam jajaran orang sepert ini sebenar nya kita belum merdeka pikiran nya.

Bukan hal buruk juga karena naluri kita memang begitu sudah sewajarnya, & hal ini bukan lah hal yg bijak & kita belum termasuk orang yg merdeka pikiran nya.



{thread_title}




Hari ini 01:14
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.