• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Brimob: Pasukan Siap Tempur Pertama Indonesia

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Brimob: Pasukan Siap Tempur Pertama Indonesia

Pasukan bersenjata lengkap perdana Republik Indonesia bukanlah Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada 1 Juli 1946, keluar Penetapan Pemerintah tahun 1946 No. 11/S.D. tentang Jawatan Kepolisian Negara yg bertanggung jawab langsung kepada perdana menteri. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai hari lahir Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Namun, bukan berarti sebelumnya Indonesia tidak punya polisi. Sebelum ada kepolisian negara, terdapat polisi-polisi didikan tentara pendudukan Jepang & pemerintah kolonial Belanda. Polisi-polisi didikan Jepang bahkan ada yg nekad mendukung Republik di hari-hari perdana kemerdekaan Indonesia.


Pada Agustus 1945, polisi didikan Jepang adalah satuan yg masih bersenjata untuk tujuan ketertiban. Padahal, di saat yg sama Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) malah memulangkan para prajuritnya ke kampung halamannya masing-masing.


Tanggal 19 Agustus 1045, PETA dibubarkan, termasuk senjatanya diambil. Tidak ada senjata yg diberikan, berarti tidak ada kekuatan militer yg diserahkan kepada Republik Indonesia, tulis Purbo Suwondo dalam PETA: Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (1996).


Beruntunglah pemuda-pemuda Indonesia masih ada yg sadar dengan kondisi zaman & jadi anggota Takubetsu Kaisatsutai alias Polisi Istimewa di Kota Surabaya. Ini adalah satuan polisi bersenjata semacam Brigade Mobil (Brimob) di masa sekarang.




Tengah hari 20 Agustus 1945, beberapa polisi berkebangsaan Indonesia yg bertugas di Surabaya berkumpul. Mereka di antaranya Ajun Inspektur I. Soetarjo, Komandan Polisi Surip, Komandan Polisi Abidin, Komandan Polisi Musa, & Inspektur Polisi I. M. Jassin. Mereka sepakat mendukung Republik. Bagi mereka, Republik tak akan eksis kalau aparat-aparat Jepang tak dilucuti senjata & wewenangnya. Maka mereka pun memutuskan untuk bergerak.


Para anggota Polisi Istimewa Surabaya itu sadar ada persenjataan berat kesatuan mereka di gudang. Senjata masih ada karena atasan-atasan mereka merasa masih punya wewenang menjaga ketertiban walau Jepang sudah menyerah kalah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Orang-orang Jepang & pemimpin markas kami tahan, sedangkan hubungan telepon ke luar kami putus. Setelah itu, kami membongkar gudang senjata & mengeluarkan semua perbekalan perang & amunisi, termasuk mobil lapis baja & truk, tulis M Jassin dalam Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kelahiran Polisi Indonesia (2011). Tindakan itu tentu sangat berisiko.

Di antara mereka ada yg bersemangat, tetapi tentu saja ada yg ragu untuk bikin gerakan. Saya mendukung pendirian Pak Jassin. Kita jangan kehilangan waktu, mengatakan Komandan Polisi Musa. Komandan polisi lain pun sependapat & siap bergerak. Bahkan, Soetarjo yg semula ragu pun akhirnya ikut & bilang, terserah, asal kita hati-hati.

Hari itu juga, 20 Agustus 1945, Jasin memimpin kawan-kawannya. Mereka mematikan jaringan telepon supaya orang-orang Jepang di markas polisi tak dapat berhubungan dengan aparat Jepang lainnya. Setelahnya, orang-orang Jepang yg jadi pimpinan atau pelatih kepolisian pun mereka tahan tanpa kesulitan. Orang-orang Jepang itu tak melawan sedikit pun ketika digiring.

Bagaimana pun orang-orang Jepang ini sadar diri: negaranya sudah kalah. Setelah itu, mereka membongkar gudang senjata yg terletak di belakang markas Polisi Istimewa itu, ujar Jasin. Semua kendaraan yg mereka rebut ditulisi: "Poelisi Repoeblik Indonesia", & tak lupa diberi bendera merah putih.

Esoknya, 21 Agustus 1945, pukul tujuh pagi, polisi-polisi yg sukses merebut senjata & menahan orang-orang Jepang itu mengerjakan apel pagi. Mereka menyatakan akan berdiri di belakang pemerintah Republik Indonesia yg baru terbentuk. Satu jam kemudian, mereka juga menyatakan satuannya bukan lagi Polisi Istimewa, melainkan Polisi Republik Indonesia. Pasukan pimpinan M. Jasin itu memosisikan diri sebagai satuan tempur dengan persenjataan lengkap.

Di hari para bekas Polisi Istimewa itu menyatakan diri sebagai Polisi Republik Indonesia, Republik Indonesia masih belum punya tentara. Badan Keamanan Rakyat (BKR) yg dianggap sebagai cikal bakal tentara nasional baru diputuskan pendiriannya pada 22 Agustus 1945. Satu hari setelah proklamasi Jasin & kawan-kawan.







Setelah BKR, baru muncul Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945. Jasin & kawan-kawan tak bergabung dengan TKR, mereka tetap jadi polisi. Sementara banyak satuan TKR yg kekurangan senjata, punggawa Jasin tetap jadi punggawa yg senjatanya paling lengkap. Pasukan ini terlibat dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Omong kosong kalau ada yg mengaku di bulan Agustus 1945 memiliki kesatuan bersenjata. Yang ada pada waktu itu cuma pasukan-pasukan Polisi Istimewa pimpinan M. Jasin, mengatakan Jenderal Sudarto yg merupakan mantan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) & pelaku Pertempuran 10 November.

Lebih lanjut, Sudarto menyebut, Tanpa peran pasukan-pasukan Polisi Istimewa di bawah M. Jasin tak ada peristiwa November 1945.

Selain di front 10 November, punggawa polisi pimpinan Jasin yg kuat itu juga berani menghadapi warlord macam Mayor Sabaruddin. Nama ini adalah perwira yg berani menculik Jenderal Mayor Muhammad ketika rapat bersama Jenderal Sudirman di Yogyakarta. Dia sangat disegani oleh orang-orang Republik.




Pasukan yg kelak bernama Brimob ini setelah 1946 ikut serta dalam revolusi kemerdekaan Indonesia melawan tentara Belanda. Bahkan, mereka terjun dalam operasi militer memberantas pemberontakan & operasi Trikora perebutan Irian Barat. Jasin belakangan jadi Jenderal Polisi, Pahlawan Nasional, & ditahbiskan pula sebagai Bapak Brigade Mobil.

Selain Jasin, anggota Brimob yg jadi Pahlawan adalah Karel Satsuit Tubunyang gugur oleh berondongan punggawa G30S ketika menjaga rumah Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena.

==========

Sumber :


Bagi yg berminat mengikuti berita, politik, sejarah maupun informasi seputar militer dunia dapat bergabung dengan forum militer dunia di forum militer dunia kaskus

Forum Militer Dunia
#ForumKaskus via @kaskus Hari ini 00:28
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.