• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Bubarkan Organisasi Radikal Paramiliter FPI & Banser NU

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Spoiler for FPI & Banser:
Bubarkan Organisasi Radikal Paramiliter FPI & Banser NU




Semenjak kembali Rizieq Shihab ke Indonesia, semenjak itu pula informasi tentang massa Imam Front Pembela Islam (FPI) tersebut memenuhi pemberitaan. Kedatangannya disambut meriah para pendukungnya, khususnya dari kelompok FPI, PA 212, & GNPF Ulama. Sampai-hingga menyebabkan kerumunan hebat di bandara Soetta, Petamburan, & Megamendung Bogor. Kerumunan yg menyebabkan rusaknya beberapa fasilitas bandara, gangguan penerbangan, kemacetan tiada tara, hingga menambah pekerjaan petugas medis, TNI Polri, serta Satgas Covid-19.

Tak cuma itu, berbagai baliho dengan foto Rizieq Shihab pun bertebaran di mana-mana untuk menyambut kedatangan sang habib. Serupa dengan kerumunan massa pendukung Rizieq, baliho-baliho itu tak taat aturan. Namun tak ada yg berani menindak karena massa FPI yg banyak.

Tetapi, tiba-tiba ada video beredar yg memperlihatkan sekolompok orang berpakaian loreng-loreng mencopot salah satu baliho penyambutan Rizieq. Uniknya seolah tak merasa salah, pihak FPI malah marah ketika baliho itu diturunkan, & tak percaya kalau massa loreng-loreng adalah TNI. Sepertinya mereka pikir TNI tidak akan ikut turun tangan menindak perbuatan mereka yg seenaknya.

Namun kenyataan berkata lain. Sebab, pada 20 November 2020, Panglima Kodam (Pangdam) Jaya Mayor Jenderal Dudung Abdurrahman memastikan bahwa penurunan baliho foto Rizieq Shihab adalah perintahnya.

Dudung mengatakan ada aturan & pembayaran pajak yg semestinya ditaati pimpinan FPI kalau harap memasang baliho di Jakarta. Menurut Pangdam, pada awalnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta sudah menurunkan baliho. Namun baliho yg sama terpasang lagi. Kalau sudah tidak ada yg berani (menurunkan baliho), TNI yg berani," mengatakan Jenderal Bintang Dua itu.

Pangdam Dudung pun meminta supaya Rizieq Shihab & FPI tidak seenaknya memasang atribut di Jakarta. "Dia ngatur-ngatur sendiri seenaknya.

Sumber :Tempo [Nilai FPI Seenaknya, Pangdam Jaya Akui Perintahkan Turunkan Baliho Rizieq Shihab]

Pernyataan tegas dari Pangdam Jaya patut diacungi jempol. Apalagi dalam menjalankan kegiatannya, Rizieq Shihab serta FPI acap kali bersikap radikal memprovokasi serta memecah belah rakyat atas nama agama. Bahkan saking radikalnya, mau mengepung rumah janda tiga anak dengan 800 laskar cuma karena perempuan itu dianggap menghina Habib.

Tapi timbul pertanyaan di benak penulis. Mengapa kelompok FPI dengan berani berbuat semaunya menabrak aturan yg ada, serta tidak peduli bahwa perbuatan mereka sebenarnya sudah meresahkan masyarakat?

Ingat, meresahkan bukan cuma dalam pelanggaran baliho, tetapi juga dari kerumunan yg menyusahkan masyarakat lain, serta sifat radikal pimpinannya yg kerap kali memprovokasi umat & mendorong perbuatan kekerasan atas nama agama.

Mungkin saja keberanian FPI ada kaitannya dengan organisasi mereka yg bersifat paramiliter. Sebuah organisasi dengan kekuatan semi-militer yg struktur organisasi, taktik, pelatihan, subkultur, & fungsinya mirip dengan militer profesional. Semua ciri khas itu, diperparah pula lewat justifikasi perilaku yg menabrak aturan dengan dalih agama. Dengan logika tersebut, maka bagi organisasi paramiliter seperti FPI, tidak masalah melanggar aturan demi membela pemimpin yg mereka junjung.

