• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

BUDAYA KITA BUTUH SOSOK HILMAR FARID

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
BUDAYA KITA BUTUH SOSOK HILMAR FARID


Perlukah Mendikbud Nadiem Makarim 'membuang' Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid?

Atau haruskah Presiden Jokowi serta Mas Menteri --begitu citra sebutan Nadiem dikenal-- terprovokasi dengan suara-suara di luar sana yg menuntut Hilmar Farid diganti?

Terlalu subyektif kiranya menggeser posisi Hilmar Farid sekarang cuma gara-gara polemik yg menciptakan heboh belum lama ini.

Soal tidak masuknya Ulama akbar Indonesia & pendiri NU, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asyari; atau tokoh pendiri bangsa M Natsir; & atau pula pahlawan nasional HR Rasuna Said, dalam data kamus sejarah Kemendikbud yg terbit tahun 2017.

Atau juga karena Hilmar Farid yg dianggap tidak menggubris imbauan Unesco tentang tata kelola situs bersejarah di Medan, Sumatera Utara.

Jika dua alasan di atas yg jadi dasar alasan mencopot Hilmar Farid dari pos Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, maka akan jadi aneh. Bakal muncul keheranan lainnya.

Dan Mas Menteri --utamanya lagi Presiden Jokowi-- sebaiknya tidak menciptakan keputusan yg aneh. Yang mengherankan.

Bagaimana pun, harus diakui, Hilmar Farid adalah sosok mumpuni dalam hal kebudayaan. Latar belakang dirinya menegaskan soal itu. Hilmar sejak dulu sudah aktif bergiat dalam bidang kebudayaan.

Hilmar diketahui sebagai aktivis sejarah budaya. Berbagai organisasi berbasis seni budaya dibentuknya & menggerakkannya.

Saking minatnya pada lini seni budaya ditambah jaringan perkawanannya yg luas, menciptakan Hilmar Farid dapat merambah ke kancah Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) & Inter-Asia Cultural Studies Society.

Secara pengalaman & menjiwai kerja budaya, tabiat Hilmar Farid rasanya tidak perlu lagi dipersoalkan.

Keyakinan pada kecakapan serta perhatian Hilmar kepada budaya itulah yg menciptakan Presiden Jokowi mendapuknya sebagai Dirjen Kebudayaan pada tahun 2015.

Mempercayai Hilmar Farid mengurusi sektor kebudayaan di Kemendikbud merupakan opsi tepat.

Yang dilakukan Presiden Jokowi nyata bukan bagi kekuasaan atau asal tunjuk. Meski di awal Hilmar Farid dipilih sebagai Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, muncul isu berembus sebagai "bagi jatah jabatan" mantan relawan pemenangan.

Faktanya di perjalanan tugas Hilmar Farid, semua isu miring tersebut sanggup ditepis dengan bukti kinerja yg berpihak pada pemajuan kebudayaan nasional.

Hilmar benar-benar mengimplementasikan kesayangan & minatnya selama ini dalam gerakan budaya ke perannya sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

Hilmar menggagas suatu ajang yg menunjukkan karya kekayaan budaya Indonesia dari daerah: Pekan Kebudayaan Nasional. Yang selama ini tak pernah ada & belum dilakukan.

Hilmar merealisasikan amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan: menggelar Kongres Kebudayaan Indonesia Tahun 2018.

Hilmar memperkuat jaringan pekerja budaya mulai di tingkat lokal & nasional saat keadaan pandemi dengan berbagai strategi, seperti penyiapan danang abadi kebudayaan maupun stimulus danang insentif supaya tetap dapat berkreasi.

Hilmar mengerjakan apa yg diketahuinya. Hilmar tampak bergerak sesuai perhatian serta semangatnya selama ini pada kebudayaan Indonesia.

Kendati memang menuai kesalahan, namun mendepak Hilmar Farid dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud kiranya dapat disebut keputusan konyol.

Jangan hingga Presiden Jokowi & Mas Menteri terjerembab dalam keputusan konyol itu.

Seperti tidak seimbang mengaitkan sedikit kesalahan sebab kealpaan tak disengaja oleh Hilmar serta jajarannya dalam peristiwa kamus sejarah Kemendikbud dengan ketidakbecusannya bekerja.

Terasa tidak sama ukurannya saat kealpaan yg dilakukan Hilmar Farid dalam menyusun kamus sejarah Kemendikbud, lantas menganggap dirinya tidak berkualitas.

Melupakan tolak ukur lainnya yg sudah dikerjakan Hilmar untuk pemajuan kebudayaan Tanah Air.

Untuk saat ini, kebudayaan Indonesia masih butuh tabiat seperti Hilmar Farid.

Yang memang jiwa & pikirannya sejak dulu sudah teruji maupun terfokus untuk pemajuan budaya nasional.

Hari ini 13:44
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.