Pada mulanya TNI memang diam saja, karena FPI, meski berstatus paramiliter, tetaplah organisasi masyarakat sipil. Tidak mungkin militer melawan sipil. Naamun, perbuatan FPI yg sudah kelewatan, massa yg banyak, sementara pihak yg mengkritik dianggap sebagai penghina ulama menyebabkan TNI marah. Kemarahan yg mengakibatkan Pangdam Jaya meminta FPI untuk dibubarkan.

Penulis pun setuju FPI sebagai ormas paramiliter yg meresahkan masyarakat & seenaknya melanggar aturan dibubarkan. Namun tak adil rasanya kalau cuma FPI yg dibubarkan. Masih ada satu lagi organisasi paramiliter yg serupa dengan FPI. Mereka suka berbuat seenaknya, tidak memperdulikan aturan, menciptakan masyarakat resah, serta serupa dengan FPI, berlindung di balik jubah agama. Yakni Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU).

Saat FPI menciptakan kerumunan menyambut Rizieq Shihab, massa Banser pun berkerumun dengan cara mengumpulkan 9.999 orang anggotanya di Banyumas dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Hampir 10 ribu anggota Banser itu mengerjakan longmarch memutari kota Purwokerto.

Pada 16 November 2020, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengaku acara tersebut sudah mengantongi izin Pemda Banyumas. Ia pun mengklaim pihaknya sudah menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker serta sedapat mungkin menjaga jarak saat menggelar acara.

Sumber :CNN Indonesia [Banser Klaim Dapat Izin Pemda Kumpulkan 9.999 Anggota]

Pertanyaannya, untuk apa Banser menggelar Hari Pahlawan dengan menciptakan kerumunan? Sungguh tak mungkin massa sebanyak itu sanggup benar-benar menerapkan protokol kesehatan seperti yg diklaim Ketum GP Ansor. Bukankah kerumunan cuma akan memunculkan klaster corona seperti yg dialami massa Rizieq kini? Bukankah mereka cuma akan menambah kerjaan tenaga kesehatan, Satgas Covid-19 & TNI Polri?

Mengapa mereka tidak menggelar acara saat pandemi secara virtual saja? Bahkan TNI saat memperingati HUT ke-75 nya mengerjakan upacara secara terbatas serta dilakukan secara virtual. Dengan cara menjaga jarak seperti itu saja, ada saja TNI yg terkena Covid-19. Apalagi ribuan massa Banser NU.

Namun, tentu akan ada yg protes karena meski Banser NU melanggar protokol kesehatan, namun mereka bukanlah kelompok radikal.

Guna menjawabnya, mari kita lihat pada bulan Agustus lalu. Saat itu ratusan anggota Banser di Pasuruan, Jawa Timur menggerebek rumah seseorang yg dituding sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pada mulanya ratusan banser meradang setelah Ketua PAC GP Ansor Rambang Gus Zainul menerima informasi ada seorang pemilik saya di Facebook yg menghina ulama NU Habib Luthfi bin Yahya.

Sumber :Pojok Satu [Banser Marah Ulama NU Dihina, Gambar Jokowi Dicoret-coret, Diberi Kumis]

Mereka mendatangi rumah orang yg diduga HTI itu untuk tabayun kepada penghina Habib Luthfi. Tapi untuk apa membawa ratusan massa? Logika saja, satu orang didatangi ratusan orang cuma untuk tabayun alias mencari kebenaran informasi. Bukankah itu sama saja dengan meneror? Mengapa Banser tidak menyerahkannya saja kasus itu kepada pihak yg berwajib? Kenapa seenaknya saja pamer kekuatan massa?

Terlihat jelas bahwa perilaku seenaknya yg menganggap melanggar aturan sebagai hal yg lumrah sudah dilakukan FPI & Banser NU karena sifat organisasi paramiliter mereka. Keduanya merasa paling benar, karena berlindung di balik agama. Bahkan tidak segan memanfaatkan kekuatan massa & kekerasan untuk mencapai keharapan. Sama saja dengan kelompok radikal.

Oleh karena itu, sebaiknya tak cuma organisasi radikal seperti HTI & Jamaah Islamiah yg dibubarkan, tetapi juga FPI & Banser NU, organisasi paramiliter yg menunjukkan sifat radikal.
Hari ini 14:12
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.